Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 26.5


__ADS_3

"Kalian tidak perlu khawatir lagi karena kami sudah menganggap Ai sebagai salah satu anggota keluarga. Dan kabar baiknya ada dia akan melakukan operasi pemisahan alat kelamin sehingga orang-orang tidak punya alasan lagi untuk mengucilkannya." Orang pertama yang berbicara adalah Ayah.


Dia memecahkan keheningan di antara semua orang yang masih belum bisa lepas dari bayangan masa lalu Ai.


"Mereka.. bukankah mereka terlalu kejam untuk seorang anak kecil?" Bisik Safira merasakan sakit.


Kedua tangannya berulangkali menghapus jejak air mata yang tidak mau berhenti keluar. Mungkin dia sekarang telah menjadi seorang Ibu sehingga mudah bersedih atau menangis bila menyangkut anak-anaknya.


Apalagi Safira tahu betul bila Ai adalah anak yang rapuh sehingga ketika mendengar semua kesakitan yang dia dapatkan dari orang-orang itu dia menjadi lebih marah lagi.


Dia ingin..ingin sekali bertemu dengan orang-orang yang telah menganiaya putri tidak bersalahnya.


"Apa Pak Daman mau memberi tahu siapa mereka kepada kami?" Ali bertanya ringan tapi ekspresi dan nada suaranya menunjukkan bahwa dia saat ini sangat serius.


Pak Daman mengangguk berulangkali. Dia memberitahu Ali siapa nama mereka dan dimana mereka tinggal sekarang.


"Urusan bisnis aku dengar Pak Daman juga menyebutkannya. Apakah ini dalam bentuk perusahaan atau usaha kecil?" Kali ini Ayah yang bertanya tapi tidak ada yang merasa aneh dengan pertanyaan ini.


"Tuan kami punya, Tuan. Ini dalam bentuk perusahaan X di kota D. Sekarang perusahaan itu sudah diambil alih oleh saudara Tuan kami yang tertua." Jawab Pak Daman cepat.

__ADS_1


Ayah menganggukkan kepalanya mengerti. Tangan tuanya yang masih sehat dan bugar mengelus puncak kepala Safira sebelum mengatakan.


"Putraku, 1 minggu ke depan temani lah anak-anak dan istrimu di rumah. Masalah perusahaan kamu tidak perlu pusing karena Ayah yang akan mengurusnya sampai 1 minggu ke depan. Hitung-hitung Ayah bersilaturahmi dengan teman-teman dan bawahan Ayah di perusahaan. Lagipula, Ayah juga akhir-akhir ini cukup bosan di rumah dan sesekali ingin menyibukkan diri di kantor." Kata Ayah dengan suara yang sangat ringan namun efeknya untuk mereka tidak main-main.


Mereka semua tahu arti dibalik kata-kata Ayah dan mereka tentu saja tidak mempermasalahkannya. Hanya saja Ayah sudah tua sehingga Ali tidak mau melibatkan Ayah.


"Ayah, masalah ini biarkan aku saja yang mengurusnya. Ayah harus beristirahat di rumah dan menikmati waktu-waktu yang terlewati dulu bersama Bunda."


Tapi Ayah jelas tidak mau.


"Nak, aku tidak tahan melihat cucuku terus di sakiti. Membayangkannya dikucilkan oleh anak-anak di sekolah saja membuat Ayah sangat sedih apalagi saat membayangkan dia menjadi incaran keserakahan orang-orang jahat itu? Ayah tidak bisa, Nak. Orang-orang itu harus diberikan pelajaran yang pantas. Jadi, kali ini biarkan aku yang mengurus mereka adapun kamu fokuslah di rumah bersama keluarga. Benar, gunakan juga waktu ini untuk mengurus Dinda agar dia tidak berulah lagi di dalam rumah tangga kalian ke depannya."


Ayah..


Dia adalah laki-laki kuat yang terus berusaha membuat dirinya terlihat baik di depan Safira, membuat dirinya menjadi sosok yang kuat agar Safira tidak merasa kehilangan Abi lagi.


"Terimakasih." Bisiknya diiringi isak tangis."Terimakasih untuk semuanya, Ayah."


Ayah lagi-lagi mengusap puncak kepala Safira untuk menunjukkan bahwa dia juga merasa hangat.

__ADS_1


"Ini adalah tugas Ayah."


Bunda dan Ali tidak bisa menahan senyum mereka. Ada rasa haru sekaligus hangat di dalam hati masing-masing. Di dalam hati mereka berkata bahwa inilah yang seharusnya.. keluarga mereka memang seharusnya seperti ini.


Pak Daman memang tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan tapi setidaknya dia tahu bahwa Ayah dan Ali ingin membalaskan rasa sakit Ai kepada orang-orang serakah itu. Melalui cara apa Pak tidak tahu tapi yang penting mereka sangat bersyukur Ai disayangi oleh banyak orang dan diperlakukan dengan sangat baik oleh mereka.


"Ayah tidak perlu khawatir. Kami akan membawa masalah Ai ke Komnas perlindungan anak agar Dinda mendapatkan hukuman yang setimpal karena perbuatannya." Mereka sudah berbicara dengan kuasa hukum keluarga mereka.


Juga ada rekaman cctv ketika Dinda merendahkan dan menghasut Ai di ruang guru. Tidak hanya itu saja, kedua orang tua Mega juga berjanji bila Mega akan menjadi saksi kunci permasalahan ini. Bahkan guru yang pernah menguping pembicaraan Ai dan Dinda di ruang guru mengajukan diri menjadi saksi.


Seharusnya kasus ini siap mereka laporkan.


"Apa kalian juga mengenal Dinda?" Ini adalah suara Bu Santi.


Setelah sekian lama diam di akhirnya bersuara. Sontak mereka semua segera menatap Bu Santi.


Bu Santi menjadi lebih canggung tapi dia berusaha bersikap berani seperti suaminya.


"Apa Bu Santi mengenal Dinda?" Tanya Safira balik bertanya, dia berpikir sejenak sebelum bertanya lagi."Tapi..Dinda yang kalian maksud itu siapa?"

__ADS_1


Mungkin saja Dinda yang mereka bicarakan dengan Dinda yang Bu Santi kenal adalah dua orang berbeda.


__ADS_2