Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Akhirnya Aku Menemukan Satrio


__ADS_3

Aku terus mengikuti Om Heru diam-diam, meskipun agak ribet sih membawa 1 tas berisi baju-baju, tapi nggak apa-apa, yang penting aku harus tahu Om Heru mau kemana dan ada apa. Aku ngerasa dia menyembunyikan sesuatu selama ini, masa iyaa sih Om Heru nggak tahu keberadaan Satrio.


Lalu Om Heru berhenti disebuah rumah sakit yang besar dikota Bandung ini. Dia memarkirkan mobilnya.


Lalu aku ikut berhenti sebelum masuk gerbang rumah sakit.


"Pak, turun sini aja yaa, ini uangnya."ucap ku pada Abang ojek


"Iyaa terimakasih Neng, tunggu kembali nya."ucapnya


"Nggak usah Pak ambil aja."ucapku


Kebetulan tadi saat pamit di Kafe, aku sekalian mengambil gaji 1 bulan aku pada Pak Beni, karena belum sempat aku ambil saat itu, terlalu banyak kejadian, jadi nggak kepikiran.


Sekarang aku mengikuti Om Heru dari belakang tanpa dia tahu.


Hingga tiba di sebuah ruangan. Aku masih bingung sih, siapa yang sakit, ah masa iya Satrio. Tapi aku harus cari tahu.


Lalu Om Heru masuk ke ruangan dan aku menguping dari luar ruangan.


"Sat, gimana sudah enakan belum?."kata Om Heru


"Aku masih lemas Om, habis dikemoterafi rasanya sakit."ucapnya


"Suara itu mirip Satrio, aku harus pastikan itu siapa."ucapku pelan


Lalu aku membuka pintu pelan, ku lihat Om Heru berbicara dengan seseorang yang sedang berbaring.

__ADS_1


"Om, gimana kabar Nadia?."tanyanya


"Nadia baik, kamu nggak usah banyak mikirin yang nggak-nggak yaa, kamu harus sembuh."ucap Om Heru


Lalu aku perlahan mendekati mereka.


Ternyata itu Satrio.


"Satrio....."ucapku penuh haru


Lalu mereka menengok ke arah ku.


"Na...Nadia, kamu koq disini?."tanya Satrio


Lalu aku melempar tasku dan menghampiri Satrio, aku memeluk Satrio erat.


"Kamu koq jahat sama aku? kamu koq ninggalin aku? , aku kangen banget sama kamu."ucapku meneteskan air mata dan terus memeluk nya erat


"Nggak apa-apa Om, biar aja."ucap Satrio


"Yaudah Om tinggal kalian dulu yaa, kalian ngobrol dulu aja, Nad tolong jaga Satrio, Satrio masih lemas."ucap Om Heru


"Iyaa Om."ucapku lalu melepaskan pelukan dan duduk di kursi dekat Satrio, namun aku tetap menggenggam tangan nya.


"Nad, koq nangis, hei perempuan baik nggak boleh sedih."ucapnya lemas


Satrio agak berbeda, tubuh nya agak kurus, rambut nya agak menipis dan wajah nya pucat sekali.

__ADS_1


"Nggak, aku nggak mau berhenti nangis, kamu harus jelasin dulu ke aku, kamu sakit apa? koq kamu ada disini dan nggak bilang-bilang aku."ucapku seperti anak kecil


"Hei, aku nggak apa-apa, aku sehat koq, koq kamu jadi cengeng sih, mana Nadia yang aku kenal. Yang bawel dan kuat."ucapnya lalu memencet hidung ku


"Nggak, kamu pasti bohong, sekarang bilang sama aku, kamu kemana aja dan kamu sakit apa? please Sat, please kasih tahu."ucapku


"Iyaa sayang ku, kalau kamu memaksa aku akan menceritakan padamu, tapi kamu harus janji nggak boleh nangis lagi, janji yaa."ucapnya


Aku hanya mengangguk dan makin erat menggenggam tangan nya.


"Sebenarnya sudah lama aku menderita penyakit leukemia, itu sebabnya aku sering mengurung diri dikamar, karena tubuhku sejujurnya makin lama makin lemas. Makanya waktu kejadian saat kita ditempat olahraga dan waktu aku ditembak ditangan, aku pingsan. Sebetulnya aku pingsan bukan karena takut darah, tapi aku pingsan karena penyakit ini, sekarang aku sudah masuk stadium 3 Nad, makanya aku sudah harus rutin untuk kemoterapi dan mungkin kamu tahu bisa saja usiaku tidak lama lagi dan bisa saja aku nggak akan seganteng dulu lagi, aku takut, takut kamu akan sedih. Karena dihidupku paling penting adalah membuat kamu bahagia, makanya aku sengaja merahasiakan ini dari kamu, waktu itu sebenarnya aku hanya pindah rumah sakit ke Bandung, tapi surat yang aku tulis adalah surat yang jauh-jauh hari sudah disiapkan untuk mu, makanya aku titipkan ke Mang Ujang, aku ingin kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi itu alasan aku menghilang."ucap nya tersenyum sepanjang bercerita, aku menyadari dia menahan kesedihan yang teramat dalam


"Kamu bodoh, aku nggak akan ninggalin kamu walaupun kamu sakit atau berubah jelek, aku cinta sama kamu, maaf aku baru bilang kamu. Aku nyesel nggak jujur waktu itu, kamu tahu nggak sih Sat, selama kamu pergi aku sedih dan kangen banget sama kamu. Sekarang jangan pergi lagi, aku yakin kamu bisa sembuh, jangan bilang lagi ke aku kalau usiamu nggak lama lagi, kamu bukan Tuhan yang tahu kapan meninggal, aku yakin kamu akan hidup bersamaku dan bersama anak-anak kita nanti."ucapku menangis


"Hei, tadi katanya nggak mau nangis, koq sekarang malah nangis sih, sudah kamu nggak boleh nangisin aku, aku kan masih ada di sini, iyaa aku janji akan menjaga kamu sepanjang sisa umurku. Maafin aku yaa Nadia Maharani sayang, maafin aku udah nggak kasih tahu ke kamu, aku pikir kamu akan bahagia sama Nathan, bukan sama aku."ucapnya sedih


"Tuhkan kamu ngomong apa sih Sat, kamu pasti sembuh koq, aku janji akan merawat kamu, kalau perlu besok kita nikah, aku nggak mau nikah sama siapapun kecuali sama kamu. Jangan-jangan semua orang tahu keberadaan kamu yaa? kecuali aku?."tanyaku


"Iyaa, Om Heru, Nathan dan Mang Ujang yang tahu bahwa aku sakit, sebetulnya sebelum kita ke Bogor saat itu, aku sudah menceritakan penyakit dan rencana ku untuk dirawat disini pada Nathan dan Om Heru. Bahkan aku yang memaksa Nathan untuk menikah dengan mu, karena aku tahu kamu mencintai Nathan, jadi aku pikir hanya dengan Nathan kamu bisa bahagia, karena aku takut nggak bisa bikin kamu bahagia."ucapnya


"Sat, kamu yaa, kenapa sih nggak jujur sama aku? kenapa terus menerus berkorban buat aku ? aku itu cinta sama kamu, bukan sama orang lain, pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus tanggung jawab atas kesedihan aku, aku mau kita nikah, aku janji bakal jadi istri yang baik untuk mu."ucapku lalu mencium tangan Satrio


"Nad, jangan kamu begitu, usiaku belum tentu lama, lebih baik kamu mencari laki-laki lain yang bisa menjaga dan membuat mu bahagia."ucapnya bersedih


"Oh begitu, kamu mau aku nikah sama orang lain? nggak mungkin dan aku nggak akan mau, kalau kamu maksa, lebih baik kita nggak usah ketemu lagi."ucapku mengancam


"Ja... jangan Nad, yaudah aku mau kamu yang temani aku, aku mau kamu jadi istri aku dan menjadi Ibu dari anak-anak ku, aku mencintaimu Nadia sangat mencintaimu, jangan tinggalin aku, sebenarnya aku nggak bisa jika tidak melihat mu, aku ingin kamu menemani ku selalu."ucapnya berlinang air mata

__ADS_1


Lalu aku pun senang sekali dan langsung mencium pipinya. Dia pun membalas mencium pipi ku.


"Iyaa aku mau, pokoknya mulai hari ini aku yang rawat kamu."ucapku tersenyum meski berlinang air mata


__ADS_2