Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 7.11)


__ADS_3

"Tidak ada yang tahu masalah ini selain kita bertiga, kecuali.." Mega tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Dia tidak berani mengatakannya tapi Ai dan Asri tahu siapa yang Mega maksud.


Tadi siang mereka bertemu dengan Ustad Vano dan Ustad Azam beserta santri-santri didikan mereka di depan taman bersantai yang biasanya santriwati gunakan untuk berdiskusi atau belajar.


Di sana mereka berbicara sebentar, menjelaskan kepada Ustad Vano dan Ustad Azam alasan mengapa mereka berteduh di tempat itu.


Ini hanya percakapan singkat, mereka bertiga juga tidak meminta bantuan kepada Ustad Vano dan Ustad Azam agar bisa memberikan mereka jalan menghubungi kedua orang tua di rumah.


"Aku tahu kalian meragukan mereka tapi pikirkanlah baik-baik tidak ada siapapun yang mengetahui masalah ini dan bisa membantu kita selain mereka berdua." Melihat kebisuan kedua temannya, Asri memutuskan untuk bersuara.


Mereka benar-benar tidak punya ide selain ini. Juga, mereka tidak bisa menampik bahwa pengaruh kedua Ustad itu sungguh baik di pondok pesantren sehingga 'orang-orang' yang Ustazah maksud tadi tiada lain adalah Ustad Vano dan Ustad Azam.


"Oh, memangnya kenapa jika itu mereka? Kita hanya perlu berterimakasih'kan untuk kebaikan tulus 'mereka'." Kata Mega acuh tak acuh.


Entah itu senang atau sedih, tidak ada yang tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini.


Ai tersenyum kecil,"Mega benar, jika ada kesempatan kita akan mengucapkan terimakasih kepada mereka."


"Tentu saja kita harus menghargai kebaikan orang lain.." Dia merasa suasana di sini agak tidak benar.


Bukankah seharusnya mereka berdua bahagia mendapatkan perhatian dari Ustad Vano dan Ustad Azam?. Batin Asri bingung.

__ADS_1


Bukannya bahagia dia malah merasa kedua temannya ini tiba-tiba berubah menjadi melankolis.


Tapi dia hanya memendamnya karena dia tahu bahwa itu adalah privasi Ai dan Mega. Untuk saat ini pertemanan mereka masih belum pantas untuk bisa berbagi masalah pribadi.


Lalu mereka tidak berbicara lagi. Ruangan yang mereka tuju memang tidak jauh tapi entah mengapa rasanya agak jauh saat menatapnya.


Mega mengalihkan pandangannya menatap ke bangunan tinggi jauh di sana. Itu adalah sekolah santri laki-laki, tempat terlarang untuk santri perempuan. Mereka tidak akan pernah menginjakkan kaki seumur hidup di sana.


Mega tersenyum tipis, bayang-bayang masa lalu seolah mengetuk hatinya agar jangan pernah melambungkan harapan lagi meskipun dia tahu bahwa hatinya masih sama untuk laki-laki beku itu.


Bila memang dia yang melakukannya maka itu bukan berarti dia melakukannya karena dia menyukaiku.


Hah..


Dia, yah apa yang dia katakan memang benar. Mereka sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa-ah, lebih tepatnya hubungan mereka dulu itu hanya sekedar gelar dibibir tapi tidak melibatkan perasaan.


Hanya Mega satu-satunya orang yang bertingkah seperti mereka adalah pasangan yang sangat harmonis dan saling mencintai. Padahal faktanya?


Faktanya cinta yang dia miliki bertepuk sebelah tangan, bukankah itu menyedihkan?


Sementara itu Ai juga tidak ingin dibayang-bayangi dalam harapan semu yang ujung-ujungnya pasti membuatnya sakit.


Dia tersenyum kecil, menenggelamkan rasa sakit yang menusuk hatinya jatuh sedalam-dalamnya. Dia harus sadar dan dia harus menyadarinya bahwa,

__ADS_1


Dia sudah bersama gadis yang cantik dan disukai semua orang. Kebaikan ini hanyalah murni karena dia memang orang yang baik, dia bisa membantu siapapun yang dia inginkan dan aku tidak seharusnya terjebak dalam perasaan semu ini..


Ai, berhentilah, sungguh!


Jangan siksa hati ini lagi dan berhentilah menjadi keras kepala. Lihatlah baik-baik jika dia sudah memiliki gadis lain dimatanya!


Kamu hanyalah orang asing, kamu hanyalah orang asing yang kebetulan mengenalnya dulu. Tapi baginya, kamu adalah orang asing yang tidak pantas menjadi bagian dari ingatannya.


Jadi, Ai berhentilah. Jangan membuat dirimu sakit lagi. Batinnya berbisik, membuat dadanya kian sesak dan menyakitkan.


Ini sungguh tidak nyaman, mencintai seseorang yang sudah memiliki orang lain dihatinya itu sangat tidak nyaman.


Namun dia tidak bisa menyalahkan siapapun. Jika ada maka orang yang paling pantas disalahkan adalah dirinya sendiri, orang yang terlalu berharap memiliki seseorang yang terlahir sempurna.


Hah, ironisnya dia menyukai seseorang hanya karena kenangan singkat dari masa anak-anak yang menggelikan.


"Aku ingin segera melaksanakan kehidupan tertutup di sini." Katanya tidak punya pilihan lain.


Dengan begini dia bisa melupakan Ustad Vano secara perlahan-lahan.


"Aku juga. Aku sudah tidak sabar melaksanakan kehidupan tertutup." Kata Mega di sampingnya.


1 tahun tanpa melihatnya, dia yakin akan segera melupakannya.

__ADS_1


"Ya Allah...aku gak mau melaksanakan kehidupan tertutup! 1 tahun itu terlalu lama!" Di sini, satu-satunya orang yang menolak tidak lain dan tidak bukan adalah Asri.


__ADS_2