
"bagaimana? apa sudah kau bawa motor itu ke bengkel?" tanya Shin pada sang sopir.
"sudah tuan."
"aku tidak mau tau, malam ini harus sudah selesai di perbaiki agar besok pagi dia sudah bisa memakainya."
"baik tuan, akan saya desak tukang bengkel tersebut."
Shin menyenderkan bahu di jok mobil. Ia benar benar lelah hari ini. Lelah fisiknya serta hatinya melihat Norin bermesraan dengan Doni.
"f u c k i n s h i t, kenapa otak ini di penuhi oleh wanita itu terus menerus?" umpat Shin kesal
"bawa aku ke bar." titah Shin tiba tiba.
"tapi tuan, kita sedang menuju mansion," jawab sang sopir.
"jangan membantah, apa mau aku pecat?"
"ba baik tuan."
Kemudian, sang sopir berputar arah menuju tempat yang tuannya inginkan.
"makasih ya a Doni udah mau ngantar saya pulang dan traktirannya. terus makasih juga atas bantuannya tentang masalah tadi, maaf lho di repotin," ucap Norin ketika mereka sudah kembali dari rumah haji Imron.
Doni tersenyum." sama sama Rin. Sama sekali ngga di repotin Rin, kalau aku pengennya sih nganter serta traktir makan kamu tiap hari Rin," goda Doni.
Norin tersenyum." kalau tiap hari traktir aku makan bisa habis nanti duit a Doni."
"ha ha ha....., duit masih bisa di cari Rin, tapi kesempatan untuk bisa bersamamu nya itu yang tidak bisa di cari. alias limited edition."
Norin tersenyum lebar mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Doni.
"Ya udah a, udah jam setengah sebelas malam. cepet pulang gih."
"wah, kamu ngusir saya nih?"
"bukan gitu a, takut di grebek warga ha ha," ucap Norin lalu tertawa.
"asik tuh di grebeg bisa langsung di nikahkan,"canda Doni.
Candaan Doni membuat Norin terdiam. Doni yang menyadari ucapannya adalah salah jadi merasa tidak enak hati.
"aku cuma becanda aja Rin, lagi pula apa enaknya nikah grebeg. enak sih tapi malunya itu ha ha."
Norin hanya tersenyum tipis.
"yaudah kalau gitu Rin, aku pulang dulu ya?"
__ADS_1
"iya hati hati a."
"sip, see you tomorrow and sweet dream." Doni melajukan motornya meninggalkan komplek perumahan Norin.
Norin masuk ke dalam rumahnya setelah kepergian Doni. Ia ingin segera beranjak tidur karena hari ini benar benar melelahkan tubuhnya.
Malam menjelang pagi. Dengan malas ia menyeret kedua kakinya beranjak dari tempat tidur. Rasa lelah kemarin masih terasa di tubuhnya. Lelah bekerja di pabrik, lelah pula atas permasalahan Elis tadi malam. Norin mengintip di balik tirai jendela, nampak sekumpulan ibu ibu sedang membeli sayuran di tukang sayur. Entah sejak kapan tukang sayur tersebut selalu mangkal di depan rumahnya. entah karena Norin selama ini pergi kerja masih dalam keadaan gelap sehingga ia baru mengetahui jika tukang sayur tersebut memang mangkal di depan rumahnya selama ini.
Norin keluar dari rumahnya menuju tukang sayur untuk membeli bahan bahan yang mau di masak pagi ini. Terlihat ada Bu Wati serta dua ibu komplek lainnya. Namun, pagi ini ia tidak menemukan Bu Retno atau Bu Nuning di tempat tersebut.
"selamat pagi ibu ibu dan mang Udin?" sapa Norin lalu tersenyum. Kemudian Norin langsung memilih bahan bahan yang hendak ia beli.
"mba Norin udah tau gosip di komplek ini belum?" tanya salah satu pembeli di tukang sayur tersebut.
"gosip apa ya Bu?"
"lah, ya jelas tau lah jeng Meri. Orang mba Norin ini juga ke ikutsertaan."
Norin mengerutkan dahinya."ke ikutsertaan apa maksudnya Bu?"
"ya itu ke ikut sertaan melabrak si tua keladi semakin tua semakin menjadi jadi itu."
"duh, Bu Iyem jangan bikin mba Norin jadi bingung mencerna ucapan Bu Iyem yang belibet itu. bicara ke intinya aja Bu," ujar Bu Wati.
"he he...itu maksud saya melabrak si haji Imron tadi malam."
"emang serius ya mba Norin si Elis bunting sama haji Imron?" tanya Bu Meri dengan wajah serius.
"ini kayaknya doa orang orang yang sakit hati sama mulut besar Bu Retno yang sering kali bikin sakit hati orang. saya sendiri aja masih sakit hati sama dia gara gara anak saya di hina muka kayak topeng monyet ngga bakal laku. eh, ngga nyangka anaknya yang dia bangga banggakan malah bunting sama aki aki beristri pula," ujar Bu meri.
"akhirnya ya Bu Meri, Bu Retno bakal punya mantu aki aki terus istri kedua lagi ha ha," ucap Bu Iyem seolah olah puas sekali melihat musibah yang terjadi pada wanita yang sering kali menyakiti hati tetangga oleh lisannya.
"ya gitu bu, makannya kita harus bisa jaga lisan agar jangan sampai lisan kita mengucapkan kata kata yang dapat menyakiti perasaan orang lain. Seperti yang di katakan Bu Meri tadi, siapa tau orang yang kita sakiti oleh lisan kita membuat orang tersebut merasa sakit hati lalu mendoakan yang jelek jelek pada kita," ucap Bu Wati.
"benar itu Bu Wati."
Sementara Norin hanya tersenyum saja menyimak pembicaraan mereka. Setelah itu, Norin ijin pamit setelah selesai memilih bahan apa saja yang di inginkan nya.
Kemudian Norin bergegas mandi. Setelah mandi ia berpakaian serapi mungkin karena hari ini akan bertemu dengan orang penting di tempatnya bekerja.
"permisi.....permisi."
Norin menghentikan kegiatan memoles wajahnya dengan bedak tipis mendengar seseorang memanggil di luar pintu pagar rumahnya.
"siapa itu?"
kemudian ia keluar dari kamarnya lalu mengintip di balik tirai jendela kaca. Nampak seorang pria berdiri menghadap ke arah rumahnya serta sebuah mobil pick up.
__ADS_1
"kurir apa itu?" Norin bingung perasaan ia tidak pernah memesan apa pun baik online atau pun offline. Namun, karena penasaran Norin membuka pintu rumahnya lalu menghampiri pria yang tersebut.
pria tersebut tersenyum pada wanita yang sedang berjalan ke arahnya.
"permisi mba, apa ini dengan rumahnya Bu Norin ?" tanya pria tersebut.
"iya betul saya sendiri. Ada apa ya mas?"
"saya mau mengantarkan motor mba."
"motor?" Norin menoleh ke atas mobil pick up nampak sebuah motor yang sangat ia kenal.
Ia mengucek matanya seolah olah seperti mimpi apa yang sudah ia lihat di atas mobil tersebut.
"saya turunkan dulu ya mba." Sang kurir mulai menurunkan motor tersebut lalu membawanya ke hadapan Norin.
"ya Allah ini kan motorku!" ucap Norin dengan mata berbinar binar.
"motor ini siapa pengirimnya mas?" tanya Norin penasaran.
"di sini tertulis atas nama bapak Tono, mba."
"Tono, bukannya Tono itu sopir pribadinya Shin? apa jangan jangan selama ini Shin yang udah menyimpan motorku?" Norin bermonolog.
Namun kemudian, Norin tak mau memikirkan hak tersebut yang penting motornya sudah kembali ke rumahnya.
"terima kasih ya mas," ucap Norin lalu tersenyum.
"sama sama mba, saya permisi dulu."
Norin menuntun motornya hingga depan rumahnya. Ia langsung mengecek motor tersebut. Bensin pull, oli terlihat baru serta tampilan bodi motornya bersih dan mengkilat seperti motor yang di rawat setiap hari.
Senyum pun mengembang di bibirnya." hari ini aku berangkat kerjanya naik motor deh."
Norin bergegas masuk ke rumahnya bersiap siap untuk berangkat kerja. Dengan langkah semangat ia keluar dari rumahnya lalu menaiki motor yang sudah ia rindukan.
Norin melajukan motor tersebut menuju arah tempat kerjanya. Sepanjang jalan senyum terus mengembang di bibirnya hingga sampai di pintu gerbang pabrik.
"tumben Rin, bawa motor lagi?" tanya Nendi satpam galak yang sudah berubah jadi baik padanya.
"iya nih Bu, baru di benerin. Aku mau masuk dulu ya Bu, mari." Norin melajukan motornya kembali sampai di parkiran.
Kedatangannya bertepatan dengan Doni yang yang tengah memarkirkan mogenya.
"motor nya udah bener ya Rin?" sapa Doni sekaligus bertanya.
"iya nih, udah bener," jawab norin lalu tersenyum.
__ADS_1
"yah, aku ngga bisa ngantar kamu pulang lagi dong," ucap Doni dengan wajah di tekuk.
Norin tertawa lebar begitu pula dengan Doni. Dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka di dalam mobil dengan tangan mengepal.