Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 24.5


__ADS_3

Bukan hanya wanita glamor itu menjadi malu namun juga dia menyesali perbuatannya yang terlalu impulsif. Bila dia tahu kejadiannya akan seperti ini maka lebih baik dia tidak usah datang dan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja.


Wanita glamor itu bertindak cepat memutar kepalanya mencari solusi. Dalam keadaan panik dan cemas dia akhirnya menemukan sebuah ide.


"Maafkan atas kata-kata kasar ku tadi, tapi ini bukan soal ekonomi, Nyonya jangan salah paham. Ini.. lihatlah keadaan putriku." Dia mendorong Mega ke depan Safira dan Ali.


Penampilannya sangat berantakan, mulai dari rambut sampai seragam sekolahnya yang kotor, di tambah lagi wajahnya yang memerah karena terlalu lama menangis. Seharusnya ini cukup menarik simpati Safira dan Ali.


"Dia seperti ini karena anak Anda, Nyonya. Lalu apa kami pantas berdiam diri melihat anak kami diperlakukan salah oleh orang lain?"


Safira tersenyum dingin.


"Pantas atau tidaknya, kita akan segera mengetahuinya sekarang." Katanya seraya menatap wakil kepala sekolah yang sedari tadi diam tidak punya kesempatan untuk berbicara.


Akhirnya, dia punya kesempatan untuk mengeluarkan suara!


"Bu, maaf sebelumnya. Bukankah semua kelas di sekolah ini mempunyai cctv? Terakhir kali aku masuk ke dalam kelas Ai aku sempat melihatnya."


Wanita glamor itu langsung ketakutan, bahkan suaminya mengepalkan tangannya kuat ini menyeret istrinya pulang agar tidak banyak bicara.


"Ini.. Nyonya, seharusnya tidak perlu." Kata suami wanita glamor itu sambil meredam amarahnya.


Dia tahu bila semua ini dimulai oleh putrinya sendiri.

__ADS_1


"Bukankah kamu juga ingin tahu apakah putrimu pantas mendapatkan semua ini atau tidak? Sama seperti istrimu, aku juga penasaran dengan kejadian yang sebenarnya di kelas. Di samping itu istrimu masih kukuh menuduh anakku yang menyakitinya, jadi sudah seharusnya kita melihat kejadian yang sebenarnya melewati rekaman cctv." Ucap Safira dengan sorot mata yang tegas dan serius.


Kedua orang tua Mega menjadi gusar dan cemas. Mereka ingin melarang tapi Safira sejak awal pertemuan mereka memberikan kesan wanita yang tidak mudah atasi.


"Jadi, bagaimana, Bu? Apa kami bisa mendapatkan rekaman cctv di kelas mereka?" Tanya Safira kepada wakil kepala sekolah yang belum sempat menyuarakan jawabannya tadi.


Wakil kepala sekolah duduk tegak,"Ya, sekolah kami memang memfasilitasi setiap kelas dengan beberapa cctv untuk menjaga terjadinya hal-hal yang tidak tidak diinginkan. Tunggu sebentar, saya akan menghubungi staf sekolah kami agar segera memberikan akses untuk melihat rekaman cctv." Katanya seraya menekan tombol telepon sekolah, mengintruksikan kata-kata singkat sebelum mematikan sambungan.


"Ibu-ibu dan Bapak-bapak dimohon bersabar sebentar lagi." Katanya kepada mereka semua.


Safira dan Ali hanya menganggukkan kepalanya ringan. Mereka tidak panik juga tidak cemas karena kebenaran akan terungkap sebentar lagi. Lagipula mereka mengenal dengan baik anak seperti apa Ai. Mereka tahu bila Ai tidak akan pernah melakukan perbuatan yang tidak masuk akal sekalipun terdesak.


"Bunda kenapa ke sini? Adik-adik Ai siapa yang jaga di rumah?" Tanya Ai tampak jauh lebih baik dari sebelumnya.


Ai menggelengkan kepalanya lemah.


"Bunda, Ayah," Panggilnya dengan suara yang amat sangat kecil.


Kedua mata persik yang mulai menampilkan keindahannya mengerjap berkali-kali dengan riak air di dalamnya.


"Jangan menangis, bukankah anak Ayah kuat?" Ali merendahkan kepalanya, mengusap cairan hangat nan bening yang bersiap keluar dari sarangnya.


Padahal sebelum Safira dan Ali datang Ai masih bisa menahan semuanya, tapi ketika melihat wajah penuh kasih mereka sekarang entah kenapa semua rasa sesak di dalam dadanya berdesakan ingin keluar.

__ADS_1


"Ai.. tidak pernah menyakiti siapapun. Ai selalu patuh di dalam kelas dan mendengarkan pelajaran guru dengan serius. Ai.. tidak berbohong.." Katanya sambil menahan suara isak tangisnya.


Hati Safira menjadi lebih sakit lagi. Ai memang lemah tapi dia jarang menangis. Dia adalah tipe anak yang lebih suka memendamnya semua keluh kesahnya dalam diam.


Jadi, melihatnya sampai menangis seperti ini Safira tahu bila rasa sakit ini tidak bisa ditanggung lebih lama oleh Ai.


"Anak Bunda adalah anak yang cerdas dan baik. Jadi, Bunda percaya bila Ai tidak akan nakal di sekolah, mendengarkan guru, dan selalu bersikap baik dengan teman-teman yang lain. Ai adalah anak yang seperti itu dan Bunda percaya." Safira membawa Ai masuk ke dalam dekapannya, mengelus puncaknya sayang untuk menenangkan hati Ai yang sedang bersedih.


Ali di samping tidak bisa menahan perasaan manis bercampur leganya. Istri dan buah hatinya berpelukan hangat, menenangkan sang buah hati agar tidak merasa sedih lagi.


Sementara itu Rina duduk gelisah di samping Papanya. Dia ingin mengatakan sesuatu kepada Safira dan Ali tapi dia malu mendekati mereka. Dia pikir Ali dan Safira harus tahu tentang pembulian yang Mega lakukan kepada Ai kemarin. Namun dia tidak percaya diri mendekati mereka karena Papanya saja sangat malu melihat kedua orang tua Ai. Jangankan Papanya yang bekerja sebagai pegawai biasa-biasa saja, kedua orang tua Mega yang awalnya sangat sombong dan percaya diri tampak tidak bisa berkutik di depan kedua orang tua Ai. Jelas, dia memahami bila kedua orang tua Ai lebih tinggi sosialnya daripada kedua orang tua Mega.


Tok


Tok


Tok


"Bu, saya sudah membawanya." Dari luar ada dua orang laki-laki dengan seragam khusus staf sekolah sambil membawa sebuah laptop yang masih menyala.


Bersambung..


Assalamu'alaikum, semuanya. Absen yuk kalian dari mana aja, siapa tahu di sini ada yang satu daerah sama saya. Nanti kalau ada yang komen dari daerah yang sama dengan saya, besok say akan up 1 bab langsung deh😂

__ADS_1


Lanjut?


__ADS_2