
Sepanjang jalan pulang mereka bertiga tampak linglung dan masih belum bisa melepaskan diri dari kabar dadakan yang baru saja mereka dengar tadi.
Ai tidak pernah mendengar tentang budaya pondok pesantren Abu Hurairah ini karena sebetulnya dia tidak terlalu memikirkannya. Dia hanya fokus mendengarkan petuah yang Ayah katakan karena dia dulu juga lulusan pondok pesantren meskipun bukan Abu Hurairah. Jadi Ai pikir semua peraturan pondok sama saja dan dia tidak terlalu khawatir.
Kemudian Mega juga turut berbeda jauh dari Ai. Jika Ai punya Ayah yang membantunya dengan pengalaman selama tinggal di pondok maka Mega hanya bisa mengandalkan keengganannya untuk sekolah di sini tanpa perduli dengan peraturan pondok pesantren. Dia hanya berpikir untuk tetap diam dan menjalankan semuanya dengan lapang dada.
Lalu terakhir Asri. Dia adalah anak desa dari keluarga sederhana. Dia bersyukur bisa sekolah di sini dan sudah berjanji untuk mengikuti semua peraturan pondok pesantren.
Tapi diantara semua situasi ini mereka bertiga tidak pernah berpikir bahwa akan menerima kejutan yang begitu besar.
"Kehidupan tertutup? Isolasi selama 1 tahun?" Gumam Asri kebingungan bercampur terkejut.
Dia merebahkan dirinya di atas ranjang, melihat langit-langit kamarnya dengan tatapan rumit.
"Aku tidak pernah mendengar aturan ini sebelumnya." Kata Mega tidak kalah kosongnya dengan Asri.
Dia kini mendudukkan dirinya di atas lantai guna menyerap sensasi dingin nan sejuk untuk menghilangkan gerah di badannya.
"Apa ada yang tahu maksud dari mengisolasi diri selama 1 tahun?" Tanya Asri merasa kata-kata ini lebih cocok digunakan untuk tahanan daripada mereka.
Ai menggelengkan kepalanya tidak yakin,"Kita akan tahu setelah Ustazah datang memberikan bimbingan."
"Yah, kita juga bisa membicarakannya dengan teman-teman yang lain. Mungkin saja mereka tahu dan bisa berbagi informasi dengan kita." Kata Mega tidak mau ambil pusing.
Dia mengesampingkan kebingungan ini ke belakang dan mulai memfokuskan dirinya untuk beristirahat. Sedangkan Asri dilanda pikiran tentang kata-kata mencurigakan 'kehidupan tertutup' dan 'isolasi selama 1 tahun'.
Entah mengapa dia tiba-tiba merasakan sebuah firasat buruk.
Sementara itu, Ai mulai memejamkan matanya terlihat seperti sedang tertidur. Entah tidak ada yang tahu apa yang ada dipikirannya saat ini karena setelah pertemuan tadi dia menjadi lebih irit lagi berbicara.
Sampai akhirnya teman-teman kamar mereka kembali untuk sholat berjamaah Zuhur. Mereka memanfaatkan itu untuk bertanya mengenai 'budaya' pondok pesantren mereka yang cukup mengejutkan. Tapi sayangnya tidak ada yang tahu kecuali mereka mendengar bisikan-bisikan dari senior bahwa kehidupan tertutup adalah ujian yang sangat penting untuk santri baru sehingga mereka harus berperilaku baik selama diisolasi.
"Assalamualaikum?" Seorang gadis lembut mengetuk pintu kamar Fatimah RA.
Beberapa orang yang mendengar segera menghentikan kegiatan mereka dan melihat ke arah pintu masuk.
"Waalaikumussalam." Jawab mereka tanpa perlu disuruh.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum lembut, dia adalah tipe senior yang sangat kalem dan tidak terlalu suka berbicara.
"Apa di sini ada yang bernama em.." Dia lalu mengangkat kertas putih yang terselip di dalam buku tebalnya dan mulai membaca nama-nama asing.
"Asri Rahmawati Dewi, Mega Asafa, dan Aishi Humaira?" Suara lembutnya memanggil, tidak lantang tapi juga tidak terlalu lemah.
Ini cukup menyenangkan untuk didengar. Sejujurnya ini tidak mengejutkan karena para penghafal Al-Qur'an mempunyai suara yang sangat bagus dan menyenangkan untuk didengar karena mereka menjaga suara dengan hati-hati, apalagi para penghafal Al-Qur'an mempunyai kebiasaan memakan makanan halal yang disukai oleh Rasulullah Saw.
Jadi tidak heran laki-laki maupun perempuan di pondok pesantren mempunyai suara yang lebih lembut dan menenangkan.
Ai menggantung kain mukenanya di tembok samping ranjangnya. Setelah itu dia secara alami berjalan mendekati gadis asing itu dengan senyuman lembut diwajahnya.
"Maaf Kak, nama-nama yang Kakak sebutkan tadi adalah nama kami bertiga." Katanya sambil menunjuk Asri dan Mega yang masih betah duduk di atas ranjang.
Gadis itu tersenyum. Memasukkan kembali lembar kertas itu ke dalam buku tebalnya yang menumpuk di lengan kanan.
Sejujurnya ini tampak agak berat tapi gadis itu terlihat biasa-biasa saja.
"Kalian bertiga dipanggil oleh Ustazah Nur di kantor staf asrama putri. Mengenai makan siang Ustazah bilang kalian bisa makan di sana jadi kalian tidak perlu ke kantin untuk bergabung dengan santri yang lain." Gadis itu menyampaikan pesan dari Ustazah Nur dengan suara yang ringan.
Padahal semuanya sama saja karena makanan di kantor staf juga dibuat dari dapur umum.
"Apa Kakak tahu kenapa kami bertiga dipanggil?" Mega berjalan mendekati Ai bersama Asri.
Gadis itu tersenyum seraya menggelengkan kepalanya,"Maaf, dek. Ustazah Nur tidak mengatakannya kepadaku."
Ai mengangguk mengerti. Dia tidak takut ataupun khawatir karena dia yakin tidak pernah membuat kesalahan lagi kecuali kasus 'berbohong' tadi pagi di sawah.
Dia hanya sedikit gugup.
Mereka mengucapkan beberapa kata sopan kepada gadis itu sebelum pergi ke kantor staf asrama putri. Teman-teman sekamarnya yang masih cemburu berteriak ringan meminta mereka bertiga untuk membawa makanan sisa pulang ke kamar jika mereka tidak bisa menghabiskannya.
Ai jelas ingin tertawa karena menurutnya makanan di kantin nanti tidak punya perbedaan dengan yang ada di kantin. Tapi ya sudahlah, dia hanya mengatakan inshaa Allah untuk membalas teman-teman sekamarnya.
"Assalamualaikum, Ustazah?" Ai, Mega, dan Asri mengetuk pintu masuk kantor dengan sopan agar tidak mengganggu para staf kantor yang sedang beristirahat.
Salah satu Ustazah mengangkat kepalanya, itu bukan Ustazah Nur dan mereka tidak mengenalnya. Ustazah itu berdiri dan mempersilakan mereka duduk di sofa.
__ADS_1
"Apa kalian bertiga yang Ustazah Nur cari?" Dia bertanya ramah.
Mereka bertiga kompak mengangguk.
"Itu adalah kami, Ustazah." Kata Asri jinak.
"Ustazah Nur masih punya urusan dan akan kembali beberapa menit lagi. Tadi sebelum pergi dia berpesan agar kalian terlebih dahulu makan siang sambil menunggu kedatangannya." Kata Ustazah itu sambil membuka tudung saji yang ada di atas meja.
"Terimakasih, Ustazah." Ucap Ai lembut yang diikuti oleh Asri dan Mega.
Ustazah itu tersenyum, mengucapkan beberapa kata ramah sebelum kembali ke kursinya untuk melanjutkan pekerjaan.
Setelah Ustazah pergi, mereka diam-diam menatap hidangan yang ada di atas meja. Di sana sudah ada 3 piring nasi putih dengan porsi normal, 1 piring sambal Suir ayam, 1 mangkok sayur bening, dan 1 piring perkedel jagung. Makanan ini sama seperti menu makan malam mereka semalam.
"Jadi, bagian mana yang harus kita sisakan untuk mereka?" Tanya Asri ingin tertawa.
"Cukup piringnya." Jawab Mega tidak serius.
"Aku tidak melakukannya dengan sengaja, Ustazah. Aku difitnah!"
Perhatian mereka bertiga tiba-tiba ditarik oleh suara seseorang yang sudah tidak asing. Bagi Asri dan Mega suara ini cukup menjengkelkan, masih membekas di dalam ingatan mereka.
"Eh, bukankah itu Sari?" Kata Asri sambil melihat meja Ustazah yang paling ujung.
Di sana ada Sari, gadis yang sudah menghilang sejak pagi dan tidak pernah ikut menerima hukuman ataupun datang ke sekolah.
Bersambung..
Assalamualaikum, semuanya. Seharusnya ini up tadi malam tapi NovelToon lagi-lagi gangguan dan saya terpaksa membuat bab baru.
Oh ya, saya ucapkan terimakasih untuk semua dukungan reader entah itu melalui komentar, koin, dan poin. Alhamdulillah, terimakasih dan saya sangat bersyukur untuk semua penghargaan reader.
Ini..
Yah, saya gak tahu sampai kapan NovelToon akan gangguan tapi saya harap kalian tidak salah paham karena sebenarnya saya tetap lanjut kok. Cuma NovelToon nya aja yang eror sehingga saya menghilang dari kemarin.
Hem, kalau ini berhasil up maka chapter selanjutnya 4 atau 5 jam lagi🍁
__ADS_1