Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 10.7)


__ADS_3

Tiara menatap lembaran kertas putih yang ada di tangannya. Lembaran ini dia ambil beberapa bulan lalu dari laci milik dokter yang bekerja di pondok pesantren ini. Adapun alasan mengapa dan tentang apa lembaran ini Tiara tidak berani mengatakannya, mungkin untuk beberapa waktu.


"Apa yang kamu baca itu?" Almaira ikut duduk di atas ranjang Tiara.


Setelah pulang dari sawah tadi dia merasa agak puas dan lega karena masalah Ai akhirnya diselesaikan. Dia yakin, sikap Ai sangat lugu sehingga dia pasti akan menepati janjinya menjauhi Ustad Vano.


Tiara tidak panik, dia pura-pura melipat lembaran itu menjadi dua dan menaruhnya ke dalam kitab. Setelah itu dia menyelipkan kitab yang dia pegang ini ke tengah-tengah kitab yang lain.


"Bukan hal yang penting." Tiara menggeser duduknya menyamping agar bisa berbicara leluasa dengan Almaira.


"Ngomong-ngomong bagaimana pembicaraan mu dengan Aishi? Apakah dia mau mendengarkan mu atau tidak?" Tiara mengalihkan pembicaraan.


Teringat akan reaksi kosong Ai tadi Almaira langsung merespon cepat. Dia tampak puas karena wajah cantiknya yang berseri kini menampilkan senyuman manis yang menenangkan jiwa, yah, mungkin.


"Dia tidak sesulit yang Sari dan Frida katakan. Setelah memberikannya beberapa kata pengertian Aishi tidak mengatakan satupun kata bantahan. Malah, dia langsung setuju untuk menjauhi Ustad Vano di masa depan nanti."


Tiara tersenyum samar,"Lalu apakah kamu mempercayainya?"

__ADS_1


Almaira mengangkat bahunya,"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang tapi dari reaksinya aku bisa mempercayainya untuk saat ini."


"Almaira, mungkin..aku salah mengatakan ini tapi menurutku dia tidak selugu yang terlihat." Tiara berkata tidak enak.


Sasa yang sibuk membaca kitab tidak bisa tidak tertarik ketika mendengarnya. Dia menghentikan bacaannya, menutup kitab yang dia baca dan menaruhnya dengan rapi di atas meja belajar.


"Benarkah? Tidak apa-apa, katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Ini juga demi kebaikan ku dengan Ustad Vano." Almaira sangat tertarik.


Tiara berdecak tidak puas di dalam hatinya, tapi wajah dan perilakunya tidak menunjukkan perubahan apapun. Dia masih Tiara yang lembut dan ramah.


"Itu.. apakah kamu ingat 9 bulan yang lalu aku dan Frida mendatangi Aishi di sawah untuk memperingatinya agar jangan mengganggu Ustad Vano?"


"Aku ingat, memangnya ada apa dengan itu?"


Tiara mengusap wajahnya tampak ragu,"Hari itu kami sudah jelas-jelas memperingati Aishi agar tidak mendekati Ustad Vano lagi karena kamu sudah dijodohkan dengannya. Seperti yang kamu bilang tadi, dia terlihat cukup lugu dan kami percaya jika Aishi tidak akan mendekati Ustad Vano lagi. Tapi dugaan kami salah karena siangnya dia kembali membuat ulah lagi untuk mengganggu Ustad Vano. Dia membuat masalah agar Ustad Vano memberikannya sebuah hukuman dan benar saja, dia dihukum membersihkan lantai dua masjid setelah makan malam. Namun, ketika akan menjalankan hukumannya dia sangat berani menciptakan sandiwara di depan Ustad Vano. Dia berpura-pura jatuh sebelum masuk ke dalam masjid dan berpura-pura pingsan ketika di lantai dua. Kau tahu orang yang harus bersusah payah mengurusnya adalah Ustad Vano. Dia membopong Aishi ke ruang medis dan menjaganya semalaman padahal subuh nya Ustad Vano harus segera berangkat keluar kota bersama yang lain."


Almaira mengerutkan keningnya mulai kesal ketika mendengarkan cerita Tiara. Memang benar dia mendengar rumor besok paginya jika Ustad Vano dan Ai mempunyai kedekatan karena insiden malam itu. Almaira tidak bisa menerimanya dan ingin menemui Ai untuk berbicara secara langsung. Akan tetapi dia harus memperhatikan citranya di pondok pesantren agar tidak mempengaruhi Umi dan Kyai, di samping itu Ai masih sakit sehingga Almaira memutuskan untuk menunda pertemuan mereka sampai akhirnya dia datang menemui Ai tadi siang ketika mendengar kabar Ustad Vano sebentar lagi akan pulang ke pondok pesantren karena telah berhasil menyelesaikan tugas lebih cepat.

__ADS_1


"Kenapa dia sangat suka membuat masalah? Jika dia tahu sedang sakit lalu kenapa memaksakan diri untuk bekerja?" Almaira sangat kesal sesuai dengan harapan Tiara.


Tiara tersenyum miring, dia mengusap wajahnya untuk untuk menutupi kegembiraan yang terbentuk diwajahnya.


"Awalnya aku pikir dia juga benar-benar sakit dan tidak mengada-ada. Tapi siapa yang sangka itu hanya pura-pura saja." Tiara mendesah tidak berdaya.


"Bagaimana kamu tahu bila dia hanya berpura-pura pingsan?" Almaira tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Malam itu di ruang medis aku dan yang lain ikut menjaganya di luar. Kami sangat khawatir ketika mendengar dia pingsan dan masih belum bangun meskipun sudah diinfus. Aku khawatir terjadi sesuatu kepadanya jadi aku memutuskan untuk mengintip dari balik jendela ruang medis ingin melihat kondisinya. Dan apakah kamu tahu apa yang aku lihat di dalam?" Dia memancing reaksi kemarahan Almaira lagi.


Almaira sudah tidak sabar, ada kemarahan di dalam hatinya yang meluap-luap ingin dikeluarkan.


"Apa yang kamu lihat di dalam? Katakanlah cepat, aku ingin tahu apa yang kamu lihat di dalam ruang medis!"


Tiara meraih tangan Almaira,"Dia tidak pingsan, dia nyatanya berbaring santai di atas ranjang sambil tertawa cekikikan. Bukankah itu aneh?"


Bersambung..

__ADS_1


Lanjut lagi?


Kalau iya saya nulis dari sekarang up nya nanti pukul 19.01?


__ADS_2