
Flash Back On
Sudah 3 bulan Vano tidak bertemu Ai dan dia sangat merindukannya. Dia rindu ingin bermain dengan Ai tapi tidak bisa karena mereka berada di kota yang berbeda.
Vano sebenarnya tidak ingin sekolah di luar kota tapi Papa dan Mama bersikeras memaksanya pergi. Mereka bilang sekolah ini sangat bagus dan berakreditasi A, akreditasi yang hanya bisa dimasuki oleh anak-anak cerdas dan berprestasi.
Vano memang menyukainya karena sekolah ini nyaman, fasilitas bagus, dan dia juga tidak kekurangan teman. Akan tetapi dibandingkan dengan Ai, dia lebih suka bermain dengan Ai daripada harus sekolah di sini. Entah sejak kapan dia menumbuhkan ketergantungannya kepada Ai, gadis cantik nan pendiam yang membutuhkan perlindungannya.
Hari ini Vano baru saja menyelesaikan mid semesternya di sekolah. Buru-buru dia pulang ke rumah untuk mengajak Papa dan Mama pulang ke kota asal mereka karena sekolah memberikan libur.
Vano sangat senang. Di tengah perjalanan pulang dia menyempatkan diri turun di pusat perbelanjaan bersama Mama dan Papa untuk membelikan Ai beberapa mainan. Di dalam toko dia tidak bisa berhenti tersenyum karena membayangkan reaksi manis Ai ketika menerima hadiah darinya.
Namun rencana Vano terpaksa harus ditunda karena di jalan sangat macet dan kedua orang tuanya juga lelah setelah melewati perjalanan jauh. Maka jadilah Vano mencari Ai ke rumahnya setelah matahari terbit kembali.
Dia sangat bersemangat hari itu ingin segera bertemu dengan Ai. Akan tetapi lagi-lagi dia harus menelan kenyataan pahit karena Ai tidak ada di rumah. Hanya ada Ayah Ali dan Bunda Safira di rumah bersama adik-adik Ai.
Mereka bilang Ai pergi ke rumah Aunty Annisa di luar kota dan akan pulang 1 minggu kemudian.
__ADS_1
Vano sangat kecewa. Dia kembali ke rumah dengan wajah cemberut. Selama 1 minggu itu dia bolak-balik ke rumah Ai dengan harapan Ai sudah pulang. Tapi harapannya tidak pernah terwujud karena Ai masih belum kembali.
Alhasil 1 minggu yang dia nanti-nantikan berubah menjadi kekecewaan. Vano kembali keluar kota karena masa liburnya sudah selesai. Hadiah yang ia siapkan untuk Ai terpaksa harus disimpan dulu karena ia ingin memberikannya secara langsung ketika bertemu dengan Ai nanti.
Kekecewaan Vano terus berlanjut di waktu-waktu berikutnya. Entah itu libur panjang atau tidak, Vano selalu berusaha pulang ke kota asalnya untuk bertemu dengan Ai tapi selalu nihil yang dia dapatkan.
Vano adalah anak yang cerdas. Dia tahu ada sesuatu yang salah dengan hal ini karena setiap kali dia mencari Ai, Ayah Ali selalu mengatakan jika Ai pergi ke rumah ini dan ini
Dan ini terus berulang-ulang sampai akhirnya Vano lulus SMP. Dia sudah lulus SMP dan berencana ingin melanjutkan sekolah di kota asalnya agar bisa bertemu dengan Ai.
Entahlah, dia sudah tidak bisa menebak kenapa dia begitu bergantung kepada Ai. Dia hanya tahu bahwa Ai hanya bisa bermain dengannya dan dia tidak rela Ai mempunyai teman baru, membuat Ai melupakannya. Vano sangat kesal ketika memikirkannya.
Kesal bercampur marah, Vano akhirnya mengatakan kecurigaannya kepada Ayah Ali.
"Apa Om membenci ku?"
"Tidak, kenapa aku harus membencimu?" Ayah Ali menjawab dengan santai dan berwibawa.
__ADS_1
"Jika benar, lalu kenapa Om tidak pernah mengizinkan ku bertemu dengan Ai? Setiap kali datang ke sini aku tidak pernah bisa bertemu dengannya. Jika ini hanya terjadi satu atau dua kali, mungkin itu bukanlah keberuntungan ku tapi ini selalu terjadi setiap kali aku datang mencarinya. Katakan dengan jujur, Om, apa selama ini kalian sengaja menyembunyikan Ai dariku?"
Padahal dia saat itu masih remaja dan masih belum berpengalaman tentang dunia. Akan tetapi tatapan tajam yang ia bawa membawa kesan serius yang tidak dimiliki oleh anak seusianya.
"Kamu akhirnya tahu. Memang benar aku sengaja menjauhkan Ai darimu."
Vano tidak mengerti,"Akan aneh jika aku tidak mengetahuinya. Tapi apa alasan Om menjauhkan Ai dariku? Apa aku pernah membuat kesalahan?"
Ayah Ali tersenyum simpul.
"Aku akan menjawabnya setelah kamu menjawab pertanyaan ku dulu. Katakan dengan jujur siapa Ai untuk kamu?"
"Ai..dia adalah temanku." Vano cukup kebingungan.
Dia ragu Ai adalah teman baginya karena jauh di dalam hatinya dia menganggap Ai lebih dari itu.
"Benarkah, apa kamu yakin?"
__ADS_1
Vano linglung, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Ayah Ali. Tidak, lebih tepatnya Vano ragu menjawab pertanyaan Ayah Ali.
"Jika memang hanya sebatas teman lalu kenapa kamu sangat ingin bertemu dengannya? Bersikeras setiap tahun datang mencarinya meskipun kamu akan selalu berakhir dalam kekecewaan. Katakan, apakah ini normal di antara teman?"