Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 13.7)


__ADS_3

"Ai, kamu kenapa?" Asri tiba-tiba sudah ada di samping Ai.


Ai segera keluar dari pikirannya, dia tersenyum tipis dan kembali menyibukkan dirinya dengan piring-piring yang ada di atas meja.


"Aku bersyukur makanan yang kita masak dimakan dengan baik oleh mereka semua." Jawab Ai berbohong.


Asri juga senang ketika melihat banyak piring-piring yang bersih. Para santri sepertinya sangat menikmati makanan yang mereka buat- tentunya dengan campur tangan Ibu-ibu di dapur.


Namun, dia adalah seorang pengamat di sini. Ekspresi di wajah Ai tidak menunjukkan suka cita yang ia katakan tadi. Ai terlihat murung dan ada tatapan sendu di dalam matanya.


"Ai, istirahatlah jika kamu lelah. Sisanya serahkan kepadaku dan Mega, kami pasti bisa menyelesaikannya dengan cepat." Pinta Asri setelah memikirkannya beberapa saat.


Ai tersenyum kecil,"Aku tidak apa-apa, Asri. Lihat baik-baik, apa wajah ku terlihat pucat?"


Asri menjawab dengan serius.


"Ya, kamu terlihat sangat pucat." Dia sungguh tidak berbohong.


Ai terdiam, masih dengan senyum yang sama dia kembali bekerja lagi. Mengumpulkan piring-piring kotor sebelum membawanya pergi.


"Sebenarnya aku sedikit lelah," Ai akhirnya mengakui. Meskipun tidak sepenuhnya karena Asri tahu ada yang coba Ai sembunyikan.


Tapi tidak apa-apa, ini lebih baik daripada terus diam.


"Jadi aku akan menyerahkan urusan di sini kepada kalian sedangkan aku akan berada di dalam untuk mulai mencuci piring dan gelas yang kotor." Katanya membuat keputusan.


Dia ingin sendirian.


"Ai tidak apa-apa, biarkan kami mengurus semuanya dan kamu istirahatlah di dalam." Asri tidak berharap Ai masih keras kepala.


Ai lebih keras kepala darinya,"Tidak, aku baik-baik saja. Aku masih bisa mencuci piring di dalam dan kalian bisa mengurus sisanya di sini." Ai menolak dengan tegas.

__ADS_1


Dia seperti bukan Ai yang Asri kenal. Dia seperti Ai yang terlalu lelah menahan sebuah beban, terlalu lelah dipojokkan oleh sesuatu yang tidak bisa Asri tebak.


Ini adalah Ai, gadis cantik nan lembut itu kini terlihat putus asa dan jauh lebih rapuh dari yang Asri lihat.


Ada apa ini?


Asri tidak bisa tidak bertanya. Bukankah semuanya baik-baik saja sebelumnya?


Bukankah wajah cantik itu masih bersemu merah sebelumnya?


Tapi kenapa, dalam waktu yang sangat singkat wajah itu menjadi pucat pasi tanpa ada sinar merah muda lagi si sana. Matanya yang berkedip secantik buah persik saat ini terlihat sendu dan linglung.


Dia begitu rapuh, sangat rapuh.


Asri menghela nafas panjang. Dia mengalah, menggeser tempatnya berdiri agar Ai bisa lewat. Asri pikir ia sepertinya sedang ingin sendirian dan tidak ingin diganggu. Jadi, dia harus memberikan Ai ruang untuk menenangkan diri dan memikirkan masalahnya.


"Baiklah, tapi jika kamu tidak nyaman tolong jangan memaksa diri lagi untuk bekerja."


"Ai rindu Ayah dan Bunda." Bisiknya merindu.


Ia sangat ingin mendengar suaranya, suara orang-orang yang telah menerima apa adanya Ai. Dia merindukan orang-orang yang dengan sepenuh hati dan suka rela membesarkannya. Memposisikan dirinya sejajar dengan adik-adiknya, Ai sungguh merindukan orang-orang hebat itu. Dia rindu kedua orang tuanya.


Sementara itu Asri menggantikan tugas Ai membersihkan meja yang baru setengah Ai bersihkan. Tangan Asri sangat cepat dan dalam waktu yang hanya beberapa menit saja, dia sudah menyelesaikan meja itu.


Dia lalu membawa piring-piring kotor itu masuk ke dalam dapur umum. Di depan wastafel Ai mencuci piring dengan wajah tertunduk dan membisu.


Asri menghela nafas panjang. Dia menaruh piring-piring kotor itu sebelum keluar lagi. Ia lihat jika meja-meja di stan santri perempuan hampir semuanya bersih kecuali meja yang sedang Mega tangani.


"Aku harus membersihkan bagian santri laki-laki." Katanya sambil mengayunkan kedua tangannya bersiap untuk memulai ronde kedua.


Dia memang berpikir jika hukuman ini tidak begitu sulit tapi cukup banyak menyita waktu dan tenaga mereka bertiga. Mereka bahkan kelelahan di hari pertama menjalankan sebuah hukuman.

__ADS_1


"Ini baru hari pertama tapi rasanya sudah sangat melelahkan." Gumamnya berbicara dengan diri sendiri sambil membawa langkahnya masuk ke dalam wilayah stan santri laki-laki.


"Oh..." Dia langsung berhenti melangkah ketika berpapasan dengan Kevin- laki-laki yang ia sukai tapi nyatanya sudah memiliki tunangan.


"Maaf, Kak." Asri segera menundukkan kepalanya.


Kevin mengangguk ringan. Dia kembali menundukkan kepalanya untuk melanjutkan kembali acara beres-beresnya.


"Biar aku saja yang membereskannya, Kak. Ini adalah tugasku dengan kedua sahabatku yang lain. Kakak lebih baik segera pergi ke sekolah saja karena sebentar lagi pengajar akan masuk." Ucap Asri canggung.


Dia berdiri di meja yang agak jauh dari Kevin, sambil menunduk kedua tangannya mulai bekerja mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja.


"Aku sudah tidak sekolah lagi." Balas Kevin dengan nada ringannya.


"Ini adalah tahun terakhirku di pondok pesantren dan aku hanya tinggal menunggu kelulusan ku di sini. Jadi, aku tidak akan sekolah sampai beberapa minggu ke depan." Sambung Kevin sesekali melirik Asri di seberang sana.


Asri tertegun, tangannya sempat membeku karena tertangkap tidak siap mendengar berita dadakan ini. Namun ini hanya beberapa detik saja karena setelahnya ia kembali bisa mengontrol sikap maupun tindakannya.


Alangkah baiknya jika aku dan dia tidak pernah bertemu lagi. Batin Asri menguatkan diri.


"Selamat untuk, Kakak. Aku harap Kakak lulus dengan nilai memuaskan. Akan tetapi meskipun Kakak tidak pergi ke sekolah lagi aku tidak bisa membiarkan Kakak membantu kami di sini. Ini adalah hukuman yang harus aku dan kedua sahabatku terima karena telah melanggar peraturan pondok pesantren." Asri masih mencoba mengusir Kevin dari sini.


Karena bila Kevin di sini fokus Asri akan terganggu, di samping itu Asri ingin segera melupakan laki-laki ini sehingga dia tidak ingin melihatnya ada di sini.


"Berbicara tentang pelanggaran yang kalian lakukan, apakah surat kemarin memang kamu buat untuk santri laki-laki itu atau," Dia secara terang-terangan menatap Asri.


"...surat itu sebenarnya kamu buat untuk orang lain?"


Bersambung...


Lagi?

__ADS_1


__ADS_2