Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 14.8)


__ADS_3

"Ai, kamu tahu sendiri bukan jika Ustad Vano tidak akan se-"


"Oh, kamu ingin mengembalikan barang ini? Maka kembalikan sendiri. Aku dan Asri hanya menyampaikan amanah dari Ustad Vano, setelah itu sisanya kamu yang akan mengurusnya sendiri." Kata Mega agak kesal.


Dia menaruh paper bag berwarna hitam yang Asri bawa ke atas ranjang Ai. Dengan begini Ai tidak punya cara selain menerima pemberian Ustad Vano. Tapi apa yang tidak ia duga adalah Ai benar-benar bangun dari tidurnya. Dia menurunkan kedua kakinya ke lantai, memperbaiki jilbab sebelum berdiri dengan paper bag berwarna hitam ditangan.


Dia sungguh ingin mengembalikan barang ini.


Asri dan Mega merasa kedua tangan mereka gatal ingin mengunyel-ngunyel pipi mulus Ai. Hanya saja semua ambisi mereka harus ditahan ketika melihat wajah pucat Ai.


"Aku... akan mengembalikannya kepada Ustad Vano." Kata Ai sembari merendahkan kepalanya tidak berani melihat respon teman-teman kamarnya yang lain.


Mega menghela nafas panjang. Dia kali ini dengan pasrah mengangkat kedua tangannya tidak bisa menghadapi Ai. Bagi Mega, jika Ai sudah keras kepala maka ia tidak ada bedanya dengan batu. Keras dan menjengkelkan, Mega sebenarnya sangat gemas ingin menyentuh pipi Ai.


"Mau kami temani?" Ratna menawarkan kebaikan namun ditolak dengan lembut oleh Ai.


"Aku hanya pergi sebentar saja, tidak akan lama." Kata Ai menolak.


Memangnya apa yang bisa ia bicarakan dengan Ustad Vano?


Tidak ada.


Dan Ai pun tidak mau melambungkan harapan yang sama lagi, karena jatuh itu rasanya sangat sakit dan Ai tidak mau merasakannya lagi.


"Tapi... bagaimana jika kamu tiba-tiba pingsan?" Asri berbicara ngaur.

__ADS_1


Padahal tujuannya dengan Ratna sama, mereka ingin melihat interaksi manis Ustad Vano dan Ai lagi seperti di ruang medis tadi sore.


Ai tersenyum kecil,"Aku tidak selemah yang kamu pikirkan." Kata Ai merasa terhibur.


Teman-temannya ini...Ai bersyukur bisa bertemu dengan mereka.


"Ai, kamu..." Mega sampai-sampai tidak bisa mengatakan apa-apa untuk sahabatnya ini.


Dia sungguh keras kepala.


Ai hanya tersenyum kecil. Dia kemudian mengucapkan salam kepada teman-temannya sebelum pergi keluar dari dalam kamar asrama.


Diluar atau di lorong-lorong asrama ia bertemu dengan banyak santri. Mereka menghabiskan waktu diluar, membaca buku atau sekedar berkumpul untuk mengobrol ringan agar makan malam yang mereka makan tadi segera dicerna.


"Sabar, Ai. Kamu tidak berbuat salah dan mereka tidak pantas menghakimi mu. Hanya Allah sebaik-baik hakim di dunia maupun di akhirat, hanya Allah seadil-adil hakim di dunia dan di akhirat, maka angkatlah kepalamu tanpa perasaan angkuh dan tegakkan langkahmu dengan rasa penghambaan kepada Allah SWT. Karena Dia mengetahui apa yang terpendam di dalam hatimu." Karena mendapati beberapa pasang mata penasaran dari santri lain, Ai sejujurnya cukup malu dan canggung berjalan sendirian. Namun, dia harus menguatkan hatinya dan berusaha membuat dirinya menjadi orang yang berani. Jika tidak, maka Ai selamanya akan terus seperti ini. Berjalan di belakang punggung orang yang melindunginya tanpa bisa melakukan apa-apa, Ai sungguh tidak ingin seperti ini terus.


Di dekat tiang masuk, terlihat siluet tubuh tegap nan lurus seseorang yang sudah tidak asing lagi untuk para santri, tidak terkecuali untuk Ai.


Sejenak, Ai ragu melangkah. Kedua kakinya seolah terpaku tidak siap bergerak melangkah ke depan. Dia masih belum siap, namun untuk rasa sakit berkepanjangan di masa depan ia harus memberanikan dirinya.


"Bismillah, ya Allah, tolong kuatkan Ai." Bisiknya kepada Sang Kuasa.


Mengeratkan genggaman tangannya, Ai mengambil nafas panjang sebelum membawa langkah kakinya mulai menuruni anak tangga satu persatu.


Berjalan pelan, langkah kakinya yang ringan perlahan membawanya semakin dekat dengan gerbang asrama putri sampai akhirnya matanya benar-benar bertemu dengan mata tajam nan dingin dari pemilik siluet tubuh tegap itu.

__ADS_1


Muncul sebuah pertanyaan di dalam hatinya, apakah laki-laki ini telah mendengar rumor buruk tentang dirinya yang beredar?


Ai ingin tahu namun pada saat yang bersamaan dia takut untuk mengetahuinya.


"Kamu datang," Ustad Vano tanpa ragu mendekati Ai ketika melihat ada tatapan ragu di dalam mata persik Ai.


Ai segera menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu membawa paper bag ini lagi? Apakah kamu tidak suka dengan hadiah yang aku berikan?" Suasana hati Ustad Vano tampaknya tidak benar.


Ah, mungkinkah dia sudah tahu?


"Aku...ingin mengembalikan paper bag ini." Kata Ai mencoba menahan emosi yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.


Ustad Vano mengernyit tidak suka,"Kenapa, apa kamu tidak menyukainya?" Ustad Vano mengulangi pertanyaan yang sama.


Ai menggelengkan kepalanya takut bercampur gugup.


"Tidak, Ustad. Aku masih belum melihat hadiahnya." Dia berkata jujur.


Ustad Vano tidak mengerti.


"Lalu kenapa kamu tidak mau menerimanya?"


Bersambung..

__ADS_1


Lanjut?


__ADS_2