
"Terimakasih atas pengingat mu. Belajar setiap hari memang tidak terlalu bagus untuk kesehatan otak jadi aku tidak mungkin menyiksa kepalaku lagi dihari libur." Asri tidak jauh berbeda dengan Mega.
Tidak perlu ditanyakan lagi siapa orang yang paling rajin belajar di antara mereka bertiga. Ya, jawabannya akan selalu jatuh pada Aishi Humaira. Karena kecerdasannya ini di kelas dia banyak disukai oleh Ustazah pengajar. Bahkan, ada beberapa Ustazah yang menawarkan Ai ikut seleksi pertukaran santri atau beasiswa ke luar negeri.
Namun, sayangnya Ai selalu menolak dengan rendah hati. Dia bukan menolak rezeki tapi Ai tahu sendiri batas ketahanan tubuhnya. Ai itu lemah, dia mudah sakit, dan dia jugalah harus melewati periode menstruasinya yang datang tidak menentu beberapa bulan ini.
Sejak malam itu Ai akan datang bulan setiap satu kali sebulan atau satu kali dua bulan. Ini tidak menentu dan setiap kedatangannya Ai harus menginap setidaknya satu malam di ruang medis karena tubuhnya langsung jatuh drop.
Bunda Safira di rumah sangat khawatir melihat kondisi Ai yang tidak menentu tapi dia tidak bisa menjenguk Ai karena dia juga pada saat itu sedang dalam genting-gentingnya.
"Nah, kalau kamu ke sana gak niat belajar terus mau ngapain, dong? Perpustakaan isinya cuma buku-buku dan kitab-kitab aja." Kepala Ai tidak seekstrim kepala Asri yang isinya sudah mirip seperti tanjakan roller coaster.
Dia adalah anak desa tapi jiwa dan gairahnya sudah seperti anak kota saja.
"Nanti kalian akan segera tahu. Makanya kalian bersih-bersihnya jangan lambat dong biar kita bisa pergi ke perpustakaan!" Asri sangat bersemangat.
Sementara Mega dan Asri masih membereskan ranjang mereka, Ai sudah menyelesaikan acara beres-beresnya. Dia hanya perlu memasukkan buku-bukunya ke dalam koper agar lebih rapi lagi.
Namun, ketika ia membuka koper, semua perhatian Ai ditarik oleh sebuah lembar kertas kecil yang ia dapatkan dari dalam tasnya dihari pertama masuk pondok pesantren.
"Kak Vano.." Dia menyentuh lembaran kertas itu.
__ADS_1
Garis senyum dibibir nya semakin melebar, membentuk senyuman manis yang indah dan sarat akan perasaan berbunga-bunga.
Lalu, ingatannya kembali ditarik oleh suara lembut milik Ustad Vano ketika memimpin sholat tadi malam.
وَا صْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِى
washthona'tuka linafsii
"Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." (QS. Ta-Ha 20: Ayat 41)
Ayat ini Ustad Vano ulangi berkali-kali, nadanya lembut dan suaranya sangat merdu.
Ai bahkan tanpa sadar menutup matanya saat itu. Seolah ia merasakan Ustad Vano saat itu berdiri di depannya, menyentuh puncak kepalanya seraya menggemakan sepenggal ayat romantis itu.
...🍁🍁🍁...
Setelah sarapan mereka bertiga pulang dulu ke asrama karena ada barang yang harus Asri ambil di kamar. Begitu keluar Ai dan Mega merasa heran melihat Asri membawa sebuah buku di pelukannya, buku yang ia bawa sejenis binder polos yang tidak terlalu mencolok.
"Kok bawa buku?" Mereka berjalan sambil mengobrol.
"Emang kenapa? Salah ya bawa buku ke perpustakaan?" Asri bertanya balik.
__ADS_1
Mega memutar bola matanya malas.
"Gak gitu juga, katanya tadi ke sana gak belajar."
Asri lebih menjengkelkan lagi,"Lho, emang salah yah bawa buku ke perpustakaan meskipun gak belajar?"
Mega gemas, kedua tangannya ingin meremat muka sahabatnya itu tapi segera ia urungkan ketika melihat ada Ustad Azam dan Kevin sedang mengobrol di pinggir sawah.
Kedua pipinya tanpa sadar memerah, segera, ia memalingkan wajahnya melihat ke bawah dan kebetulan melihat kaki Ustad Azam yang terbalut kain kasa. Meskipun ditutupi oleh kain celananya tapi Mega masih bisa melihat kain kasa yang menutupi pergelangan kaki Ustad Azam.
"Ini bukan luka kecil." Dia langsung teringat suara tertahan Ustad Azam menahan sakit semalam.
Hatinya menjadi cemas bercampur sakit. Dia sedih melihat keadaan Ustad Azam yang tidak baik-baik saja.
"Hei, jangan sedih, Ga. Meskipun Ustad Azam menyimpan foto Kak Sasa tapi bukan berarti mereka mempunyai hubungan yang romantis. Percaya aku, kalian hanya salah paham saja dan bila sudah waktunya pasti akan kembali jelas." Asri mengira Mega masih sedih dengan hubungan Ustad Azam dan Kak Sasa yang masih ambigu.
Karena ketika mereka curhat semalam Mega terlihat lesu dan lemah, jauh berbeda dengan dirinya yang normal.
Mega tersenyum kecil.
"Aku gak lagi mikirin itu, kok." Dia tidak berbohong.
__ADS_1
"Eh, di sini ada Kak Kevin. Apa gak apa-apa kamu masih bisa cengengesan begini di depannya? Lihat deh santri perempuan yang kita lewati. Mereka semua tuh orangnya ayu-ayu dan lemah lembut di depan laki-laki, gak bar-bar kayak kamu." Bisik Mega bermurah hati.
Asri orangnya terlalu terbuka. Entah di depan teman-temannya atau tidak, Asri tidak pernah menahan dirinya bersikap karena inilah dirinya. Tanpa perlu harus berpura-pura atau menata dirinya menjadi sosok yang lain, dia adalah dia, dia suka tersenyum dan tertawa tanpa memperdulikan penilaian orang lain.