
"Sepertinya sudah masuk musim hujan."
Dia berdiri linglung menatap hamparan langit yang beberapa menit lalu berwarna biru muda cerah sekarang telah berubah menjadi warna abu-abu. Udaranya pun terasa agak berat dan lembab ketika menyentuh kulit wajahnya.
1 jam yang lalu dia dan Almaira berjalan menyusuri petak-petak sawah sambil mengobrol. Ah, lebih tepatnya hanya Almaira lah yang paling aktif berbicara diantara mereka berdua. Sedangkan dirinya lebih banyak diam mendengarkan tidak tahu harus mengatakan apa karena isi pembicaraan Almaira semuanya tentang Ustad Vano.
Entah itu dari awal pertemuan sampai dengan perjodohan mereka, Almaira tidak melewatkan sedikitpun untuk diceritakan kepadanya.
"Apa ini gerimis?" Dia mengangkat tangannya, membuka telapak tangan menghadap langit sehingga tetesan air jernih yang ringan dan tidak berbau jatuh di atasnya.
Ini memang gerimis.
Dari ketebalan awan mendung di atas langit yang sangat gelap, sepertinya hujan yang akan turun tidak akan ringan dan cepat berhenti. Dia menebak bila malam ini akan menjadi sangat dingin dan panjang.
"Mau sampai kapan kamu terus berdiri di sini? Apa kamu berencana mandi hujan?" Suara malas Mega membuat Ai terkejut.
Dia menoleh, mendapati Asri dan Mega entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.
Ai tersenyum kecil. Dia menarik kembali tangannya yang sudah agak basah karena tetesan gerimis.
"Kapan kalian datang ke sini?" Karena dia sama sekali tidak menyadarinya.
Mega menggelengkan kepalanya, menarik tangan Asri untuk mendekati Ai. Mereka lalu berdiri bahu membahu memperhatikan langit abu gelap yang cukup menyeramkan.
__ADS_1
"Malam ini sepertinya selimut akan sangat berguna tidak seperti malam-malam sebelumnya ketika selimut lebih banyak tersimpan di dalam lemari." Mega mengenang malam-malam yang pernah mereka lewati.
Biasanya ketika bangun beberapa orang suka melemparkan selimutnya ke lantai daripada menggunakannya karena di malam hari cuaca lebih banyak panas dan membuat gerah.
"Untungnya aku membawa dua selimut dari rumah." Ai ikut mengenang malam-malam gerah yang mereka lewati.
"Aku juga membawa dua selimut dari rumah." Ujar Asri mengikuti alur pembicaraan yang Mega buat.
"Yah, semua orang membawa lebih dari satu selimut dari rumah untuk cadangan."
Lalu mereka bertiga terdiam menikmati sentuhan lembab angin sore yang mengandung tetesan air hujan.
"Ai, apa hatimu sudah menjadi lebih baik?"
"Aku ingin pindah ke pondok pesantren lain. Aku tidak mau tinggal di sini dan menjadi orang ketiga di dalam hubungan orang lain. Aku takut.." Katanya mengeluh.
Dia tidak menyangka Ustad Vano akan mendapatkan rumor buruk karenanya dan dia lebih tidak menyangka jika karena dirimu Ustad Vano dipandang buruk oleh banyak santri.
Ai juga disalahkan di sini. Dia gambarkan sebagai gadis yang tidak baik dan mengejar-ngejar Ustad Vano di saat Almaira sudah jelas-jelas menjadi tunangannya.
"Ai," Asri memanggilnya ragu.
"Aku tidak tahu apa yang Kak Almaira katakan kepada mu tapi Ai, aku pikir kamu harus menunggu Ustad Vano untuk menjelaskan semuanya. Satu-satunya orang yang tahu tentang kebenarannya selain Kak Almaira adalah Ustad Vano. Jadi, jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Kita harus menunggu Ustad Vano pulang untuk mendapatkan titik terangnya."
__ADS_1
Di antara mereka bertiga Asri adalah pengamat yang paling baik. Dia suka memperhatikan sikap-sikap kedua temannya apalagi itu jika berhadapan dengan duo kulkas berjalan yang sudah 9 bulan menghilang lamanya.
Mega juga berpikiran sama.
"Apa yang Asri katakan benar, Ai. Kamu harus menunggu Ustad Vano untuk mendapatkan kejelasan yang paling terang."
Ai menggelengkan kepalanya tidak berani berharap,"Aku ini siapa untuk Ustad Vano, aku ini hanyalah orang asing. Lagipula semua orang sudah tahu mengenai perjodohan mereka-"
"Ini hanya rumor, Ai. Semua yang kamu dengar adalah rumor yang beredar dari mulut ke mulut dan belum tentu kebenarannya." Potong Asri menegaskan.
Entah mendapatkan angin apa, Asri hari ini tiba-tiba menjadi seseorang yang pandai berbicara dan berpikir jernih.
"Jika benar hanya rumor lalu kenapa Ustad Vano tidak pernah membantahnya?"
Benar, mengapa Ustad Vano tidak membantahnya dan membiarkan rumor itu terus bergerak liar dari mulut ke mulut.
Asri tentu saja tidak bisa menjawabnya. Dia tidak tahu alasan kenapa Ustad Vano selama ini diam terhadap rumor yang menyebar. Jika dikatakan Ustad Vano tidak mendengarnya, tidak, alasan ini terkesan mengada-ada.
Ustad Vano pasti pernah mendengarnya..namun mengapa memilih tutup mulut?
Padahal Asri yakin Ustad Vano menyukai Ai bila dilihat dari perhatiannya waktu itu.
"Aku tidak tahu, Ai. Aku yakin Ustad Vano punya alasan tersendiri, mungkin saja dia berpikir jika rumor itu tidak penting dan akan segera menghilang seiring waktu makanya dia tidak mengatakan apa-apa untuk mengklarifikasi. Juga, kamu harusnya tahu Ai jika sifat Ustad Vano selalu acuh tak acuh dan dingin. Jadi aku pikir adalah hal yang wajar melihatnya diam terhadap rumor yang selama ini beredar."
__ADS_1