Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Hendi melamar Rina


__ADS_3

Bu Nia muncul di balik pintu ruang rawat inap sambil menenteng dua paper bag.


"mamah nyusul."


"iya, ini mamah bawain ganti baju kamu sama Al, terus mamah juga bawain bubur untuk mu dan Norin."


" tapi, Norin udah pulang dari subuh mah. Dia harus masuk kerja tapi sore nanti akan datang lagi ke sini."


"oh, gitu."


Bu Nia menoleh ke arah sofa, ia mendapati seonggok tubuh besar tertidur di atas sofa tersebut.


"tuan Youn tidur di sini juga Nis?"


"iya mah, dia yang jagain Al semalaman ketika Anis dan Norin tidur. tadi subuh dia baru bisa tidur setelah Norin pulang."


"terus, gimana dengan biaya rumah sakit, apa kamu udah ngasih tau si Rendi?"


"Anis, udah ngasih tau dari kemarin mah, tapi pesan nya hanya di baca ngga di balas.Udahlah mah, Anis ngga mau mengharapkan sesuatu dari dia lagi."


"terus gimana cara bayar rumah sakit, kamu kan ngga punya tabungan Nis?"


"tu tuan Youn yang sudah melunasi semuanya mah," ucap Anisa sambil melirik ke arah pria yang sedang tidur.


"hah, kamu serius Nis?"


Anisa mengangguk." Sebenarnya kemarin Norin juga menawarkan diri untuk menanggung biaya Al, tapi sudah keburu di bayarin sama tuan youn jadi tidak jadi."


"alhamdulillah Nis, di samping ke dzoliman suamimu, kamu masih di kelilingi orang orang baik seperti mereka."


"iya mah, dan Anis bersyukur sekali."


Norin bersiap siap untuk berangkat kerja. Namun, terdengar pintu di ketuk dari luar. Kemudian Norin membukanya. Tampak wanita semok sedang tersenyum ke arahnya.


"Bu Yayuk.....!"


"he he he.....iya, saya mba norin."


"Bu Yayuk dari mana aja sama sekeluarga baru keliatan?"


"mba Norin kangen ya sama saya? haha sama mba saya juga kangen. Saya kemarin mudik ke rumah mertua cuma dua Minggu mba. nih oleh olehnya," ucap Bu Yayuk sambil menyodorkan sebuah kantong plastik.


"waduh Bu, repot repot. makasih lho."


"sama sekali ngga repot mba. oya mba Norin, aku dengar ada gosip di komplek ini."


"gosip apa Bu?"


"itu, apa benar si Elis bunting sama haji Imron dan mereka akan di nikah kan minggu minggu ini mba Norin?"


"benar Bu, tapi saya udah kesiangan ini, gimana kalau lanjutin gosipnya nanti aja ya Bu."


"ha ha ha karma di bayar tunai. langsung kicep itu si gendut ngga bakal berani menghina orang lagi."


"hus, ngga boleh menertawakan orang yang sedang terkena musibah Bu, ngga baik. udah dulu ya Bu, saya buru buru nih."


"oh, yowis mba, saya juga mau pulang dulu mau nyuci."kemudian Bu Yayuk kembali kerumahnya.


Norin melajukan motornya dengan pelan menuju pabrik. Namun, di tengah jalan ia melihat salah satu staf nya seperti sedang menunggu angkot, kemudian Norin menepikan motornya tepat di depan orang tersebut.


"Rina....kamu mau berangkat kerja?"


Awalnya Rina terdiam namun kemudian ia mengangguk.


"ya udah yuk bareng saya aja," ajak Norin.

__ADS_1


Rina masih terdiam, ia merasa enggan dan tidak enak hati menumpang pada orang yang selama ini di bencinya.


"udah, hilangkan aja dulu rasa gengsi mu itu, apa kamu mau datang terlambat karena lama nunggu angkot?"


Kemudian dengan ragu Rina menaiki motor Norin. Norin tersenyum." pegangan ya, saya mau melaju kencang biar cepat sampe."


Rina mengangguk. Kemudian Norin melajukan kembali motornya hingga sampai di pabrik. Tiba di parkiran mereka berpapasan dengan Hendi yang sedang memarkirkan motornya.


"Mba Norin, Rina..kalian pergi bareng?" tanya Hendi penasaran karena tumben tumbenan mereka akur.


"ngga sengaja ketemu di jalan tadi. kamu se kali kali jemput Rina gitu ke rumahnya kalau mau pergi kerja, bukannya kamu satu arah sana Rina ya?" ucap Norin dengan santai.


Hendi melirik ke arah wanita yang sedang menunduk malu dan salah tingkah lalu ia menggaruk tengkuknya dan tersenyum lebar ke arah Norin.


"yaudah yuk, masuk," ajak Norin.


Kemudian mereka jalan beriringan menuju ruang kerja. Sesekali Hendi melirik wanita yang berjalan di sampingnya dengan menunduk. Ia tidak menyangka wanita yang ia anggap galak, ketus dan jutek selama ini ternyata mencintainya sudah sejak lama dan hal itu sama sekali tidak di ketahui olehnya, karena Rina sendiri tidak pernah mencari perhatian padanya malah ia cenderung bersikap jutek dan ketus padanya.


Mereka memasuki ruang kerja dan nampak sudah ada staf lainnya di ruang tersebut. Norin menduduki kursi kerjanya begitu pula dengan Hendi dan Rina.


Intan melirik pada Norin yang sedang menatap layar laptopnya. Kemudian ia memberanikan diri mendekati wanita yang sedang fokus tersebut.


"mba Norin, intan boleh minjem bulpen ngga sebentar? bulpen intan ilang."


"boleh Tan, nih," ucap Norin sambil menyodorkan bulpen ke arahnya.


"makasih mba." intan mengambil bulpen yang di sodorkan oleh Norin.


"emm mba....!"


"ada perlu lagi Tan?"


"hehe, itu intan cuma mau menyampaikan salam dari......mas Rio untuk mba Norin," ucap intan dengan hati hati.


Norin tersenyum." wa'alaikum salam. gimana kabar mas Rio serta Alesa?"


"me mereka baik mba baik."


"syukurlah, ya udah saya mau lanjut kerja lagi ya."


"iya mba, intan juga mau kerja lagi. maaf ya mba intan udah ganggu." kemudian intan kembali ke meja kerjanya.


Hendi melirik ke arah Rina yang sedang menatapnya. Rina segera menunduk setelah ke pergok telah memperhatikan pria yang ia cintai dari dulu. Hendi tersenyum manis ke arahnya membuat jantung Rina berdegup kencang.


"duh, kenapa jadi gugup gini di tatap Hendi?" Rina bermonolog.


Jam makan siang pun telah tiba. Norin memutuskan untuk makan di kantin saja. hari ini ia tidak membawa bekal karena tidak sempat masak. Kemudian ia beranjak pergi menuju kantin.


Di ruangan tinggal lah Hendi dan Rina yang belum keluar dari ruangan. Hendi melirik ke arah wanita yang sedang mengeluarkan sesuatu dari kresek, kemudian Hendi mendekatinya.


"Rina....emm apa mau ke kantin bareng ?"


Rina tersentak, baru kali ini Hendi mengajak ke kantin bersama setelah lima tahun bekerja di pabrik tersebut.


"ma maaf, tapi aku bawa bekal dari rumah. Tadi ibu ku udah nyiapin bekalnya," ucap Rina sambil memegang sekotak berisi makanan.


Hendi tersenyum." ya udah di makan aja bekalnya, sayang kan kalau ngga di makan. apa lagi itu ibumu yang nyiapinnya. ya udah kalau gitu aku ke kantin dulu ya udah laper banget ini," ucap hendi sambil tersenyum.


Kemudian, Hendi beranjak meninggalkan wanita yang tengah bengong menatapnya. Dalan hati, Rina ingin sekali makan bareng Hendi tapi karena ia sudah membawa bekal mau tak mau keinginan nya ia abaikan saja.


Waktu sudah menunjukan jam setengah lima sore dan waktunya sudah pulang. Norin beserta lainnya sudah bersiap siap hendak pulang.


"Rina...apa mau bareng dengan saya lagi pulangnya?" tanya Norin dengan nada sedikit tinggi karena jarak meja kerja Norin dan rina sedikit jauh.


Rina menggeleng," makasih mba, saya mau naik angkot aja," tolak Rina.

__ADS_1


Dewi dan Intan saling pandang. Sejak kapan Norin dan Rina akur. itu pikir mereka.


"yaudah kalau gitu saya duluan yah?" Norin sendiri memang sengaja pulang tepat waktu karena ia ingin segera ke rumah sakit.


"ya mba, silahkan," jawab Rina.


Norin keluar ruangan di susul Dewi, Intan dan pak Arief di belakang nya. Tinggal lah Hendi dan Rina di ruangan tersebut.


"apa kamu mau pulang bareng aku Rin ?" tanya Hendi tiba tiba.


Rina terperangah, kenapa sikap Hendi beberapa hari ini begitu manis padanya? fikir Rina.


"mau ngga? saya antar kamu sampe rumah deh."


Rina tersenyum lalu mengangguk.


"yaudah yuk keburu magrib." mereka pun jalan beriringan menuju parkiran. Kemudian Hendi melajukan motornya meninggalkan pabrik.


"ini kayaknya bukan arah ke rumahku deh Hen?" tanya Rina.


"emang bukan," jawab Hendi.


"terus kita mau kemana ?"


"Nanti juga kamu tau sendiri."


Rina tidak bertanya lagi meskipun ia penasaran pria tersebut mau membawanya kemana.


Tiba di sebuah taman kecil, mereka turun dari motor kemudian mendekati sebuah kursi panjang yang ada di taman.


"sejak kapan kamu menyukaiku?" tanya Hendi tiba tiba, saat mereka sudah duduk kursi.


Rina terperangah kaget, kenapa pria di sampingnya tau tentang perasaannya.


"Rina...jawab saja yang jujur karena saya suka kejujuran." desak Hendi.


Rina menarik nafasnya lalu menghembuskan nya perlahan untuk menghilangkan rasa gugup di dirinya. mungkin sudah saatnya Hendi tau tentang perasaannya selama ini. meskipun nanti Hendi menolaknya, yang penting ia sudah mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam dan itu sangat menyiksanya.


"sejak....sejak pertama kali aku bertemu denganmu," jawab Rina sambil menundukkan wajahnya.


"lima tahun yang lalu kita bertemu. Berarti lama juga ya? selama itu kamu diam saja dan tidak berterus terang padaku, kenapa?"


"karena aku tau kamu menyukai mba Norin."


"jadi karena itu kamu memusuhi mba Norin?"


Rina mengangguk jujur.


"aku memang kagum pada mba Norin, tapi mba Norin hanya menganggap ku adiknya selama ini. terus aku bisa apa? kamu tau, jika aku memiliki ke kasih aku ingin hanya satu dan untuk selamanya, jadi apa kamu mau selamanya denganku Rina ?"


"ma maksud nya?"


Hendi tersenyum." apa kamu bersedia menikah denganku, menjadi ibu dari anak anakku dan hidup denganku hingga akhir hayat mu?" tanya Hendi dengan wajah serius.


"ka kamu melamar ku?"


"iya, aku melamar mu."


Rina terperangah, ia terkejut dan tidak menyangka. pria yang ia cintai selama ini bukan hanya memintanya untuk menjadi pacarnya melainkan menjadi istrinya. Setetes air mata haru dan bahagia meluncur ke pipinya. Hendi mengusap air mata yang terjatuh itu.


" maaf Rin, maaf aku tidak pernah memperhatikan mu selama ini."


Rina menghambur ke pelukan Hendi sambil menangis terisak.


"iya, iya, aku mau jadi istrimu, jadi ibu dari anak anakmu dan menghabiskan sisa hidupku denganmu."

__ADS_1


Hendi memeluk Rina erat lalu mengecup kepalanya." terima kasih sudah mencintai saya selama ini."


__ADS_2