Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 15.6)


__ADS_3

Safira tersenyum puas,"Maukah kamu menunjukkannya kepada kami?"


Diantara semua kemungkinan mereka tidak berharap jika Frida ikut terlibat kecuali untuk Mega dan Asri. Mereka tahu bahwa bila Frida tidak menyukai Ai dari awal masuk pondok. Jadi, keterlibatan Frida dalam masalah ini bukanlah tidak mungkin. Malah, mereka sempat menduga jika Frida bekerjasama dengan Sari untuk menjatuhkan Ai.


Dibandingkan dengan Tiara, mereka lebih yakin jika semua ini adalah rencana Frida.


Frida mengangguk tenang. Ia lalu mengeluarkan sebuah flashdisk putih dari dalam saku gamisnya dan menunjukkannya kepada semua orang.


"Bukti yang Tante dan semua orang inginkan ada di sini." Katanya dengan suara yang cukup tenang.


Orang yang paling panik jelas Tiara. Dia tidak tahu bukti apa yang Frida sembunyikan di dalam flashdisk itu tapi entah mengapa dia merasa jika bukti itu pasti ada hubungannya dengan dia.


"Bukti...apa yang ada di dalam sana, Frida?" Setelah sekian lama mereka tidak berbicara, Tiara dengan canggung bertanya.


Frida meliriknya, menjawab singkat tanpa mau memberitahu.


"Bukti yang aku temukan beberapa bulan yang lalu."

__ADS_1


Flash Back On


Frida sangat sakit hati karena Tiara lebih memilih membela Mega dan Asri daripada membelanya yang sudah jelas-jelas saling mengenal lama. Frida merasa sangat kecewa dan berjanji tidak akan mau lagi berbicara dengan Tiara.


Dengan sakit hati yang menggebu-gebu, ia lalu pergi menyusul rekan-rekannya sesama petugas kedisiplinan asrama putri yang sekarang ada di ruang medis untuk menjaga Ai, gadis yang pingsan dan berhasil mengambil perhatian Ustad Vano.


Melihatnya di bopong secara langsung oleh Ustad Vano, rasa cemburu langsung bergerak liar di dalam dadanya. Dia iri, menginginkan posisi yang sama namun sayang ia tidak pernah menemukan kesempatan atau lebih tepatnya Ustad Vano memang nyatanya tidak pernah memberikan perhatian lebih kepada santri perempuan manapun kecuali Ai, santri baru yang pernah mengaku-ngaku mengenal Ustad Vano.


"Apa yang sedang aku pikirkan, Ustad Vano sudah milik Almaira jadi mana mungkin santri baru itu bisa mendapatkannya." Dia mengenyahkan pikiran ini karena tidak mau menyiksa diri sendiri.


Lama berjalan ia akhirnya sampai di ruang medis. Mereka tidak diizinkan masuk karena di dalam ada lebih dari satu santri yang sedang dirawat. Jadi, untuk menjaga kenyamanan mereka semua diminta menunggu diluar.


Hem, ironisnya rasa ini sudah ada sejak ia pertama kali bertemu dengan Ustad Vano.


"Aku akan ke kamar mandi dulu." Pesannya kepada Sasa dan yang lain.


Ia lalu pergi ke kamar mandi, membasuh wajahnya agar terlihat lebih baik dan segar, setelah itu ia keluar dari kamar mandi. Begitu keluar dia tidak langsung pergi menemui rekan-rekannya kembali melainkan pergi ke ruang medis untuk mengintip apa yang sedang Ustad Vano lakukan di dalam. Ia berdiri di jendela samping, orang-orang di halaman depan tidak akan bisa melihat keberadaannya di sini jika tidak datang mendekat.

__ADS_1


Ada suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an di dalam, Ustad Vano duduk di depan bangsal santri baru itu sambil melantunkan ayat-ayat cinta. Sejenak, Frida tidak bisa mengatakan apa-apa karena ia tiba-tiba merasa jika hubungan Ustad Vano dan santri baru itu lebih intim dari yang ia duga.


Jika mereka memang mempunyai hubungan, lalu kenapa Ustad Vano menerima perjodohannya dengan Almaira?


Pertanyaan ini tiba-tiba berdengung di dalam kepalanya.


"Apa ini hanya perasaan ku saja?" Ia meragukan apa yang ia lihat.


Lalu, ia melanjutkan lagi acara mengintipnya. Melihat Ustad Vano menyelesaikan lantunan ayat-ayat sucinya sebelum berbicara dengan dokter.


Suara mereka memang tidak besar, namun samar ia bisa mendengar isi pembicaraan mereka. Rasanya sungguh sangat mengejutkan. Kedua kaki Frida bergetar lemas dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya menahan shock, beralih menatap wajah pucat santri baru itu yang masih belum bangun meskipun sudah dipasangi cairan infus berwarna kuning.


"Ya Allah, astagfirullah..." Jantungnya berdegup kencang menahan sakit.


"Apa yang telah aku lakukan selama ini... mengapa aku begitu tega mengganggu dan mempermalukannya di depan banyak orang, ya Allah...aku sungguh berdosa." Dia membekap mulutnya menahan shock, sangat sulit mencerna semua informasi besar yang ia dengar dari pembicaraan Ustad Vano dan dokter di dalam.


Tidak sanggup lagi, ia kemudian membawa langkah kakinya menjauh dari ruang medis namun kembali tertahan ketika melihat Tiara juga melakukan hal yang sama dari jendela sebelah. Karena terhalangi pohon tinggi dan rindang, mereka berdua sulit menyadari keberadaan masing-masing.

__ADS_1


"Sejak kapan dia ada di sini?" Frida bertanya aneh.


Pasalnya dia tidak tahu jika Tiara juga menyukai Ustad Vano sehingga aneh saja melihatnya mengintip seperti ini.


__ADS_2