
Shin membawa Norin ke rooftop yang berada di lantai tiga restouran tersebut. Tidak ada siapa siapa di sana, hanya ada mereka berdua. Memang Shin sengaja membooking rooftop tersebut khusus untuknya. Shin dan Norin duduk bersama disebuah bangku yang menjorok ke laut. Mereka menatap pada lautan yang hanya terlihat samar samar oleh pijaran lampu.
"apa kamu merasa dingin?" tanya Shin yang tengah duduk di samping Norin.
"lama lama duduk di sini bisa masuk angin tuan!"
ha ha ha ha...
"kalau kamu masuk angin, saya bisa memijitnya seperti yang pernah kamu lakukan pada saya kemarin."
Norin melirik malas pada pria itu." jangan coba coba!"
Shin tersenyum."kamu saja saya bolehkan menyentuh tubuh saya, kenapa saya tidak boleh menyentuh tubuhmu?"
"apa tidak ada pembicaraan yang lain tuan? kalau tidak ada lebih baik kita turun saja dari sini."
Shin menggenggam erat sebelah telapak tangan wanita yang terlihat kedinginan oleh angin laut."apa kamu terpaksa menerima cinta saya tadi?"
"ti tidak!"
"kenapa sikapmu masih saja seperti sebelum kita menjadi sepasang ke kasih?"
Norin melepaskan genggaman tangan Shin, ia berdiri lalu berjalan pelan mendekati pembatas tembok.
"andai saja kamu tau apa yang aku inginkan Shin! ngga mungkin juga kan jika aku memintanya terlebih dahulu?karena aku ini perempuan dan ngga mungkin juga aku menyuruh mu mengikuti agamaku demi untuk bisa menikahi ku. aku....aku hanya bisa berdoa semoga suatu saat nanti hatimu terketuk." Norin bermonolog.
Shin melingkarkan kedua tangannya di atas pinggang Norin lalu memeluknya dari belakang.
"sedang memikirkan apa hem?"
"disini dingin sekali, saya ingin pulang tuan!"
Shin melepaskan pelukannya lalu menggandeng tangan wanita itu."yuk kita pulang."
Sementara di lain tempat tepatnya di sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Rio duduk menyendiri di belakang rumah orang tuanya. Sudah beberapa batang rokok yang sudah ia habiskan. Apa yang ia lihat di restouran tadi cukup membuatnya frustasi dan patah hati. wanita yang ia cintai telah menjadi kekasih orang lain.
"kenapa sendirian terus di sini mas? Alesa dan mba Reni masih ada di dalam lho!"
Rio melirik malas pada adiknya."biarkan aja, kalau mereka mau pulang tolong kamu pesankan taksi untuk mereka."
Intan ikut duduk di samping kakaknya yang tengah berdiam diri semenjak pulang dari restouran.
"kamu kenapa sih mas? aku perhatikan semenjak dari restouran mas Rio termenung terus. Apa ada masalah mas? apa mas ngga mau cerita sama intan?"
Rio mengusap wajahnya lalu menyenderkan punggungnya ke belakang dan melipat kedua tangannya.
"apa kamu sudah lama mengenal Norin Tan?"
"kok mas Rio nanyain tentang mba Norin mulu?"
"karena sumber permasalahan yang membuat mas mu ini gelisah ada padanya Tan?"
"hah, maksud nya apa sih mas? intan ngga ngerti."
__ADS_1
"dua Minggu yang lalu mas hampir saja melamar Norin Tan!"
"apa!" intan spontan berdiri. Ia terkejut sekali mendengar pengakuan kakaknya. Kemudian ia duduk kembali seperti semula.
"apa mas serius? kok bisa ? bukannya mas baru kenal dengan mba norin?"
"ya, kamu benar. mas baru mengenalnya sekitar tiga Minggu. saat itu tanpa sengaja mas bertemu dengannya di sekolah dimana mas dinas sekarang Tan, dia ke sana mau menemui ibunya yang merupakan seorang guru di sekolah itu. dari situ mas menyukainya karena sikapnya yang ramah dan lembut. kamu tau kan Tan jika mas mu ini tidak suka bertele tele? oleh karena itu mas mengutarakan niat mas yang ingin meminangnya secepatnya."
"terus apa mba Norin menolak ?"
Rio menggelengkan kepalanya." dia tidak menolak tapi mas sendiri yang mengingkari niat mas sendiri. Mas membatalkan rencana pinangan malam itu demi membawa Alesa ke rumah sakit. Mas tau, perbuatan mas membuat mereka kecewa termasuk Norin. oleh karena itu, siang harinya mas nekat untuk menemuinya di rumahnya, mas menceritakan masa lalu mas dan mas juga mengenalkan Alesa padanya di rumah sakit."
"terus, apa mba Norin ngga bisa menerima masa lalu mas dan juga Alesa?"
"bukan, dia menerima masa lalu mas. tapi, masa lalu mas yang tidak mau menerima kehadirannya. Alesa tidak ingin mas menikah dengan Norin, dia kekeh ingin mas kembali sama Reni, padahal mas sama sekali tidak memiliki perasaan apa apa lagi pada Reni, selain hanya menghargai dia sebagai ibu dari anak mas, Alesa."
"kasian sekali mba Norin, pasti kecewa banget rasanya."
"mas merasa bersalah sama dia Tan."
"terus, apa yang mau mas lakukan selanjutnya."
"apa kamu bisa bantu untuk mendekatkan mas dengan Norin Tan ?"
"hah, yang bener aja mas! saingan mas itu seorang pengusaha besar lho, ya meskipun aku tau mba Norin itu bukan perempuan matre. tapi masa iya tega memisahkan mereka?"
"mereka masih pacaran kan Tan? dan belum tentu pria itu mau menikahi Norin."
"kamu mau kan bantu mas?"
"asal mas tau aja, dua tahun yang lalu intan juga pernah mau mendekatkan mas sama mba Norin."
"seriusan kamu Tan?"
"iya saat mas baru cerai beberapa bulan Sama mba Reni. mas lupa ya saat itu intan bilang ada temen cewek intan yang ingin intan kenalkan sama mas, tapi mas Rio malah menolak mentah mentah. jangan kan liat orangnya liat fotonya pun mas ngga mau kan?'
"jadi....wanita yang mau kamu kenalkan itu Norin?"
"iya mas, wanita itu mba norin."
Rio mengacak rambutnya."kenapa aku bodoh sekali !"
"mas Rio beneran suka sama mba Norin?"
"bukan saja hanya suka Tan, tapi mas telanjur cinta dan sayang sama dia, mas berharap semoga kelak Norin jodoh terakhir mas."
Tanpa mereka sadari, sepasang telinga menguping pembicaraan mereka dari tadi.
"jadi aku ini sudah tidak ada lagi di hatimu mas?" Reni bergumam sedih.
Sementara di sebuah mobil, sepanjang jalan Shin menggenggam erat tangan Norin, seolah olah ia tidak mau wanita itu lepas dari dirinya.
"ehm...mba Norin ngga akan ilang kok tuan Shin, tenang aja!" lagi lagi Rizal meledek mereka.
__ADS_1
Norin segera menarik tangannya. Jujur saja, ia malu sekali pada keluarganya. sepanjang jalan Shin terus saja berlaku posesif padanya.
"kamu tau, jika di lepas akan sulit lagi mendapatkan kakak mu ini!"
ha ha ha....
"makannya tuan, kalau tidak ingin lepas cepat di ikat yang kuat biar tidak mudah lepas lagi."
Shin menggaruk tengkuknya, ia sebenarnya sama sekali tidak mengerti maksud yang di ujarkan oleh Rizal.
Mobil sudah memasuki pekarangan rumah Bu Aminah dan mereka semua turun dari mobil. Terlihat Bagas sudah menunggu ke datangan istri dan anaknya.
"apa kalian ngga nginep aja malam ini ? kasian anak anak udah pada ngantuk." ucap bu Aminah.
"ngga Bu, kami mau pulang aja, lagi pula besok Hasbi sekolah."
"yaudah kalau gitu hati hati kalian." kemudian mereka pun pulang dengan menggunakan motor.
Semua orang sudah masuk ke dalam rumah tinggal Shin dan Norin di luar.
"kiss first before sleep honey!" ucap Shin.
"apa tuan tidak melihat ini dimana?"
Shin nyengir."forget !"
Norin menghembuskan nafas kasar. Lalu, ia beranjak masuk ke dalam rumah dan di ekori Shin dari belakang.
Semua orang sudah memasuki kamarnya masing masing. tinggal Norin dan Shin yang masih mengobrol di ruang keluarga.
"apa tidak sebaiknya besok kita pulang ke kota saja sayang?" tanya Shin lalu menyeruput kopinya.
Norin melirik pada pria yang sedang duduk di sampingnya. terdiam dan menatap wajah tampan itu.
Shin melirik pada wanita yang sedang bengong menatapnya.
"kenapa sayang, apa ingin di cium?" goda Shin dan tiba tiba ia mengecup bibir mungil wanita itu tanpa permisi
Norin terperangah lalu mencubit perutnya." nakal banget sih!" ucap norin dengan wajah di tekuk.
"tapi kamu suka kan sayang?" goda Shin sambil mengedipkan sebelah matanya.
Norin mencebik kan bibirnya kemudian ia bangkit. Namun, tangannya di cekal dan di tarik hingga Norin jatuh ke pangkuan Shin. Lagi dan lagi Shin me lu mat bibir itu tanpa ampun.
Ditengah aksinya, Norin merasa di bawah yang ia duduki terasa mengeras. Reflek Norin berdiri menghindar dari pangkuan pria yang di bawahnya sudah mengeras.
"kenapa sayang, aku belum puas me...."
"saya tidak mau membuat adik kecil tuan bangun lagi. Sana cepat pergi ke kamar mandi."
Kemudian Norin beranjak masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Shin yang masih menatap pada bawah perutnya yang mulai mengembang.
"kenapa dia bisa tau? apa dia melihatnya apa yang aku lakukan waktu kemarin malam?" Shin bermonolog.
__ADS_1