
Kesempatan?
Tidak ada yang tahu apakah kesempatan itu ada atau sudah tidak ada lagi. Untuk beberapa orang, kesempatan adalah hal yang akan pasti terjadi namun tidak jika Allah sudah berkehendak.
Segala sesuatu sudah ada di dalam genggaman-Nya, entah itu masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa depan nanti. Allah telah mengetahui semua-Nya dan tercatat dengan rapi nan apik di Lauhul Mahfudz.
Tidak ada yang bisa menghindarinya kecuali seorang hamba benar-benar tulus danĀ bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya, mengetuk pintu Allah berungkali hingga Allah akhirnya mau membuka pintu langit.
Namun bagaimana jika berdoa berulangkali tidak bisa mengubah takdir?
Ketahuilah, ini adalah jalan terbaik untuk seorang hamba. Mungkin ada hikmah dan ada skenario indah yang Allah ciptakan untuk hamba tersebut.
Inilah yang sekarang menimpa Asri, gadis desa yang jauh-jauh datang dari desa ke kota ini untuk menuntut ilmu di pondok pesantren Abu Hurairah. Dengan kesederhanaan hidupnya dan keyakinan hatinya dalam menuntut ilmu, ia memberanikan diri datang ke kota yang jauh dari kedua orang tuanya agar bisa menjadi gadis sholehah yang akan menjadi ladang amal untuk kedua orang tuanya kelak.
Bermimpi melihat kedua orang tuanya bisa berdiri dengan bangga dihadapan seluruh umat manusia dan di hadapan Allah dengan sepasang mahkota indah di kepala mereka kelak, ia menjadi lebih semangat menuntut ilmu di pondok pesantren.
Awalnya, semua berjalan dengan sangat lancar dan menyenangkan. Ia bertemu dengan Ai, gadis cantik nan lembut yang sarat akan kesabaran. Ia juga bertemu dengan Mega, gadis cantik nan dingin yang tidak mudah ditindas. Ia bertemu dengan mereka dan mulai menjalin persahabatan yang indah pula. Persahabatan ini, ia sungguh berharap Allah meridhoi nya hingga di Jannah kelak.
Suka dan duka dilalui bersama, dan bahkan seringkali mereka melakukan hal-hal konyol yang sangat sukar untuk dilupakan. Itu adalah masa-masa yang sangat membahagiakan untuk Asri.
Tapi, semua masa-masa itu tidak berjalan lama karena satu demi satu sahabatnya pergi untuk mengejar kebahagiaan masing-masing. Hanya dirinya seorang di sini, berjuang sendirian tanpa suara penyemangat dari kedua sahabatnya agar bisa melupakan sosok laki-laki yang telah memiliki gadis lain dihatinya.
Lalu sekarang, hal yang tidak pernah ia harapkan dan duga terjadi. Hari dimana hidupnya mengalami perubahan besar dan hari dimana semua itu berawal.
__ADS_1
"Asri," Seseorang memanggilnya dari luar.
Asri meletakkan kitabnya, mengangkat kepala menatap ke arah pintu masuk kamar asrama, dia bertemu pandang dengan wajah tersenyum Khanza.
Khanza, ada gerangan apa ia datang mencarinya?
Asri tidak bisa tidak melayangkan sebuah pertanyaan.
"Iya, Kak." Asri bangun dari duduknya dan segera menghampiri Khanza.
"Boleh berbicara sebentar?" Khanza menawarkan dengan sopan dan ramah.
Asri tidak bisa menolak keramahtamahannya. Jadi, dia langsung setuju dan secara alami mengikuti kemana Khanza membawanya pergi. Mereka berjalan ke arah bangku santri yang khusus pondok buat di halaman asrama putri agar mereka bisa belajar atau bersantai di sini.
"Kakak ingin membicarakan, apa?" Tanya Asri begitu mereka duduk di bangku.
"Sepertinya Kak Kevin menyukai kamu." Katanya langsung membuat Asri terkejut.
Asri terdiam, tampak bingung dan tidak yakin dengan apa yang baru saja Khanza katakan.
"Ini hanya perasaan ku saja, mengenai benar atau tidaknya aku belum memastikannya secara langsung dan hanya Allah yang tahu." Kata Khanza lagi menarik pandangannya dari hamparan langit dan kini mulai menatap langsung Asri.
"Tapi aku bisa memastikan bahwa kamu menyukai Kak Kevin lebih dari sekedar rasa kagum seorang Adik kelas kepada Kakak kelasnya, aku benar'kan?" Tebak Khanza tepat sasaran.
__ADS_1
Asri untuk yang kedua kalinya dibuat terkejut oleh Khanza. Membuat hatinya bertanya-tanya apakah terlihat begitu jelas?
Apakah perasaannya terlihat begitu jelas?
Jika benar, lalu apakah Kevin dan Sasa juga bisa melihatnya?
Asri tiba-tiba menjadi panik dan ketakutan, ia takut bila sepasang kekasih ini melihat apa yang dirasakan oleh hatinya.
"Aku berusaha melupakannya." Pada akhirnya Asri secara tidak langsung mengakuinya.
Dia sedang berjuang untuk melepaskan Kevin, menata hatinya kembali seraya menunggu imam sejatinya datang menjemput.
"Aku tahu, dan aku sangat berterimakasih untuk itu." Khanza juga bisa melihat jika Asri telah berusaha menjaga jarak dengan Kevin.
Tapi, itu tidak cukup.
Khanza merasa ini sangat tidak cukup dan menginginkan lebih agar Kakak sepupunya tidak risau lagi memikirkan masa depan.
"Tapi itu tidak bisa menjamin kamu melupakannya. Ini masih belum cukup, Asri."
Asri menunduk kepalanya berpikir. Jika menjaga jarak dan menjauhinya saja tidak cukup, lalu apa yang harus ia lakukan agar ia tidak lagi mengganggu hubungan mereka?
"Apa kamu sudah tahu hubungan Kak Sasa dan Kak Kevin?" Khanza bertanya.
__ADS_1
Asri mengangguk ringan.
"Aku sudah tahu, Kak. Karena itulah aku berusaha menjaga jarak dari Kak Kevin. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga diantara Kak Kevin dan Kak Sasa."