Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Rencana ternak ikan


__ADS_3

Sebuah tangan menepuk sebelah pundak pria tampan memakai baju koko berwarna putih yang sedang berdiri termenung di atas balkon kecil kamar nya. Shin melirik ke arah punggung tangan yang mendarat di pundak kirinya.


"Kau Dul."


Abdul tersenyum lebar."gimana kak? sukses?"


Shin menghela nafas berat." Aku takut sekali Dul."


"Takut kenapa kak?"


"Bagaimana kalau Norin menolak pinangan ku Dul? rasanya aku ingin mengakhiri hidup saja jika itu terjadi."


"Ha ha ha. Kak Shin seperti tidak memiliki tuhan saja bicara ingin mengakhiri hidup. Jangan pesimis kak, kakak harus tetap optimis. Andai pinangan kak Shin di tolak saat ini, kakak bisa meminangnya kembali di kemudian hari. Selagi nyawa belum terlepas dari badan, kejar saja terus sampai dapat."


Shin mendengar usulan Abdul sambil menyipitkan matanya. Ia tidak menyangka Abdul seorang pria belia berusia genap empat belas tahun memiliki pola pikir lebih tenang dan lebih dewasa di bandingkan dengan dirinya.


"Sabar dan berdoa saja kak."


Shin mengangguk kecil lalu tersenyum.


"Bukan kah hari ini akan ke kebun lagi?"tanya Shin.


"Iya benar kak, oleh karena itu aku kemari untuk memberi tahu kak Shin. Sebab, teman teman lainnya sudah bersiap siap di bawah.


"Ya sudah yuk kita turun sekarang."


"Apa kakak tidak mau mengganti baju dulu?"


Shin menunduk melihat baju yang sedang di pakainya."oh ya, aku lupa ha ha."


Kemudian Shin serta beberapa puluh santri berbondong bondong pergi ke kebun sambil menggotong mesin pompa air dan selang panjang.


tok tok tok


"Assalamualaikum kak Inay!" panggil seorang Puteri belia di depan kamar salah satu santri dewasa berparas cantik.


"Wa'alaikum salam. Eh, ada apa putri? jawab sang pemilik kamar setelah pintu dibuka olehnya.


"Kak, tadi umi Husna meminta Putri untuk memberi tau kakak setelah sholat dzuhur nanti kakak di suruh menghadap Abah di rumahnya."


"Ada perlu apa ya Abah kira kira, kok tumben."


"wah, Putri kurang tau kak."


"Ya udah put, makasih ya. nanti kakak akan ke sana."


"iya kak, ya udah kalau begitu Puteri pamit dulu."


Setelah melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah, Inay bergegas pergi ke kediaman sang paman, Abah Ahmad. Setelah tiba di rumah sang paman, nampak umi Husna sudah menunggunya di teras rumah.


"Assalamualaikum umi!"


"Wa'alaikum salam Nay, yuk masuk Abah sudah menunggu kamu di dalam."


Inay mengangguk lalu mengikuti umi Husna untuk masuk ke dalam rumahnya. Nampak Abah Ahmad sudah menunggunya di atas sofa. Inay menyalami pria paruh baya itu terlebih dahulu.


"Duduk Nay," titah Abah.


Inay mengangguk lalu duduk di atas sofa berhadapan dengan Abah sambil menunduk kan wajahnya.


"Begini Nay, abah mau menyampaikan sesuatu padamu bahwa tadi pagi ada salah satu santri di pondok ini yang menghadap pada Abah dan mengutarakan keinginannya untuk mengkhitbahmu Nay."


Inay mendongak kan wajahnya menatap serius pada Abah Ahmad.

__ADS_1


"Dan menurut pandangan Abah tentang pria yang ingin mengkhitbahmu, dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab meskipun sebenarnya dia terbilang belum lama mondok disini tapi Abah melihat keseriusannya dalam mempelajari segala hal."


"Ta tapi....bagaimana pria itu bisa tau tentang Inay bah, sementara Inay tidak pernah menampakan diri di hadapan santri putera begitu pula sebaliknya?"


"Dia bilang tanpa sengaja melihatmu di pasar kemarin Nay."


Inay mengerutkan dahinya dan berusaha mengingat siapa pria yang kemarin ia temui di pasar. Tak lama Inay mengingatnya bahwa ada pria belia yang menolongnya waktu barang barang yang di bawanya berjatuhan.


"A..apa..pria itu masih berumur belasan tahun bah?"


Abah tersenyum." Bukan Nay, pria ini kalau Abah perkirakan berusia di atas tiga puluh tahun."


"Nay, maaf sebelumnya, bukan maksud umi ingin memaksa mu. Tapi pikirkan dirimu Nay, pikirkan masa depan mu. Kamu tidak mungkin kan menghabiskan sisa hidupmu dengan hidup sendirian sepanjang hayat mu. kamu harus memiliki pasangan hidup untuk menemani mu dalam suka maupun duka. Kamu juga harus memiliki keturunan sebagai penerus mu. Apalagi sekarang usiamu sudah tiga puluh tahun Nay sudah sepantasnya berumah tangga."


"Ta..tapi...apa...pria itu mengetahui bagaimana kondisi Inay yang.....sudah tidak lagi...suci Abah, Umi?" tanya Inay. Dengan wajah serius menatap pada dua orang yang duduk di hadapannya.


"Karena Inay ingin pria yang mau menikahi Inay harus tau terlebih dahulu kekurangan Inay agar nanti dia tidak merasa kecewa atau tidak merasa di bohongi."


"Sudah Nay, dia sudah tau tentang kondisimu dan dia mau menerima segala kekuranganmu."


Inay terperangah." Benar kah Abah?" rasanya Inay tidak percaya atas apa yang ia dengar dari abah Ahmad. Pria itu mau menerimanya yang sudah tidak lagi dalam keadaan perawan.


"Benar. Bagaimana Nay? apa kamu bersedia menerima pinangan pria ini untuk menjadi suamimu kelak?"


Inay diam sejenak.


"Apa boleh Inay meminta waktu satu malam saja. Abah, Umi?" tanya Inay dengan serius.


Abah dan Umi saling pandang lalu tersenyum pada Inay.


"Boleh, Nay. Mintalah petunjuk pada Allah terlebih dahulu. Semoga setelah itu kamu bisa memutuskan mana yang terbaik menurutmu."


Inay mengangguk.


"Kalau begini mah berkebun satu hektar pun aku mau karena udah ngga harus payah lagi nimba air sumur." celetuk Akbar sambil menyirami tanaman dengan selang.


"Aku juga bar," Thoriq menimpali.


"Kalau aku malah pengen bikin kolam ikan kalau udah ada air kayak gini." Abdul menyahuti.


Akbar dan Thoriq menoleh ke arah Abdul termasuk Shin.


"Kolam ikan untuk apa Dul?" tanya Shin.


"Ya untuk ternak ikan. Hasilnya bisa di jual sama di makan anak santri juga."


"Wah, khayalan mu ketinggian Dul, bikin ternak ikan itu kan butuh biaya gede. Lagi pula siapa lagi donatur yang mau nyumbang kalau bukan pak Ali. Belum tentu juga kan pak Ali menuruti keinginan mu itu," ujar Akbar.


"Berkhayal ngga ada yang larang kan? siapa tau dari khayalan menjadi kenyataan he he." Abdul menyahuti ucapan Akbar.


"Ya sudah Dul, kita bikin saja kolam ikan," Ucap Shin tiba tiba.


Ketiga temannya menoleh ke arah Shin dengan wajah serius.


"Kak Shin tidak sedang becanda kan? atau kak Shin hanya ingin menghibur si Abdul aja?" tanya Akbar. Ia merasa tidak percaya pada apa yang di ucapkan oleh Shin.


"Tidak, saya serius. Tapi, kalian saja yang mencari ide bagaimana membuat kolam ikan karena aku tidak paham dengan ternak ikan. kalian sebutkan saja nominal biayanya biar aku yang mendanainya."


"Tapi kak, membuat kolam ikan butuh tanah kosong kak, sementara kebun ini sudah penuh sama tanaman."


Ekor mata Shin mengitari ke sekeliling kebun dan pandangannya tertuju pada sebuah kebun yang cukup luas.


"Kalau kebun itu milik siapa?" tunjuk Shin pada sebuah kebun di samping kebun yang mereka kelola.

__ADS_1


"Itu kebun milik pak paijo. Orang paling kaya di daerah ini.


"Apa kamu tau dimana rumahnya?"


"Tau kak. Tapi, untuk apa kak Shin menanyakan nya?"


"Untuk membeli kebun miliknya."


Abdul serta kedua temannya melongo melihat Shin.


"Kenapa ekspresi muka kalian seperti itu? jelek sekali."


"Apa....kak Shin serius mau membeli kebun milik pak paijo?"


"Ya saya serius."


"Tapi, kebun itu terlalu luas kak. kalau untuk buat kolam ikan paling kita butuh tiga ratus meter saja.


"Tidak masalah. Sisa tanahnya kalian bisa menanaminya dengan sayuran atau buah buahan. Nanti kita beli bibitnya.


"Kak Shin serius?"


"Saya tidak pernah becanda kalau sudah serius."


"ha ha ha...!"


"Apa semua tanamannya sudah di siram air?"


"Sudah selesai kak," jawab Akbar.


"Ya sudah kita pulang saja sekarang. Nanti selepas sholat Dzuhur kita datangi pemilik kebun itu."


Kemudian mereka bergegas pulang ke pondok karena waktu sudah menunjukan pukul satu siang dan mereka harus menjalankan ibadah sholat Dzuhur.


"Apa rumahnya masih jauh Dul?" tanya Shin di sela sela berjalan kaki menuju rumah pak Paijo yang terletak di sebuah perkampungan cukup jauh dari pondok.


"Setengah jam lagi kak."


"What, apa disini tidak ada kendaraan umum?"


"Tidak ada kak, adanya ojek."


"Apa itu ojek?"


"ya itu...orang yang memberikan tumpangan motornya tapi bayar.


"motor?" tiba tiba Shin teringat pada Norin yang selalu membawa motor ketika pergi kerja.


"Aku rindu sekali pada bidadari ku," ucap Shin tanpa sadar.


"Apa kak, rindu bidadari?" tanya Thoriq.


Shin terperangah lalu menutup mulutnya.


"Oh, tidak. bukan itu maksudnya." Shin tersenyum nyengir.


"Apa di Korea tidak ada ojek?"


"Oh, tidak ada. Jangan kan tukang ojek. Orang yang memiliki motor saja bisa di hitung dengan jari dan itu pun bukan motor biasa."


"Apa ku bilang, orang Korea itu kaya kaya Thor. mana ada yang naik motor ke sana kemari. mereka semuanya punya mobil bukan motor.


"Oh, bukan seperti itu. Sebenar nya ada beberapa alasan kenapa orang orang Korea tidak menggunakan motor. yang pertama masalah keamanan dan keselamatan. Orang Korea lebih suka menggunakan mobil karena lebih minim resiko kecelakaan. Selain itu, jalanan di Korea memang di desain untuk transportasi roda empat saja. Sehingga otomatis banyak mobil dan kendaraan lain yang melaju dengan kecepatan tak menentu dan ini sangat beresiko untuk pengendara motor. Selanjutnya faktor suhu. Di Korea saat sedang musim panas, suhu bisa mencapai 39 derajat celcius. Jauh lebih panas dari suhu rata-rata di Indonesia. Sehingga akan sangat tidak nyaman berkendara terbuka di panas seterik itu. Begitu juga saat musim salju. Suhu dingin ekstrem bisa membuat seseorang menggigil dan membeku. Belum lagi jika salju turun menutupi jalanan. Jalan bisa menjadi sangat licin dan membahayakan bagi pengendara sepeda motor. Dan yang terakhir, harga mobil di Korea sangat terjangkau karena orang Korea cinta produk dalam negeri jadi mobil di sana tidak diimpor melainkan produksi dalam negeri, sehingga harga jualnya pun menjadi lebih murah. Jadi kalangan menengah ke bawah pun bisa membelinya."

__ADS_1


Abdul dan kedua temannya menyimak penjelasan Shin sambil manggut manggut.


__ADS_2