
Hari ini merupakan hari libur kerja. Selagi libur kerja Norin menyempatkan diri untuk berbenah rumah. Membersihkan dalam rumah serta luar rumah.
"yur...sayuurrrr...!"
Terdengar penjual sayur berteriak menjajakan dagangannya dan berhenti tepat di depan rumah Norin. Beberapa ibu komplek mulai berdatangan mengerubungi tukang sayur termasuk Bu Retno yang sudah beberapa hari tidak nampak keluar rumah kini mulai tampak kembali. Norin beranjak masuk ke dalam rumahnya lalu mencuci tangan terlebih dahulu. Setelah itu, ia mengambil uang lalu keluar rumah berjalan menuju tukang sayur yang sedang mangkal tersebut.
"Selamat pagi ibu ibu!" sapa Norin.
"Pagi juga mba Norin, tumben sekarang mah rutin belanja di mang Udin,"ucap Bu Wati.
"Iya Bu Wati, saya belum sempat ke pasar jadi beli di mang Udin aja dulu. Lagi pula sekarang saya berangkat kerjanya rada siangan jadi ada kesempatan untuk belanja di mang Udin."
Kali ini Bu Retno diam saja tidak mengeluarkan suaranya yang seperti burung beo. Ia mendadak kalem setelah apa yang terjadi pada anaknya, Elis. karena tidak ada yang harus dia banggakan lagi pada anaknya tersebut. Sebenarnya Bu Retno masih malu bertemu dengan penduduk komplek. Namun, ia terpaksa harus keluar karena butuh bahan bahan untuk di masak.
"Bu Retno gimana kabarnya Elis? kapan nikahnya sama haji Imron?" tanya seorang ibu yang tidak di undang ke acara lamaran Elis.
"Minggu depan Bu Irma, akan ada hajatan besar di komplek kita. Bu Nuning jangan mau kalah sama Bu Retno yang sebentar lagi akan memiliki menantu dan seorang cucu. Si Siti kalau saya ngga salah umurnya udah dua puluh delapan tahun ya, masak kalah sama si Elis yang usianya baru sembilan belas tahun ya ngga Bu Irma?"ucap Bu Yayuk. Ia sengaja menyindir dua orang tersebut yang kerap kali menghina Norin.
"Betul Bu Yayuk. tau sendiri kan di komplek kita ini banyak mulut nyinyir nya. Awas lho Bu Nuning si Siti kalau ngga buru buru di nikahin bisa di sebut perawan tua apa lagi umurnya udah dua puluh delapan tahun," Bu Irma yang tau dua mulut tajam dua orang ini pun ikut menimpali.
"makannya Bu ibu kita selaku orang tua yang memiliki anak baik itu anak laki laki atau anak perempuan harus bisa menjaga sikap terhadap orang lain. jangan sampai membiarkan lidah kita mengeluarkan kata kata yang dapat menyakiti perasaan orang lain. siapa tau orang yang kita sakiti hatinya oleh lidah kita membuat dia mengeluarkan doa yang jelek terhadap kita," Bu Wati ikut berbicara.
Bu Retno dan Bu Nuning yang merasa dirinya sedang di sindir hanya terdiam saja. Karena mereka kehabisan bahan omongan untuk membela diri. Apalagi anaknya Bu Retno seperti membuang kotoran ke mukanya saja.
Tak selang lama, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Bu Yayuk. Mereka semua menoleh pada mobil tersebut. Muncul seorang pria gagah dari balik pintu mobil dan berjalan ke arah mereka membuat semua orang terdiam dari memilih milih sayurannya.
"Selamat pagi ibu ibu!" sapa Rio sambil tersenyum manis.
"Oala ini mas ganteng yang semalam itu ya?"
"Betul Bu Yayuk."
"Wah, terharu saya, si mas masih ingat sama saya saja."
" Ingat lah Bu, kan baru semalam."
"Mas Rio ada perlu apa pagi pagi kemari?"
"Apa saya kepagian ya ke sini nya?"
Norin tersenyum."apa mas Rio mau mampir ke rumah?"
"Apa kamu nya ngga sibuk dek?"
"Saya sudah selesai mas, mari kalau mau mampir ke rumah saya."
Rio tersenyum dan mengangguk lalu mengikuti Norin dari belakang.
"Itu siapanya mba Norin Bu Yayuk?" tanya Bu Irma penasaran.
"Oh, itu salah satu fans nya mba Norin Bu Irma."
"wah, hebat mba Norin punya fans ganteng kayak gitu? tapi kalau saya perhatikan mba Norin ini teman laki lakinya semua ganteng ganteng ya."
"bukan perasaan lagi Bu Irma tapi kenyataan. dan bukan cuma ganteng doang tapi semuanya berkelas dan berduit tebal. ya wajar sih kan mba Norin nya juga cantik banget dan berkelas jadi ya berteman nya juga dengan orang orang berkelas."
__ADS_1
"waktu itu saya pernah melihat mba Norin sama cowok ganteng banget mirip artis Korea Bu Yayuk."
"Oh, kalau cowok yang mirip artis Korea itu ya pacar nya mba Norin Bu Irma. dan Bu Irma tau ngga pabrik besar PT Nobland Indonesia?"
"Ya ya saya tau Bu Yayuk."
"Nah itu, pacar mba Norin itu ya pemiliknya."
"Hah, seriusan Bu Yayuk?"
"Kalau ngga percaya cari di internet aja Bu Irma, pemilik PT Nobland Indonesia anak cabang Nobland Group di Korea siapa pemiliknya. saya aja awalnya ngga percaya tapi pas saya searching di internet benar aja pemiliknya ya tuan Shin pacarnya mba Norin. bahkan kabarnya sebentar lagi mereka mau nikah lho Bu Irma."
"hah, beneran Bu Yayuk?
"tanya aja sama mba Norin kalau ngga percaya."
Bu Retno dan Bu Nuning terperangah kemudian mereka segera pulang ke rumah masing masing setelah membayar belanjaannya.
Bu Yayuk tertawa cekikikan setelah dua orang tersebut pulang. Ia puas sekali rasanya meskipun ucapannya sebuah kebohongan yang penting rasa kesalnya selama ini tersalurkan dan puas melihat mereka terpuruk.
"Ada apa ya mas?"tanya Norin ketika mereka ada di ruang.
"hmm, apa dek Norin punya acara hari ini?"
"Ngga ada sih, emang ada apa mas?"
"Tadinya saya mau ngajak si Intan buat ngantar saya tapi dia bilang ada acara dengan suaminya."
"Terus?"
"Mau apa mas?"
"Ada yang mau saya beli dek karena saya tidak hafal kota ini."
"Hmm, yaudah mas tapi saya mandi dulu ya?"
"Iya dek, santai aja saya juga tidak buru buru kok.
Setelah itu, Norin bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sebenarnya mas Rio mau mencari apa ya?" tanya Norin setelah mereka berada di perjalanan.
"Mau cari toko mas yang bagus dek," jawab Rio sambil mengemudikan mobilnya.
"Oh, biasanya kalau toko mas yang bagus adanya di mall mas Rio dan di sana juga tokonya banyak pilihan."
"O begitu, ya sudah kita ke mall saja."
Tiba di sebuah mall paling besar di kota tersebut Rio memarkiran mobilnya. Kemudian, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam mall besar itu.
"Tolong pilihkan dan cobain dek yang mana menurut dek Norin cincin yang bagus?"titah Rio ketika mereka sudah berada di sebuah toko mas.
"memang cincinnya untuk siapa mas?"
"untuk wanita yang sangat spesial dek."
__ADS_1
"apa mas Rio sudah memiliki kekasih lagi?" Norin bermonolog.
"dek Norin....!"
"Oh, iya mas maaf. Tapi kalau nanti tidak cocok bagaimana?
"inshaallah cocok dek. tidak usah khawatir."
Norin memilih cincin yang menurutnya bagus dan cocok di jari nya.
"Udah dapat dek?"
"udah, yang ini mas," ucap Norin sambil memperlihatkan cincin di jarinya.
"Wah, iya. cocok sekali. Saya pesan yang ini ya mba," ucap Rio pada penjaga mas tersebut.
Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah memperhatikan mereka di luar toko dengan tangan mengepal.
"Dasar perempuan murahan, di beri barang murahan saja sudah tergoda."
Kemudian, pria tersebut pergi meninggalkan dua orang yang sedang membeli cincin.
"Dek, kita makan siang dulu yuk?"ajak Rio setelah mereka keluar dari toko mas tersebut.
Norin mengangguk. Kemudian, mereka memasuki sebuah restouran dan memesan makanan.
"ehem, Dek Norin mungkin ini terlalu cepat buat dek Norin tapi terlalu lama bagi saya. Saya bukan tipe pria yang bisa berkata romantis. Namun, saya ingin mengatakan jika perasaan saya tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang bahwa saya masih tetap mencintai dan menyayangi dek Norin."
Norin terperangah mendengar penuturan pria di hadapannya.
"mas...!"
"iya dek saya tau....tapi sangat sulit bagi saya untuk menghilangkan perasaan ini di dalam hati serta pikiran saya dek. saya tau bahwa saya bukan pria sempurna. Saya banyak memiliki kekurangan mungkin saya juga bukan tipe pria yang dek Norin inginkan. Saya memang bukan orang yang memiliki harta banyak tapi saya memiliki kasih sayang yang melimpah pada dek Norin. Dan sekarang di hadapan dek Norin saya memberanikan diri untuk....melamar dek Norin kembali. Apakah dek Norin mau menjadi istri saya?"
Norin menatap lekat mata teduh pria di hadapannya, ada keseriusan serta ketulusan di sana.
"Ya Allah, hanya mas Rio satu satunya pria yang tulus mencintaiku dan hanya mas Rio satu satunya pria yang memintaku untuk menjadi istrinya. Apakah mas Rio benar benar pria yang telah kau kirimkan untuk menemani sisa hidupku ini ya Allah." Setetes air mata menetes ke pipinya.
"Dek.....!"
Norin menghapus air matanya lalu Norin mengangguk."Ya mas, saya mau menjadi istri mas Rio."
"ka kamu serius dek menerima lamaran saya?"
"iya mas."
Rio tersenyum."alhamdulilah, alhamdulilah ya Allah. Terima kasih dek, terima kasih sudah menerima saya. Sekarang saya pakaikan cincinnya ya dek."
"jadi cincin ini untuk melamar saya mas?"
Rio tersenyum," iya dek." Kemudian Rio memasangkan cincin tersebut di jari manis Norin.
"apa boleh saya mencium tangan ini dek."
Norin terdiam namun tak lama mengangguk. Rio tersenyum lalu mengecup punggung tangan Norin.
__ADS_1
"Pemandangan yang menjijikan," ucap seorang pria dengan sengit sambil mengepalkan kedua tangannya.