
"Hayoloh, Ga, semalam kamu mimpi apa sih kok aku perhatiin dari tadi senyum terus."
Mereka langsung bangun ketika suara Ustad Soleh bergema dari pengeras suara masjid. Bila suara Pak Soleh sudah terdengar maka itu artinya waktu sholat malam akhirnya tiba. Mereka harus segera bangun untuk mengambil air wudhu ke bawah. Jangan lupakan jika mereka harus turun mengendap-endap ke bawah agar tidak ditemukan oleh orang lain bila tadi malam mereka tidur di atas.
Tapi anehnya, mereka tidak melihat siapa pun dibawah. Untuk Ai dan Asri, ini adalah kebetulan yang sangat diharapkan. Tapi bagi Mega ini bukanlah sebuah kebetulan tapi perlindungan dari Ustad Azam.
"Semalam?" Dia tidak pernah bermimpi apa-apa. Tapi tidurnya bisa dipastikan sangat nyaman.
"Aku gak ada mimpi-mimpi apa, kok." Dia mengakui dengan jujur.
Saat ini mereka bertiga mengambil saf sholat yang paling depan, berdiri langsung di depan pagar pembatas. Ini spot yang sangat bagus apalagi dari sini mereka bisa melihat para santri laki-laki dan imam sholat.
"Terus kenapa dari tadi kamu senyum-senyum sendiri?" Asri perhatikan semenjak bangun tidur Mega terlihat jauh berbeda daripada semalam.
Dia jadi mudah tersenyum dan terkadang ada suara tawa kecil keluar dari mulutnya. Hampir saja dia mengira Mega sedang kesurupan penjaga masjid.
"Tersenyum adalah perbuatan baik dan sedekah yang paling mudah. Bukankah banyak tersenyum artinya telah melakukan banyak sedekah?" Mega menjawab santai.
Untuk saat ini mengenai pembicaraannya dengan Ustad Azam semalam ia rahasiakan dulu sampai waktu yang paling tepat ia akan memberitahu Ai dan Asri.
__ADS_1
"Kamu benar," Jawaban Mega memang masuk akal dan tidak ada yang salah tapi.. kenapa dia merasa jika jawaban ini terdengar agak tidak cocok, yah?
"Mega, tahukah kamu bila saat ini kedua pipimu terlihat agak merah. Apa kamu demam?" Tanya Ai setelah ikut mengamati Mega.
Dia juga merasa saat ini Mega agak berbeda. Dia lebih mudah tersenyum dan terlihat jauh lebih lembut dari biasanya.
"Tidak, aku tidak demam. Ini.. mungkin karena di sini terlalu panas makanya wajahku menjadi merah." Jawabnya berbohong seraya mengipas-ngipasi wajahnya.
Panas?
Ai dan Asri tidak merasa kepanasan. Justru sebaliknya, mereka merasa malam ini dingin apalagi saat tidur tadi, itu sangat nyaman.
"Jangan berbicara lagi, ini di dalam masjid. Daripada berbicara lebih baik kita perbanyak zikir saja." Ujar Mega melarikan diri dari topik pembicaraan.
Asri langsung menutup mulutnya.
Tidak lama kemudian lantai dua maupun lantai satu masjid dipenuhi oleh santri. Setelah semua orang berbaris di saf masing-masing, sholat malam pun akhirnya dimulai.
"Allahuakbar."
__ADS_1
Deg
Ai seketika mematung di tempat. Kedua tangan yang seharusnya terangkat tinggi ke atas menggemakan takbir menjadi beku. Dia terkejut, niat sholat sunah yang sebelumnya ia bisikkan tadi segera buyar entah kemana. Dia linglung, kedua matanya yang indah berbentuk buah persik berkedip tidak sabar mencari sosok tampan yang telah lama memenuhi hatinya.
Dan di sana,
Tempat yang hanya bisa dimiliki oleh seorang imam pemimpin sholat kini ditempati oleh sosok pemilik punggung lurus nan tegap itu. Sudah berbulan-bulan ia tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dan malam ini, malam penuh keridhoan dari Allah mereka dipertemukan lagi dengan cara yang sangat indah.
"Ustad, akhirnya kamu pulang.." Bisiknya menahan rindu.
Tangannya yang tadi terangkat entah sejak kapan sudah berada di depan dada datarnya, menyentuh dan merasakan semburan rasa manis yang sudah lama ia rindukan.
Lalu suara lembut nan merdu milik Ustad Vano melantunkan ayat-ayat suci menarik Ai kembali dari semua rasa euforia kebahagiaan yang ia rasakan. Dia tersadar, melirik ke kiri dan ke kanan, ternyata hanya dirinyalah yang masih belum masuk ke dalam sholat.
Ai tiba-tiba menjadi malu. Ia berusaha menenangkan pikiran dan hatinya sebelum mengangkat kedua tangannya menggemakan takbir.
Dalam sholatnya, Ai seolah berdiri di hadapan Allah SWT, pemilik cinta yang paling indah nan tulus. Ketika bersujud Ai tidak kuasa menahan harunya, berbisik kepada Sang Pemilik Hati melalui hatinya.
Ya Allah, terimakasih.
__ADS_1