Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
kembali kerja


__ADS_3

Malam menjelang pagi. Norin mengejapkan matanya perlahan, ia mendengar suara berisik ibu ibu yang tengah mengobrol di jalan depan rumahnya. Norin bangkit lalu menyeret kedua kakinya untuk mengintip di balik tirai jendela. Nampak ibu ibu sedang membeli sayuran di tukang sayur.


"Oia, aku ngga punya stok makanan di kulkas."


Norin belum sempat berbelanja ke pasar setelah kepulangannya dari kampung. Norin melihat jam wekernya sudah menunjukan pukul setengah tujuh, masih ada waktu untuk masak dan sarapan sebelum berangkat kerja.


Kemudian, Ia membasuh mukanya lalu keluar rumah untuk membeli bahan makanan di tukang sayur.


"eh, mba Norin. udah lama banget baru keliatan lagi,"tanya tukang sayur pada wanita yang baru saja membuka pintu pagar rumah nya.


Norin tersenyum lalu mendekat pada tukang sayur."iya mang Udin. saya baru pulang kampung."


"oh, jadi mba Norin pulang kampung toh, pantesan baru keliatan lagi,"ucap Bu Wati.


"abis pulang kampung apa abis pulang nge ja la ng," celetuk Bu Retno dengan sinis.


Bu Wati menyenggol lengan bu Retno. Norin tersenyum tipis." biarin aja Bu Wati terserah Bu Retno mau ngomong apa. Oia mang udin, saya ambil ayam serta sayuran capcay berapa semuanya?"


"buru buru amat belanjanya mba Norin?" tanya tukang sayur.


"iya mang, masih banyak urusan penting yang harus saya urus ketimbang ngurusin omongan orang yang suka fitnah. ini mang uangnya." Norin memberikan uang pas pada tukang sayur.


Bu Retno mendelik kan matanya.


"mari Bu Wati saya duluan."Norin buru buru masuk ke dalam rumahnya.


"jangan ngomong gitu Bu Retno ngga ada bukti jatuhnya fitnah. ibu kan punya anak perempuan gimana kalau omongan Bu Retno berbalik sama si Elis?" ucap tukang sayur.


"ngga mungkin, anak saya mah gadis baik baik. ngga mungkin nge ja la ng kayak si Norin."


tukang sayur dan Bu Wati menggelengkan kepala mendengar ucapan Bu Retno.


Norin menaiki angkot menuju tempat kerjanya. Hari ini adalah hari pertamanya masuk kerja setelah satu bulan lebih meninggalkan pabrik. Norin turun dari angkot dan berbaur dengan karyawan produksi masuk ke dalam pabrik.


Setelah itu, Norin memasuki ruang kerjanya yang terletak di dalam gudang. Ruangan itu sudah tampak terang dalam arti sudah ada salah satu staf nya yang masuk keruangan tersebut.


Norin menarik gagang pintu dan nampak seorang pria dewasa sudah berada di meja kerjanya.


"pak Arief...!" sapa Norin.


Pria itu menoleh pada wanita yang menyapa lalu berdiri." mba Norin sudah kembali masuk?"


"sudah pak." kemudian Norin duduk di kursi yang ia rindukan.

__ADS_1


Norin menoleh pada Arief hendak menanyakan perihal pekerjaan selama ia tinggal. Namun, orang yang mau ia tanyai sedang duduk melamun.


"pak Arief kenapa ? apa ada masalah dengan pekerjaan?"


Arief menoleh pada Norin lalu ia bangun dan berjalan mendekati Norin.


"apa saya boleh tanya sesuatu sama mba Norin?"


"mau tanya apa pak?


"begini mba, mba Norin kan tetanggaan sama Elis, apa mba Norin tau atau pernah melihat ada pria yang kencan ke rumahnya atau dia jalan ke luar sama seorang pria?"


Norin mengerutkan dahinya."wah, kurang tau ya pak, saya jarang banget ketemu Elis meskipun tetanggaan. lagi pula sebulan ini saya berada di kampung pak."


"oh gitu ya mba."


"emang ada apa ya pak? maaf kalau saya boleh tau.


"hm, saya bingung mba, sudah dua bulan ini Elis sikapnya berubah mba, dia sering menolak kalau ketemu saya. tapi tadi malam tiba tiba dia datang ke rumah dan meminta saya untuk secepatnya nikahi dia. padahal selama ini dia selalu menolak kalau saya ajak nikah cepat dengan alasan bermacam macam.


Norin terdiam, ia tidak tau harus bicara apa sementara Norin sendiri tidak akrab dengan Elis.


"gimana ya pak, saya sendiri ngga tau harus ngomong apa karena memang saya tidak tau masalah Elis. apa ngga sebaiknya pak Arief datangi keluarganya terus tanyakan baik baik masalah keinginan Elis untuk minta nikah cepat."


Ceklek


Pintu terbuka, Dewi serta intan masuk dan mendapati Norin serta Arief sedang ngobrol.


"mba Noriinn." teriak dua wanita itu.


Mereka berdua menghambur memeluk Norin.


"kami kangen banget sama mba Norin."


Norin tersenyum." saya juga, gimana apa ada masalah pekerjaan ?"


"aman mba," jawab Dewi dan intan serempak.


"syukurlah."


Tak selang lama. Hendi muncul dari balik pintu lalu di susul Rina di belakang Hendi. Hendi tersenyum lebar melihat kehadiran Norin lalu menghampirinya. Sementara Rina memandang sinis ke arah Norin.


"selamat bekerja kembali mba Norin, apa kabar ?" tanya Hendi sembari mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Norin menyambut uluran tangan Hendi dan tersenyum lebar." hai Hendi, alhamdulilah kabarku baik. gimana apa ada masalah di gudang?"


"alhamdulilah aman dan lancar mba."


Norin menghembus nafas lega." syukurlah, kamu memang bisa diandalkan, siapa tau nanti kamu bisa gantiin posisiku."


"mba Norin ngomong apa sih, kayak mau kemana aja ngomong kayak gitu." lalu mereka tertawa bersama.


Rina semakin memandang kesal dan benci saja melihat dua orang yang sedang berbicara dengan akrab.


Semua kembali pada meja kerjanya masing masing dan melakukan aktifitasnya seperti biasa. begitu pula dengan Norin, ia mulai di sibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk.


Jam memasuki waktu makan siang, semua orang keluar ruangan kecuali Norin dan Rina. Norin memang tidak mau ke kantin karena ia membawa bekal.


Rina mendekati Norin yang sedang sibuk dengan layar laptopnya.


"kenapa kamu ngga selamanya aja sih ngga usah masuk kerja lagi?" tanya Rina dengan ketus.


Norin menoleh pada wanita yang berdiri di hadapannya sambil bersedekap dada. Lalu, ia menghela nafas. Norin tau wanita ini tidak menyukainya sejak lama dan Norin pun tidak mengetahui apa penyebab wanita ini membencinya.


"apa hak kamu melarang atau menyuruh saya untuk tetap bekerja atau berhenti dari pabrik ini? apa kamu memiliki jabatan lebih tinggi dari saya? atau kamu seorang bos pabrik ini?"


"sombong banget, baru aja punya jabatan asisten manager udah sombong apa lagi jadi bos pemilik pabrik ini."


"ini bukan perkara sombong atau tidak ya Rina? tapi masalah sikap kamu yang selalu memusuhi saya. saya mau tanya sama kamu, saya ini punya salah apa sama kamu sehingga kamu membenci saya dari dulu sampe sekarang?"


"cih, kamu memang pantas di benci dan aku benci banget sama kamu karena kamu udah merebut perhatian dari orang orang yang aku sayang," jawab Rina dengan dada naik turun.


"apa maksudmu Rina? perhatian siapa yang aku rebut dari kamu?"


"Hendi, kamu selalu mencari perhatian sama hendi. aku benci sama kamu Norin."


Norin mengerutkan dahinya lalu tiba tiba ia tertawa.


"ha ha ha... maksudmu aku mencari perhatian Hendi? oh, jadi selama ini kamu suka sama hendi sampe kamu musuhi aku? kenapa ngga ngomong dari dulu neng Rinaaa ? aku sama hendi ngga ada hubungan apa apa neng Rina. lagi pula aku udah anggap Hendi itu adik ku sama hal nya aku ke kamu."


Tanpa mereka sadari di balik pintu yang terbuka sedikit, sepasang telinga mendengarkan percakapan keras mereka.


"ja jadi selama ini Rina memusuhi Norin hanya karena dia suka sama aku ?" gumam Hendi lalu mengusap wajahnya. dia tidak menyangka di sukai sama wanita ketus dan jutek seperti Rina selama ini. Selama ini ia sibuk memikirkan bagaimana caranya mengungkap perasaanya pada Norin tanpa ia sadari di dekatnya ada wanita yang menyukainya.


"kamu tenang aja Rina, aku tidak mungkin menjalin hubungan dengan Hendi karena aku sudah menganggap dia sebagai adik tidak lebih."


Hendi merasa saliva nya tercekat di tenggorokan mendengar penyataan dari Norin bahwa dirinya hanya di anggap sebagai seorang adik.

__ADS_1


__ADS_2