Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 15.2)


__ADS_3

Apakah Umi mendengarnya? Dia mengakui sendiri bila rumor buruk ini berawal dari dirinya! Dia sengaja memfitnah Ai di pondok pesantren agar Ai dikeluarkan!" Mega berteriak marah, menunjuk Sari dengan tatapan keras kepala.


Tingkah lakunya yang berani dan terkesan kasar ini membuat Ustad Azam yang sedari tadi menonton perdebatan sampai harus geleng-geleng kepala. Tidak hanya dia saja, namun para Ustad dan petugas kedisiplinan asrama putri pun memberikan respon yang sama.


Sari tidak mengelak, ia mengakui bahwa ialah yang telah menyebarkan semua rumor itu.


"Baiklah, aku memang mengakui bila orang yang menyebarkan rumor itu adalah aku. Tapi maksud ku baik, Umi. Aku ingin dia segera dikeluarkan dari pondok pesantren karena telah menipu semua orang. Dia bukanlah seorang perempuan melainkan seorang laki-laki-"


"Bukti," Suara dingin seseorang mengintrupsi ucapan Sari.


Tiba-tiba perhatian semua orang jatuh pada seorang wanita dingin yang masuk bersama seorang laki-laki tampan. Sekilas, mereka semua tahu bila wanita dan laki-laki itu adalah pasangan suami-istri melihat sebuah cincin pernikahan tersemat di jari manis masing-masing. Akan tetapi hal yang paling membuat orang-orang bertanya adalah siapa pasangan suami-istri ini dan apa alasan mereka datang ke sini, masuk ke pondok diwaktu yang tidak tepat. Dengan kata lain pondok pesantren tidak akan mengizinkan siapapun berkunjung bila waktu sudah masuk pukul 8 malam ke atas. Ini adalah aturan.


Tapi, mengapa pasangan suami-istri ini bisa masuk ke dalam pondok pesantren dan bahkan bisa leluasa masuk ke dalam pembicaraan mereka?


"Mereka datang! Mereka benar-benar datang!" Mega senang bercampur gugup.


Asri, Ratna- pelaku perkelahian dengan kompak bertanya kepada Mega.


"Mereka siapa?" Bisik mereka di sela-sela ketegangan.


Mega menjawab cepat,"Mereka adalah kedua orang tua Ai!"


"Ah," Mereka berdua kompak terkejut.

__ADS_1


"Maukah kamu memberikan ku sebuah bukti jika Aishi Humaira adalah seorang laki-laki dan pernah melakukan operasi transgender?" Tanyanya masih dengan nada yang dingin tapi tidak memandang rendah lawan bicaranya.


"Bunda sama Ayah kenapa datang ke sini?" Suara shock Ai kembali menarik perhatian mereka semua.


Tidak heran jika pasangan suami-istri ini datang ke sini, ternyata mereka adalah kedua orang tua dari Aishi Humaira, gadis cantik yang memiliki sebuah rumor buruk.


Safira menoleh ke arah sumber suara, duduk di tengah-tengah sofa, Ai kini sedang menatapnya dengan wajah terkejut dan kedua mata yang memerah. Ia terlihat lebih gembil dari terakhir kali mereka bertemu, ini adalah kabar yang sangat baik untuk Safira.


Di dalam hati ia bertanya-tanya, apakah lingkungan pondok pesantren di sini sangat nyaman dan aman untuk putrinya melihat betapa sehat ia hari ini.


Safira tersenyum lembut kepada Ai, kemudian ia beralih menyapa semua orang dengan sebuah tatapan singkat.


"Assalamualaikum semuanya, maaf aku dan suamiku langsung masuk tanpa meminta izin." Dia lalu beralih menatap Umi dan Pak Kyai yang sedang duduk di sofa, mengangguk sopan sebagai permintaan maaf.


Pak Kyai dan Umi mengangguk ringan dengan senyuman hangat yang mulai terbentuk di wajah mereka.


"Nak, ini adalah kelalaian kami sehingga kalian berdua terpaksa harus jauh-jauh datang ke sini untuk menyelesaikan masalah." Ucap Umi dengan nada permintaan maaf.


Ali menghiburnya,"Tidak ada yang menginginkan masalah ini terjadi dan kedatangan kami pun adalah bagian dari rencana Allah, Umi."


Pak Kyai mengangguk ringan.


"Kamu selalu menjadi orang yang bijak."

__ADS_1


Dari pembicaraan singkat ini semua orang yang ada di dalam dapat membuat kesimpulan bahwa kedua orang tua Ai sudah saling mengenal dengan Pak Kyai dan Umi.


Setelah berbicara singkat dengan pemilik pondok, Safira dan Ali kembali fokus menyelesaikan masalah Ai.


Mereka berdua duduk di hadapan semua pasang mata, tampak anggun dan berwibawa. Menurut orang-orang di sini, Ali dan Safira adalah orang kaya yang berkelas namun tampil dengan kesederhanaan. Pakaian yang mereka gunakan tidak mencolok, dan bahkan hanya ada satu cincin yang tersemat di jari manis Safira, dan itupun sebuah cincin pernikahan, bukan perhiasan biasa. Dari hal kecil ini saja semua orang bisa membayangkan betapa sederhana kehidupan keluarga Ai.


"Aishi Humaira, bangunlah dan duduk di sini." Pinta Safira.


Ai sangat senang tapi rasa khawatir dan gugup lebih mendominasi suasana hatinya saat ini. Ia lagi-lagi membuat kedua orang tuanya harus turun tangan.


Ragu, Ai bangun dari duduknya.


"Kemari lah, Nak." Ali meraih tangan putrinya, menggenggamnya lembut dengan rasa aman seorang Ayah, membiarkannya duduk diantara ia dan Safira.


"Aku akan mengulangi lagi pertanyaan ku sebelumnya." Kata Safira kini lebih serius dari sebelumnya.


"Apakah kamu mempunyai bukti bahwa putriku, Aishi Humaira adalah seorang laki-laki dan telah melakukan operasi transgender?"


Bersambung..


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, semuanya. Maaf baru up sekarang. Saya gak niat untuk PHP-in tapi kondisi saya beberapa ini kurang fit dan chapter ini saja saya paksakan nulis dari pukul dua siang.


Jadi mohon pengertiannya. Inshaa Allah saya akan berusaha update lagi malam ini, Inshaa Allah.

__ADS_1


__ADS_2