Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
(Bab 2) Donor


__ADS_3

Rain tenggelam dalam rasa sakitnya disaat orang-orang diluar sana sibuk tertawa menyebarkan harapan manis untuk pasangan kekasih itu di masa depan nanti.


"Hari ini pasti akan datang juga." Bisik Rain seraya mengusap air mata di wajahnya.


Ia tersenyum kecil, mengambil nafas panjang sebelum turun dari ranjang dan berjalan mendekati jendela kamarnya. Ia menarik kain gorden, menyingkap suasana malam yang tidak kalah indahnya dengan suasana di dalam pesta itu. Seolah-olah Tuhan ikut merayakan kebahagiaan hari bahagia Almira dan Deon.


"Dan hari dimana mereka mengikat janji suci di dalam sebuah pernikahan juga akan segera datang, aku hanya perlu mempersiapkan hatiku." Bisiknya sendu.


Tangan kurusnya yang tidak berdaging mendorong sisi jendela ke samping sehingga angin malam yang sarat akan kesejukan dan rasa dingin bisa masuk menyapa kamar sunyi nya.


"Lalu, aku harus mempersiapkan hatiku untuk mendapatkan kabar bahagia dari mereka. Laki-laki ataupun perempuan aku yakin anak-anak itu pasti akan menuruni wajah tampan Deon dan wajah cantik Almira. Sampai hari-hari penuh kehangatan itu tiba, aku berharap hatiku tidak akan sesakit ini lagi."


"Atau mungkin..." Ia menatap hamparan langit malam di depannya dengan suasana hati yang tidak cukup untuk dikatakan baik atau buruk.


"Aku bisa melupakan semua rasa cintaku kepada Deon-"


"Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi!" Teriakan nyaring dari tempat pesta segera menarik fokus dan pikiran Rain.


Ia terkejut, buru-buru mengusap wajahnya sebelum keluar dari kamar ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di tempat pesta. Begitu sampai di aula, ia sangat terkejut melihat orang-orang mulai berkumpul di atas podium. Tidak berselang lama, sosok kuat Deon keluar dari kerumunan dengan tubuh lemah Almira di dalam pelukannya.


Almira tampak pucat dan mulai tidak sadarkan diri. Membuat Mama, Papa, dan bahkan semua orang menjadi panik. Mereka dengan langkah tergesa-gesa keluar dari aula pesta mengikuti langkah cepat Deon keluar.


"Apa yang sedang terjadi?" Rain masih belum bisa mencerna situasi.


"Apa kamu bodoh? Tidakkah kamu melihat kondisi adikmu saat ini memburuk!" Kata-kata pedas Bibi Mei mengejutkan Rain.


Sontak saja, ia segera mengecilkan lehernya sebagai respon pertama. Bibi Mei berdecih tidak senang melihat Rain, menurutnya Rain terlalu pengecut dan dilahirkan sebagai beban di keluarga ini. Tidak seperti Almira yang sudah memiliki pekerjaan tetap, Rain masih berjalan di tempat belum menghasilkan kemajuan apa-apa.


"Penyakit Almira kambuh lagi?" Rain akhirnya menyadari apa yang baru saja terjadi.


Bibi Mei tidak berniat menjawabnya dan malah mendengus tidak senang, ia lalu membawa langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi bermerk menyusul orang-orang ke rumah sakit. Ia sangat khawatir dengan keponakan kesayangannya itu, jika bisa, ingin sekali ia mengirim penyakit Almira ke tubuh Rain agar hidupnya di dunia ini sedikit berguna.


"Aku...aku akan ikut ke rumah sakit." Melihat Bibi Mei langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa, Rain buru-buru mengejarnya.


Namun dia sedikit terlambat karena Bibi Mei sudah pergi dengan mobil pribadinya. Rain bingung, sudah tidak ada mobil lagi di rumah.


"Aku akan naik taksi saja!" Putusnya buru-buru menuruni tangga dan berlari kecil menuju halaman depan.


Beruntung ada taksi yang kebetulan lewat di depannya. Dengan taksi itu, ia menyusul orang-orang ke rumah sakit A, rumah sakit kelas atas yang sudah sering Rain datangi setiap kali menemani adiknya melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


15 menit kemudian Rain sampai di depan rumah sakit. Ia langsung masuk ke dalam dan mencari bangsal adiknya setelah bertanya di depan meja administrasi.


"Kondisi Almira sudah seperti ini Pa, jadi mau tidak mau kita harus segera menemukan pendonor untuknya." Suara Mama yang sarat akan perasaan lelah dan khawatir kebetulan juga di dengar oleh Rain yang baru saja datang.


Ia berdiri diam dengan canggung.


"Mama harus tenang, kita semua sedang berusaha menemukan pendonor ginjal yang cocok untuk Almira. Bahkan teman-teman Papa diluar negeri juga ikut membantu jadi Mama harus yakin jika Almira pasti menemukan ginjal yang cocok untuknya." Papa merangkul Mama sayang, berbagi kehangatan untuk saling menguatkan.


Rain sedih, ia membuka mulutnya ingin mengatakan kata-kata penghiburan kepada kedua orang tuanya tapi lebih dulu diinterupsi oleh Bibi Mei dan Bibi Lara.


"Kakak, kenapa tidak donorkan saja salah ginjal Rain kepada Almaira?" Tanya Bibi Mei heran.


Bibi Lara pun berpikiran yang sama,"Benar, Kak. Kenapa kalian tidak menggunakan salah satu ginjal Rain untuk didonorkan kepada Almira. Bukankah mereka adalah saudara?"


Logikanya, mereka berpikir jika Rain bisa mendonorkan Almira salah satu ginjalnya hanya karena mereka memiliki hubungan darah.


Rain langsung diam membisu, entah kenapa rasanya agak tidak nyaman mendengar mereka membicarakannya dengan nada seperti itu.


"Tidak mungkin," Papa segera menolak.


"Ginjal Rain tidak cocok untuk Almira. Seandainya hasil tes kemarin cocok, Almira pasti sudah melakukan operasi hari ini."


Ah, benar.


Almira memiliki penyakit gagal ginjal. Awalnya hanya satu, tapi karena ginjal yang lain terlalu terbebani dan donor tidak kunjung-kunjung ditemukan, maka ginjal Almira yang lain juga mengalami kerusakan sehingga ia terpaksa harus bolak-balik rumah sakit setiap minggu.


Di antara kesempurnaannya, ia hanya memiliki kekurangan ini tapi masih sangat dicintai oleh banyak orang.


Berbeda dengan Rain, dia memiliki kekurangan tapi entah mengapa orang-orang sulit mengasihaninya meskipun mereka adalah keluarga.


"Dia pasti sangat sedih." Bisik Rain diam-diam menatap wajah tertunduk Deon yang sedang duduk di kursi tunggu.


Deon tidak pernah berbicara namun tangannya tidak berhenti mengirim pesan darurat ke semua orang yang bisa ia mintai bantuan. Cintanya kepada Almira benar-benar tulus sehingga ia tidak pernah pantang menyerah mencari donor yang cocok untuk Almira.


"Jika saja aku bisa mendonorkan milikku," Rain membawa pandangannya menatap lantai putih yang sejujurnya tidak menarik sama sekali.


"Aku tidak akan pernah ragu mendonorkan kedua ginjal ku kepada Almira. Karena dengan begitu Deon tidak bersedih lagi dan adikku tidak akan kesakitan lagi." Bisiknya lemah.


"Tapi aku tidak bisa....aku tidak tahan rasa sakit." Gumamnya merasa bersalah.

__ADS_1


Rain berdiri di tempat yang tidak terlalu mencolok dengan mulut yang tertutup rapat. Kedua mata persik nya yang cantik sesekali memperhatikan wajah-wajah panik mereka, dan sesekali pula ia akan memperhatikan wajah lelah dan frustasi Deon. Ingin, ingin sekali ia mendekatinya untuk sekedar memberikan kata-kata penghiburan tapi ia tidak bisa karena sejak Deon dan Almira mengkonfirmasi hubungan mereka maka sejak itu pula ia secara alami menjaga jarak darinya.


Perlahan dia mulai menjadi lebih banyak mengurung diri di dalam kamar, kembali pada kebiasaan masa kecilnya yang kesepian. Dan secara perlahan pula ia mulai melepaskan diri dari label pertemanannya dengan Deon, menggunakan alasan sibuk sekolah dan belajar sebagai penjara yang akan membatasi langkahnya semakin dekat dengan Deon.


Dia sudah melakukannya, sudah 5 tahun.


"Dia tidak bisa kembali ke rumah. Kondisi Almira benar-benar buruk dan harus segera mendapat donor ginjal dalam waktu dekat." Dokter Adit, dokter yang selama ini menangani Almira akhirnya keluar setelah melakukan pemeriksaan serius.


Wajah Deon dan Papa langsung berubah. Mereka terlihat sangat frustasi.


"Berapa lama ia bisa bertahan?" Papa bertanya hati-hati.


Dokter Adit menjawab dengan hati-hati pula.


"Paling lama 3 bulan dia harus segera mendapatkan donor. Jika tidak, saya yakin Anda tahu hasil akhirnya."


Kondisi Almira sudah masuk dalam tahap kritis. Tanpa bantuan alat-alat medis di dalam, ia mungkin tidak bisa bertahan lama. Namun, sekalipun ia menggunakan bantuan alat-alat medis, kehidupan Almira belum tentu bisa diselamatkan. Pada akhirnya semua ini tergantung pada kerja keras mereka mencari pendonor dan kemauan keras Almira bertahan hidup.


Mereka harus bekerja lebih keras lagi untuk segera mendapatkan pendonor bila tidak ingin Almira menghilang dari dalam hidup mereka.


"Aku akan menghubungi teman-teman ku di luar negeri. Mereka bilang ada ginjal yang cocok untuk Almira tapi mereka masih belum memastikannya secara langsung karena sang pendonor masih ragu mendonorkan ginjalnya." Ini adalah kabar baik sekaligus kabar buruk untuk semua orang.


Meskipun buruk, setidaknya mereka masih memiliki harapan Almira bisa diselamatkan.


"Pendonor harus bersiap-"


"Dia memiliki sebuah penyakit dan untungnya ginjal pendonor tersebut baik-baik saja." Implikasinya calon pendonor bersedia mendonorkan ginjalnya karena batas hidupnya di dunia ini tidak akan lama lagi.


Dokter Adit menghela nafas panjang, ia tidak tahu antara merasa lega karena Almira bisa diselamatkan atau justru bersimpati karena pendonor harus meregang nyawa.


"Baiklah, kami akan menunggu kabar selanjutnya darimu."


Malam itu Mama dan Papa tidak pulang ke rumah, bahkan Deon pun terpaksa membawa dokumen-dokumen penting perusahaannya ke rumah sakit agar bisa menemani sang kekasih.


Sedangkan Rain, dari awal kedatangannya sampai dengan saat ini masih belum ada satu orangpun yang menyadari keberadaannya- oh, mungkin lebih tepatnya mereka tidak mau berurusan dengan dirinya.


Rain tidak berkecil hati. Ia segera pulang ke rumah begitu melihat orang-orang juga pulang. Ia tidak bisa mengganggu kedua orang tuanya karena mereka saat ini sedang kalut dan ia juga tidak bisa tinggal di sana karena pengunjung dibatasi tidak boleh lebih dari 3 orang.


Hari-hari ini terus berlanjut sampai 1 minggu kemudian. Papa tiba-tiba memintanya menghadiri sebuah acara pertemuan bisnis atau mungkin lebih tepatnya ini lebih pantas disebut sebagai ajang pamer dari para orang kaya.

__ADS_1


Rain terpaksa mengikuti keinginan Papanya karena ia juga tidak bisa mengeluh. Papa sangat sibuk sejak Almaira menjalani rawat inap di rumah sakit.


__ADS_2