
"Kamu berhasil menarik perhatian ku.. wahai pengikut Fatimah RA." Ucap laki-laki itu dengan suara yang lirih.
Dia berdiri menyamping, kedua mata teduhnya menatap wajah damai Asri yang sudah terlelap masuk ke dalam dunia mimpi. Beberapa kali mereka berpapasan, entah itu dari jarak dekat maupun jauh, dia tidak pernah menyadari bagaimana perasaan Asri kepadanya.
Di matanya, Asri sama seperti santri wanita yang lain. Namun, dia mempunyai kelebihan yang jarang dimiliki oleh santri wanita yang lain. Dia bukan wanita pemalu dan juga sangat ceria. Seringkali dia memperhatikan Asri karena mulut cerewetnya yang tidak berhenti berbicara dan tingkah anehnya yang mudah membuat orang tertawa.
Dari semua itu dia tidak pernah mengira jika Asri memendam rasa kepadanya.
Mungkin dia tidak akan pernah tahu tentang perasaan Asri jika dia tidak iseng mengikuti mereka bertiga naik ke lantai dua masjid. Semua ini terjadi murni karena dia ingin menjalankan tugas sebagai petugas kedisiplinan.
"Hatiku sepenuhnya ada digenggaman Allah." Dia berkata lembut. Memalingkan wajahnya dari Asri dan berdiri lurus menatap bulan di langit sana.
__ADS_1
"Jika kamu benar-benar menginginkannya maka rayu lah Allah, Sang Maha Pembolak-balik. Bujuk Dia agar hatiku di arahkan kepadamu sembari aku juga di sini mencoba memantaskan diriku untukmu. Wahai pengikut Fatimah RA, bila Allah sudah berkehendak jarak di antara kita tidak ada apa-apanya. Kaya dan miskin, itu hanyalah ujian dan tidak sepatutnya menjadi pembanding. Maka janganlah takut, kejarlah harapan mu dan terus lambung kan namaku di setiap sujud mu. Insha Allah, aku juga akan mencoba mengikuti jejak Ali bin Abi Thalib. Melambungkan nama mu di sepertiga malam agar ketukan yang kita berdua buat di langit dijawab oleh Allah SWT. Jadi, teruslah melangkah dan serahkan semuanya kepada Allah. Bila kita berjodoh maka kita akan dipersatukan tapi jika kita tidak berjodoh maka akhirnya akan seperti yang kamu katakan sebelumnya, Allah akan mengirimkan orang lain yang mungkin lebih baik dari nama yang kita langitkan."
Setelah mengatakan itu dia lalu pergi dari lantai dua masjid dan menetap di lantai satu. Malam ini dia memutuskan tidak kembali ke asrama karena ada tiga santri wanita yang harus dia awasi di dalam masjid. Tidak ada yang tahu mengenai mereka bertiga di lantai dua kecuali dirinya sendiri.
Mereka bertiga melanggar aturan namun dia tidak tega melaporkannya ke pihak pondok. Jadi, untuk sekali ini saja dia melalaikan tugasnya, dan ini adalah pengalaman pertamanya melanggar aturan setelah sekian lama menjadi petugas kedisiplinan asrama laki-laki.
Setelah dia pergi suasana di lantai dua masjid tidak langsung menjadi sunyi karena selang beberapa menit kemudian ada satu laki-laki lagi keluar dari persembunyiannya.
Wajahnya yang tampan terlihat jauh lebih lembut dari biasanya. Dia adalah salah satu idola pondok pesantren yang suka sekali menggunakan wajah datar. Apalagi setelah berbulan-bulan tinggal di tempat asing yang jauh dari jangkauan pondok pesantren, ekspresinya menjadi kian beku rasa memendam rindu.
"Aishi Humaira, aku akhirnya kembali." Bisiknya lembut.
__ADS_1
Dia mendudukkan dirinya di belakang tembok, tepat membelakangi Ai yang sedang berkelana di alam mimpi.
"Ai, tahukah kamu mengenai janji kita 12 tahun yang lalu?" Tanya Vano dengan suara lembut yang tidak pernah terdengar sebelumnya.
Wajah tampannya menunjukkan sebuah sentuhan kelembutan ketika ingatan hari itu mulai melayang di dalam kepalanya. Seolah-olah dia kembali di hari kekanak-kanakan itu, mengukir janji dengan sebuah kecupan ringan di bibir.
"Aku tidak pernah melupakan janji kita, Ai. Semua tentang kamu tidak akan pernah menghilang dari memori ku. Bahkan salah satu alasanku bisa berdiri di sini tidak lain dan tidak bukan karena dirimu. Aku berjalan di jalan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya karena ingin memantaskan diri agar bisa bersamamu. Ai, kecuali kamu, aku tidak ingin yang lain."
Ustad Vano dulu sama seperti anak-anak kota yang lain. Punya cita-cita sekolah di tempat elite dan mencari pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Akan tetapi ketika Ali memberikannya sebuah pilihan, segera semua pemikiran kotanya Ustad Vano singkirkan dengan tekad yang kuat.
"Aku tidak pernah mengingkari janji ku, Ai. Aku selalu mencari cara agar bisa bertemu denganmu akan tetapi kamu tidak mudah dijangkau karena ada banyak sekali orang-orang yang sangat mencintaimu. Mereka memberikan ku sebuah pilihan, awal dari putusnya hubungan kita selama 12 tahun ini. Saat itu.."
__ADS_1