Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 15.10)


__ADS_3

"Apa kamu sudah selesai berbicara?" Safira bertanya dingin.


Tiara menggelengkan kepalanya tidak mau berhenti.


"Tidak, aku belum selesai bicara. Aku ingin semua orang tahu jika putri Tante yang cacat ini tidak tahu malu! Dia sangat berani mendekati Ustad Vano-"


"Ai tidak pernah mendekatiku." Tiba-tiba suara bariton bernada dingin dari luar memotong ucapan Tiara.


Dari luar, masuk pemuda tampan nan tinggi dengan sorot matanya yang tajam. Dialah laki-laki yang sedang Tiara bicarakan, dialah laki-laki yang Tiara katakan Ai dekati.


Ustad Vano, sejak membawa langkah kaki jenjangnya masuk ke dalam ruang tamu, maka sejak itu pula ia menjadi perhatian banyak orang.


Di dampingi oleh Ustad Azam di samping, Ustad Vano pertama-tama memberikan salam sopan kepada semua orang lalu beralih berbicara dengan Tiara.


"Ustad...aku..." Tiara bingung mau mengatakan apa setelah berhadapan langsung dengan Ustad Vano.


Semua kemarahannya tiba-tiba menghilang entah kemana.


"Kamu mungkin salah memahami sesuatu jika Ai tidak pernah sekalipun mendekatiku. Jika aku boleh jujur, justru orang yang mencoba mendekati Ai adalah aku sendiri. Akulah yang selalu mengikutinya kemana-mana, mencari-cari setiap kesalahan yang ia lakukan dan memberikannya sebuah hukuman agar ia tidak pernah lepas dari pengawasan ku."


Semua orang,"...." Katakanlah dengan jelas apa yang sedang terjadi!


"Apa yang Ustad coba katakan?" Tiara meragukan pendengarannya dan dia lebih tidak mau lagi membuat kesimpulan dari apa yang Ustad Vano katakan tadi.

__ADS_1


"Bukankah semuanya sudah jelas? Aku menyukai dan mencintai Aishi Humaira." Katanya tanpa ragu dan malu sedikitpun.


Sontak beberapa orang berteriak tertahan ketika mendengar pengakuan langsung Ustad Vano depan mereka. Tidak, tidak!


Ini bukanlah yang terpenting!


Hal yang paling penting sekarang adalah Ustad Vano mengutarakan perasaannya di depan kedua orang tua Ai langsung!


Mereka bertanya-tanya apakah Ustad Vano tidak mengetahui keberadaan Safira dan Ali?


"Tidak, ini tidak mungkin!" Ini bukanlah teriakan Tiara melainkan teriakan Almaira.


Pada awalnya dia sangat menikmati pertunjukan dimana Tiara meluapkan semua emosinya, mengecap Ai sebagai gadis cacat yang tidak tahu malu.


Tidak, ini bukan sebatas suka saja tapi mencintainya!


Almaira menolak percaya karena seperti yang Tiara katakan, Ai adalah gadis cacat yang terjebak diantara dua kelamin. Bukankah Ustad Vano seharusnya jijik bersanding dengan Ai yang memiliki tubuh laki-laki?


Kecuali wajahnya yang cantik, tidak ada yang spesial dari Ai karena tubuhnya yang datar dan tidak membentuk lekukan indah seperti wanita pada umumnya.


"Ustad Vano, katakan jika semua ini bohong! Bukankah... bukankah Ustad Vano sudah resmi bertunangan denganku!" Almaira berjalan mendekati Ustad Vano tapi orang yang coba didekati malah mundur beberapa langkah menjaga jarak darinya.


"Mengenai pertunangan itu aku yakin kamu lebih tahu kebenarannya dariku." Ustad Vano menjawab dingin.

__ADS_1


Almaira tidak terima,"Ustad Vano akan menikahiku, kan?" Desaknya di depan semua orang.


"Pertunangan tidak pernah terjadi diantara kita karena aku sudah menolaknya dari dua tahun yang lalu. Adapun alasan aku menolak perjodohan itu tidak akan pernah berubah sampai sekarang. Itu karena aku sudah memiliki orang lain di dalam hatiku dan orang itu adalah Aishi Humaira." Ustad Vano menjawab tegas dan serius, tidak ada nada ragu sama sekali di dalam suaranya.


Membuat orang-orang yang mendengarnya dibuat yakin seyakin-yakinnya jika kata-kata yang keluar dari mulutnya hari ini adalah sebuah kebenaran dan tulus dari dalam hatinya.


Sedikit rasa cemburu timbul dihati para perempuan yang ikut menjadi saksi keseriusan Ustad Vano. Mereka cemburu melihat Ai begitu dicintai oleh Ustad Vano, tanpa memandang kekurangan Ai, laki-laki ini tanpa ragu mempersilakan Ai menduduki tahta tertinggi di dalam hatinya. Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya, cinta itu masih sama, tidak goyah sekalipun banyak gadis cantik nan sempurna yang datang mengejar.


Hei, perempuan mana yang tidak akan luluh hatinya diperlakukan selembut ini?


Sungguh, betapa beruntungnya Aishi Humaira, gadis cantik nan lembut yang telah menduduki posisi tertinggi di dalam hati Ustad Vano, laki-laki dingin yang telah menjadi idola pondok selama beberapa tahun ini.


"Tidak, ini tidak mungkin-"


"Almaira, tenangkan dirimu, Nak." Umi menasehatinya dengan lembut, sebagai seorang Ibu, Umi tentu akan merasakan sedih ketika melihat putrinya bersedih.


"Tidak mungkin, Umi!" Almaira mulai menangis.


Membuat Umi terkejut mendengar teriakannya. Umi lalu bangun dari duduknya ingin menenangkan putrinya tapi segera dihentikan oleh Pak Kyai.


"Dia akan mendapatkan pelajaran yang sangat penting di sini." Kata Pak Kyai mencegah tindakan Umi.


Umi ragu, dia menatap putrinya sedih lalu berpaling melihat Safira di seberang sana yang masih duduk tenang dengan keluarga kecilnya. Tidak seperti Umi yang cemas, Safira dan Ali justru tampak jauh lebih tenang dengan kedua mata yang tidak bisa berpaling dari sosok pemilik punggung kuat di depan mereka.

__ADS_1


Melihat ini Umi mengambil nafas panjang, mendudukkan dirinya kembali di samping Pak Kyai.


__ADS_2