Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 11.13)


__ADS_3

Ini tidak normal.


Mereka tidak pernah bertemu sejak perpisahan di rumah sakit. Jangankan bertemu, saling berbicara atau mengabari saja mereka tidak pernah melakukannya.


Jika memang hanya sebatas teman maka Vano tidak akan sekesal itu jika tidak bertemu dengannya. Jika memang hanya sebatas teman maka Vano tidak akan serindu itu ingin bermain dengan Ai. Bertahun-tahun tidak bertemu seharusnya Vano melupakan Ai tapi faktanya itu tidak terjadi.


Dia masih mengingat Ai. Dia juga sangat ingin melihat Ai sekarang. Bertanya-tanya seberapa tinggi dia sekarang, seberapa panjang rambutnya sekarang, dan apakah wajah putih berseri itu masih bersemu merah setiap kali bertemu dengannya.


Inilah yang Vano rasakan sebenarnya.


"Tidak bisa menjawab? Maka aku akan mengganti pertanyaan, apakah kamu rela bila Ai bertemu dengan laki-laki lain?"


Bertemu dengan laki-laki lain?


"Tidak, Om. Aku tidak rela." Jawab Vano lebih cepat dari yang Ayah Ali bayangkan.


Vano menjawab tanpa ragu seperti pertanyaan yang sebelumnya.


"Kenapa, bukankah kalian hanya teman?"


"Namun aku tidak mau Ai bertemu dengan laki-laki lain. Aku..ingin akulah satu-satunya teman untuk Ai."


"Nah, bagaimana jika dia sudah berteman dengan anak laki-laki lain, anak yang jauh lebih baik darimu?"


Vano panik. Kedua tangannya mengepal menahan gejolak amarah di dalam hati.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

__ADS_1


"Jadi, apakah kamu masih menganggap Ai teman atau tidak?" Ayah Ali kembali ke pertanyaan awal.


Vano menggelengkan kepalanya.


"Ai lebih dari teman untuk Vano."


Ayah Ali tersenyum. Dia kemudian beralih ke pertanyaan yang paling penting.


"Ai adalah anak yang spesial. Dia tidak akan tumbuh seperti wanita-wanita di luar sana, apakah kamu mau menerima perbedaan ini?"


"Aku sudah tahu, Om. Papa dan Mama pernah menjelaskan kepada ku siapa Ai. Tapi Om harus tahu siapapun Ai itu tidaklah penting asalkan kami tidak dipisahkan lagi. Selama kami kembali bersama aku tidak perduli dengan hal yang lain." Vano menjawab dengan lugas dan meyakinkan.


Ayah Ali tidak ragu dengan keyakinannya tapi dia masih menguji.


"Jadi, bila aku menikah kan kalian berdua, apakah kamu mau menerima Ai apa adanya?"


Menikah dengan Ai, dia tentu saja mau karena itu artinya mereka berdua tidak akan pernah berpisah lagi dan akan terus bersama.


"Apa Om bersungguh-sungguh?" Vano sangat senang.


"Aku bersungguh-sungguh dengan satu syarat."


"Apa syaratnya?" Vano tidak ragu.


"Kamu harus menjadi pemimpin yang baik untuk Ai. Namun gelar ini hanya bisa kamu dapatkan setelah kamu menekuni diri belajar ilmu agama."


Ini adalah syarat yang sangat sulit karena Vano bukanlah orang yang terlalu mendalami agama.

__ADS_1


"Jika kamu tidak mampu maka mundur lah dari sekarang dan jangan pernah datang ke sini lagi. Ai harus mulai memantaskan dirinya untuk calon suaminya kelak-"


"Aku mau, Om! Jadi tolong jangan izinkan laki-laki manapun mendekati Ai." Potong Vano panik.


"Entahlah, ini tergantung dari ketekunan mu. Jika kamu memang setia kepada Ai maka kamu akan mendapatkannya, tapi jika tidak maka Ai hanya bisa bertemu dengan laki-laki yang lebih baik lagi. Perkara hati hanya Allah yang tahu, tidak ada yang tahu akan kemana hatimu di masa depan oleh karena itu aku hanya bisa meridhoi mu mendapatkan Ai bila kamu berhasil memenuhi syarat ku."


Ayah Ali tidak meragukan perasaan Vano kepada Ai. Karena beberapa tahun ini dia sudah melihat betapa tekun nya Vano mencari Ai walaupun berkali-kali ia kecewakan. Vano masih setia mencari dan bahkan hari ini dia datang bertanya langsung untuk memastikan semua kecurigaannya.


"Demi Ai, apapun akan aku lakukan. Om bisa yakin bahwa aku hanya ingin bersama Ai."


"Kita akan melihatnya di masa depan." Ayah Ali kemudian menaruh sebuah amplop putih di atas meja.


"Pondok pesantren Abu Hurairah, belajarlah di sini karena Ai juga akan belajar di sini. Aku harap beberapa tahun kemudian kamu sudah bisa menjadi seseorang yang aku harapkan dan pemimpin yang baik untuk Ai. Demi Allah, selama di hatimu masih teguh kepada Ai maka aku tidak akan pernah ragu menikahkan kalian. Menghalalkan Aishi Humaira sebagai pendamping hidupmu." Kata-kata Ayah Ali adalah mata air yang tidak terkira betapa segar dan manis rasanya.


Vano sangat senang. Dia mendapat jaminan yang sangat emosional dari Ayah Ali. Ai-nya, Aishi Humaira-nya akan selalu sisinya.


Vano mengucapkan banyak terimakasih kepada Ayah Ali sebelum pulang. Meskipun tidak diizinkan bertemu dengan Ai tapi Vano tidak kecewa karena Ai pada akhirnya akan menjadi miliknya.


"Qais dan Rumaisha, kembalilah. Bunda memanggil kalian untuk makan kue coklat."


Suara lembut itu segera merasuki jiwanya. Membuat langkah Vano seketika berhenti yang diiringi dengan suara debaran jantung yang tidak tertahankan.


"Ai," Bisik Vano menatap dari jauh.


"Aku akhirnya melihatmu."


Flash Back Off

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2