
"Bohong, Ustad! Itu surat dariku dan tulisannya pun adalah milikku. Jika Ustad tidak percaya silakan minta Ustazah pengajar untuk menilainya sendiri." Asri membantah lagi, membuat orang-orang kian bingung.
Namun, tantangan dari Asri seharusnya membuat mereka percaya jika surat itu adalah milik Asri.
"Maaf, Ustad. Apa yang dia katakan memang benar bila tulisan tangan yang ada di surat itu adalah miliknya. Tapi surat itu benar-benar milikku. Aku malu dengan tulisan Arab ku yang belum rapi sehingga aku memintanya untuk membantuku menulis surat." Mega bersikeras membantah, membuat orang-orang semakin bingung.
Apa yang Mega katakan bisa jadi benar karena untuk membuat surat cinta, tulisan setidaknya rapi dan tampak indah.
"Apa kamu benar-benar membuat surat ini untuk laki-laki ini?" Ustad Azam bertanya datar, ekspresi dan nada suaranya jauh lebih tidak bersahabat daripada biasanya.
Bahkan, ini lebih berbeda daripada nada suaranya semalam ketika mereka berdua berbicara bersama di dalam masjid.
Mega menggigit bibirnya. Dia sudah terlanjur berbohong jadi tidak mungkin menarik kata-katanya kembali. Mungkin, mereka berdua akan mengalami konflik kecil karena kesalahpahaman ini tapi daripada melihat teman-temannya dihukum sendirian ia pikir tidak apa-apa.
"I-iya, Ustad." Dia tidak berbohong bila nyali beraninya langsung menciut.
Ustad Azam jelas tidak suka, dia melirik santri laki-laki yang ada di samping Ustad Vano dengan ekspresi datar. Seharusnya ini bukanlah tatapan permusuhan tapi entah mengapa santri laki-laki itu bisa merasakan bila Ustad Azam tidak menyukainya?
Santri laki-laki itu jelas kebingungan dengan keadaan ini. Dia dan teman-temannya hanya ingin membantu-bantu di sawah sambil bermain tanpa ada niat mendekati ataupun bertemu dengan santri perempuan. Tapi kejadian yang tidak diduga terjadi, 3 santri perempuan asing tiba-tiba membuat keributan di depannya. Dia dengar ini tentang sebuah surat-ekhem, surat yang awalnya gadis berjilbab hitam itu berikan kepadanya.
Tapi,
__ADS_1
Tapi mengapa ia merasa jika gadis berjilbab hitam itu agak tidak asing?
Santri laki-laki itu terus-menerus memandangi wajah tertunduk Asri, karena ia merasa bila Asri sudah tidak asing lagi untuknya. Hanya saja, santri laki-laki ini tidak yakin pernah bertemu Asri dimana.
"Tundukkan pandangan, mu. Apakah kamu siapa yang sedang kamu perhatikan?" Suara datar Kevin menarik santri laki-laki itu dari pikirannya.
Santri laki-laki itu malu ditegur oleh Kevin, ketua petugas kedisiplinan asrama laki-laki. Meskipun mereka berdua sepantaran tapi Kevin adalah orang yang dihormati di pondok pesantren ini, di samping itu ia juga dirumorkan akan melamar menjadi pengajar di sini setelah lulus beberapa bulan lagi.
"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa melakukannya." Santri laki-laki itu menarik pandangannya dari Asri, mengangguk malu kepada Kevin yang masih berwajah datar.
Suasana hatinya jelas sangat buruk padahal dia baru saja tertawa bahagia beberapa saat yang lalu.
"Maka tundukan pandangan mu jika tidak bermaksud apa-apa." Ujar Kevin jelas tidak percaya.
"Mereka berbohong! Jelas-jelas ini adalah surat-"
"Sampai kapan kalian harus seperti ini? Jangan membuang waktu lebih banyak lagi dan katakan dengan jujur siapa yang membuat surat ini!" Potong Ustad Vano tidak ingin mendengarkan pengakuan dari Ai lagi.
Dia sudah sangat marah, tidak ada yang berani menyela ucapannya bahkan Sasa pun, ketua petugas kedisiplinan asrama putri yang seharusnya turut ikut campur memilih tutup mulut daripada semakin membuat Ustad Vano marah.
Mereka lebih baik menjadi pengamat saja daripada ikut campur.
__ADS_1
Asri melirik Mega dan Ai di samping. Artinya jelas, dia ingin bernegosiasi kepada mereka berdua agar tutup mulut dan biarkan masalah dihadapi olehnya.
Dia yang memulai maka dia pula yang akan mengakhiri, Asri masih ingat dengan jelas apa yang Ai katakan semalam.
"Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya." Kata Mega di luar harapan Asri.
"Biar aku saja," Bisik Asri.
Tapi Mega tidak mendengarkan dan melanjutkan ucapannya sementara Ai di samping memutuskan untuk mendengarkan sebelum menyela bila Mega berbohong lagi.
"Sebenarnya surat itu milik kami bertiga."
Semua orang,"...." Pertunjukan berubah dengan cepat!
Ai dan Asri,"... benar, Ustad." Mereka sudah melangkah terlalu jauh.
Ustad Azam jelas tidak mengerti atau lebih tepatnya dia tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Jadi kalian bertiga membuat surat untuk laki-laki yang sama?" Dia tetap bertanya meskipun Ai dan Asri juga sudah mengakuinya-dengan sangat terpaksa.
"Benar, Ustad."
__ADS_1
Santri laki-laki- terduga 'orang yang paling beruntung' mendapatkan surat dari tiga santri perempuan sekaligus sangat terkejut mendengar pengakuan mereka bertiga. Padahal di sini ia hanyalah seorang korban yang dijadikan sebagai alasan untuk melarikan diri- meskipun pada akhirnya mereka bertiga tidak akan lepas dari hukuman.