Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 1.4)


__ADS_3

"Ya, Ustad?" Ai langsung berbalik namun masih belum berani mengangkat kepalanya.


"Berikan tas punggung mu." Katanya dengan nada memerintah.


Ai segera menggenggam tas punggungnya. Dia bertanya-tanya apakah Ustad Vano ingin memeriksa barang-barang yang ada di dalamnya?


Jika iya, Ai takut dia bisa ketahuan telah menyimpan foto kenangan mereka 12 tahun yang lalu. Mungkin saja Ustad Vano saat itu tidak mengenalinya sebagai perempuan sehingga akan sangat mengejutkan jika sekarang dia mengetahui bahwa Ai adalah perempuan.


Yah, bukankah itu sangat menyedihkan?


"Di dalamnya hanya ada pakaian saja, Ustad. Aku tidak menyimpan benda tajam atau barang-barang berbahaya." Ai tidak mau melepaskan tasnya.


Ustad Vano mengernyit,"Berikan saja, ada atau tidak akan kita lihat nanti.".


Lagi-lagi interaksi mereka menarik perhatian banyak orang. Berbeda dengan Ai yang takut dan pemalu, Ustad Vano malah menatap mereka dengan acuh tak acuh seolah tidak ada siapapun di sini.


Ai menggigit bibirnya gugup. Dia mengeratkan genggaman tangannya di tas punggungnya tidak mau melepaskan. Namun, dia sangat gelisah ditatap oleh banyak pasang mata, di samping itu juga Ustad Vano masih menunggunya memberikan tas ini.


Jadi dia terpojok, tidak punya cara selain melepaskannya.


"Ini Ustad." Dia menaruh tas punggungnya di atas lantai.


Ustad Vano segera mengambil tas punggung Ai dan membawanya ke belakang meja untuk di simpan.


"Kamu bisa pergi." Katanya singkat sebelum kembali mengurus santri baru yang lain.


Ai agak terkejut. Dia pikir Ustad Vano akan langsung memeriksa isi tasnya tapi dia tidak melakukan itu.


"Lalu bagaimana dengan tas ku, Ustad?" Tanyanya ragu-ragu.


"Nanti sore petugas kedisiplinan asrama putri akan membawanya ke kamar mu." Jawab Ustad Vano tanpa melihat Ai.


"Ak-"

__ADS_1


"Ekhem!" Seorang santri baru sengaja berdehem untuk memberikan Ai petunjuk agar segera pergi.


Mereka terganggu dengan Ai karena terlalu berbelit-belit di depan Ustad Vano. Di dalam benak mereka, Ai sengaja diam di sini untuk menarik perhatian Ustad Vano. Padahal dia baru saja dimarahi oleh Ustad Vano di depan banyak orang, bukankah urat malu Ai sudah putus?


Ai adalah orang yang pemalu. Jadi dia langsung pergi setelah dilempari tatapan tidak suka dari santri-santri baru yang lain.


Punggung kurusnya berjalan semakin menjauh mengikuti antrian yang lain di depan. Dia tidak tahu atau tidak menyadari jika ada seseorang yang diam-diam mengkhawatirkan punggungnya yang kurus.


Sementara itu, dalam keadaan tertunduk Ai diam-diam menyentuh jantungnya yang berdetak kencang. Dia merasakan sebuah sensasi aneh yang merasuki tubuhnya, ini manis dan membuatnya ingin tersenyum.


Tentu saja dia tahu itu karena dia kembali bertemu dengan Vano yang sudah 12 tahun menghilang tanpa kabar. Meskipun pertemuan mereka tidak seindah yang dia harapkan tapi ini lebih baik daripada terjebak dalam sangkar rindu.


Setidaknya, setidaknya di sini dia bisa melihat Vano. Walaupun tidak sedekat dulu tapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali.


"Vano.." Bisiknya sambil menekan dada datarnya untuk merasakan suara detak jantungnya yang menggebu-gebu.


"Akhirnya kita bertemu."


"Kalian bisa melihat nama kalian yang ada di makalah dinding. Setelah menemukannya, kembali dan berbaris sesuai dengan kelompok kalian." Instruksi salah satu petugas kedisiplinan asrama putri.


Untungnya ini bukan seperti yang ada di sekolah biasa. Begitu mereka berkumpul di kelompok masing-masing, satu atau dua petugas kedisiplinan asrama putri akan membimbing mereka ke kamar asrama kelompok mereka.


Ai kebetulan ada di kelompok Fatimah RA, otomatis dia akan masuk ke dalam kamar asrama Fatimah RA. Untuk sekarang Ai tidak jelas berapa orang yang akan tinggal di sana karena dari daftar saja Ai melihat ada banyak orang di atas maupun di bawah namanya.


"Selama tinggal di pondok pesantren Abu Hurairah kalian akan tidur di asrama putri kamar Fatimah RA. Satu kamar bukan berarti harus tidur bersama, tidak, satu kamar artinya kalian akan menjadi tim, saudara, dan keluarga untuk satu sama lain. Kalian harus memupuk pemahaman persaudaraan karena di sini kalian tidak hanya tinggal 1 atau 2 bulan tapi 2 sampai 3 tahun paling singkat. Jadi, mulai hari ini belajarlah untuk saling memahami karena kalian adalah tim, tim Fatimah RA." Ujar petugas kedisiplinan asrama putri yang ada di paling depan.


Kebetulan Ai ada di barisan belakang sehingga dia tidak bisa melihat namanya melalui id card yang tergantung di lehernya.


Setelah pidato singkat, ketiga petugas kedisiplinan asrama putri itu mengarahkan kelompok mereka menyusuri jalan setapak yang dikelilingi sawah yang sangat sejuk dan menyenangkan mata.


Di kota-kota pemandangan ini sudah tidak ada lagi jadi Ai cukup tertarik untuk memandanginya.


"Jadi nama kamu Aishi Humaira." Suara dingin tidak bersahabat datang dari sampingnya.

__ADS_1


Sontak Ai menoleh ke arah sumber suara. Di sampingnya dua petugas kedisiplinan asrama putri yang tadi berbicara di depan kini berada sejajar dengannya. Sedangkan satu petugas kedisiplinan asrama putri berjalan di depan sebagai penunjuk arah.


"Apa ada yang bisa saya bantu Ustazah?" Tanya Ai sopan dan berusaha ramah.


Dia bahkan tersenyum sebaik mungkin agar membuat lawan bicaranya nyaman.


"Ustazah?" Katanya tampak tidak senang.


"Apa aku terlihat setua itu makanya kamu panggil Ustazah?" Ujarnya tidak habis pikir.


Senyuman Ai langsung membeku. Dia tanpa sadar menurunkan matanya untuk melihat identitas gadis ini melalui id card yang tergantung di leher.


Frida dan Tiara.


Orang yang berbicara judes dengannya ini adalah Frida sedangkan orang yang berjalan di samping Frida adalah  Tiara. Usia Frida 19 tahun sedangkan usia Tiara 18 tahun.


Mereka seharusnya berada pada masa akhir pendidikan mereka di sini kecuali mereka ingin melanjutkan sampai jenjang kuliah.


"Tidak Kak, aku tidak bermaksud seperti itu." Kata Ai membantah.


Dia memanggil Frida dengan sebutan Ustazah karena Ustad Vano bilang dia harus menghormati mereka yang lebih tua. Tapi nyatanya dia salah pemahaman karena panggilan itu mungkin hanya berlaku untuk para pengajar atau staf-staf pondok pesantren.


"Sudahlah, aku tahu kamu adalah orang yang seperti itu dalam sekali pandang. Tapi..Ai..shi, tolong jaga sikap kamu selama tinggal di sini dan biasakan untuk menjaga pandangan sekalipun orang yang kamu temui sangat tampan! Jika tidak, kamu harus menerima konsekuensi dari pondok pesantren."


Ah,


Jadi ini soal tadi.


Ai menyadari kesalahannya tadi jadi dia tidak terlalu memikirkan sikap Frida yang culas kepadanya. Toh, ini juga demi kebaikannya sendiri meskipun dia agak tidak biasa dengan nada berbicara seperti ini.


Bersambung..


Lanjutannya publish pukul 9

__ADS_1


__ADS_2