
Tok
Tok
Tok
Bunda mengetuk pintu ringan, dia tidak mau suara ketukan tangannya membuat si kembar terbangun.
"Dek, Bunda masuk yah?" Bunda tidak mengatakan 'boleh' atau 'bisakah' kepada Safira sebelum masuk karena niatnya jelas, dia tidak bisa dihalangi masuk ke dalam.
Apapun dan bagaimanapun keadaan Safira di dalam dia harus masuk.
"Bunda.." Safira ingin membuka pintu tapi tangan Bunda lebih dulu mendorong pintu.
Sekilas, Bunda perhatikan bila wajah Safira agak basah. Hidungnya memerah dan kedua matanya masih merah karena menangis tadi.
"Bunda datang karena Ai khawatir sama kalian berdua." Katanya memberitahu.
Dia melihat si kembar yang tidur lelap, untunglah mereka bertiga tidak membuat masalah juga pikir Bunda.
"Ai.. bagaimana mungkin.." Safira tidak tahu bila Ai ada di sini ketika dia bertengkar dengan Ali tadi.
__ADS_1
"Itu tidak penting sekarang." Kata Bunda santai seraya menarik Safira duduk di atas ranjang.
"Ingin berbagi dengan Bunda? Siapa tahu Bunda bisa bantu memecahkan masalah kalian." Kata Bunda dengan lembut dan hangatnya.
Safira di samping menundukkan kepalanya. Dia ingin berbagi tapi juga ragu.
"Ai bilang tadi Ali sangat marah sampai harus keluar dari kamar kalian. Safira, Bunda adalah orang yang melahirkan Ali dan Bunda tahu seberapa jauh batas kesabaran Ali. Bila dia marah sampai meninggalkan kamar kalian itu artinya kemarahannya tidak bisa disepelekan. Dia pasti sangat marah dan mungkin kecewa...jadi, ceritakan semuanya kepada Bunda. Agar Bunda tahu bagaimana langkah keluar dari permasalahan kalian berdua." Nasihat Bunda masih dengan suara yang lembut dan hangat.
Diingatkan tentang kejadian tadi, Safira rasanya ingin menangis saja ketika Ali mengatakan dia kecewa kepadanya.
Hati Safira sangat sakit. Dia tidak pernah berharap akan ada suatu hari Ali melemparkan kata-kata ini kepadanya.
Bahkan kejadian 1 satu tahun lalu masih segar di dalam ingatannya. Faktanya, dia mungkin mulai.. meragukan Ali.
Mendengar ini Bunda menghela nafas panjang sekaligus lega. Ini bukan masalah yang berbelit namun cukup berat.
"Nak, Bunda akan menceritakan sesuatu kepadamu. Namun sebelum itu Bunda ingin mengkonfirmasi apakah Ali pernah mengatakan bila pertemuannya dengan Dinda hari itu berarti menyelesaikan amanah yang Bunda berikan?"
Safira ingat Ali pernah mengatakan ini,"Pernah, Bunda." Dan setelah itu Dinda datang ke rumah ini untuk bertemu dengan Bunda.
Bunda semakin lega.
__ADS_1
"Lalu, setelah pertemuan hari itu apakah Ali pernah bersikap seperti pertemuan pertama di sekolah Ai ketika bertemu Dinda lagi di waktu yang lain?" Tanya Bunda lagi.
Karena dia sangat mengenal seperti apa putranya jadi dia melemparkan pertanyaan ini. Ali bila sudah menetapkan hatinya untuk satu orang maka dia tidak akan pernah mengangkat pandangannya menatap orang lain.
Safira menggelengkan kepalanya. Seingatnya, Ali tidak pernah menyapa Dinda lagi sejak hari itu.
"Maka itu artinya Ali sudah melepaskan amanah yang Bunda berikan 2 tahun lalu." Kata Bunda membuat Safira bingung.
"Maksud Bunda?" Dia tidak tahu mengenai cerita dibalik amanah ini.
Bersambung..
Rencananya saya mau update 1 bab full hari ini untuk merayakan hari raya idul Adha. Tapi kayaknya besok aja karena ini waktunya mepet wkwkwkw..
Bab selanjutnya besok pukul 3 pagi💚
Okay, sisanya besok yah. Ngomong-ngomong selamat hari raya idul Adha, mohon maaf lahir dan batin.
Kalau ada yang kelebihan daging kurban langsung aja kirim ke alamat saya, yah💚
Lumayan, bisa dibuat sate🍚
__ADS_1