
Asri menjadi lebih bersemangat, hatinya menghangat dan perlahan keberanian itu tumbuh kembali di dadanya. Dia menguatkan tekadnya ingin segera mengirim surat ini kepada Kevin, senyuman lembut di bibirnya tidak bisa membohongi betapa bahagia dan gugup ia saat ini.
Akan tetapi semua itu segera meluap ketika ia tidak sengaja melihat wajah tersenyum Kevin yang sedang berbicara dengan Sasa, dari jarak yang tidak jauh juga tidak dekat. Wajah Sasa bersemu merah, dia menunduk malu-malu sembari sesekali mencuri pandang kepada Kevin.
Tidak, ini tidak benar. Dia segera menghentikan langkahnya, memalingkan wajahnya ke tempat lain agar Kevin tidak menyadari kedatangannya.
Dia termenung, apa yang ia firasat'kan selalu benar. Hari ini dia kembali merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan ketika melihat Ai dan Mega ketika bertemu duo kulkas berjalan.
Dia mulai menyadari satu hal bahwa hubungan Kevin dan Sasa sama seperti kedua sahabatnya. Mereka mempunyai hubungan-bukan hubungan biasa, bukan pula hubungan antar teman. Ini lebih dari itu, ini jauh lebih dari itu.
"Asri, kenapa kamu berhenti?" Ai bertanya.
Asri tersenyum kecil,"Sepertinya aku...aku berubah pikiran." Katanya memaksakan senyum.
"Berubah pikiran?" Mega jelas tidak mengerti ke arah mana pembicaraan Asri.
Asri mengangguk ringan, dia meremat kuat surat yang ada di tangannya. Meskipun ini hanya baru firasat saja tapi Asri menyakini hal ini. Karena sudah berkali-kali apa yang ia rasakan terjadi.
"Iya, kalian tahu, aku tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang lebih menarik perhatian ku daripada Kak Kevin. Dan ini..ini baru saja terjadi, jadi..surat ini akan aku berikan kepadanya." Dia jelas berbohong dan mereka berdua tidak bisa mempercayainya.
"Jangan bercanda, kita sudah dekat dengan dia jadi jangan buang waktu lagi. Kirim surat ini kepadanya agar kita bisa segera kembali ke asrama." Mega ingin segera tidur!
Dia sudah cukup bermain diluar dan sudah saatnya menghabiskan waktu tidur seharian. Karena setelah ini mereka akan kembali ke aktivitas semula, bangun jam 3 pagi, sholat subuh, pergi sekolah, menghafalkan Al-Qur'an dan ini akan berulang-ulang sampai hari sabtu. Sejujurnya ini menyiksa tapi harus dijalani demi masa depan dunia akhirat.
"Aku sungguh tidak bercanda," Asri masih memaksakan senyum.
Dia melirik ke arah Kevin lagi,
__ADS_1
Deg
Kebetulan Kevin juga sedang melihat kearahnya. Asri kembali memalingkan wajahnya, meremat kuat surat yang ada di tangannya sambil melihat-lihat orang-orang yang lewat di depannya.
"Asri, ayolah-"
"Aku pergi." Asri membawa langkah kakinya mendekati seseorang-yang pasti bukan Kevin.
Mega dan Ai bingung melihat Asri mengubah arah mendekati seorang santri laki-laki yang tidak dikenal. Mereka pikir jika Asri akan memberikan surat itu kepada Kevin karena rencana awalnya memang seperti itu, tapi mengapa ia malah mendekati laki-laki lain dan bukannya Kevin?
"Apa yang sedang dia lakukan?" Mega tercengang.
"Dia ingin memberikan surat kepada laki-laki itu!" Ai panik.
"Ya Allah, Asri!" Mega dan Ai langsung mengejarnya.
"Kembalikan." Pinta Asri.
Mega tidak mau, dia malah memberikan surat itu kepada Ai untuk disembunyikan.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Mega tidak habis pikir.
Asri malu, dia tidak berani melihat laki-laki yang asal ia dekati itu.
"Aku..ingin memberikan surat kepadanya." Jawab Asri dengan suara mencicit.
"Apa kamu serius?" Jelas Asri tidak menyukai laki-laki ini.
__ADS_1
Asri menggigit bibirnya, malu bercampur rasa bersalah.
"Yah, ini..baru saja terjadi." Dia lalu melihat surat yang ada di tangan Ai.
"Kembalikan," Katanya lagi.
Ai tidak mau,"Aku pikir kamu ingin memberikannya kepada-"
"Ai, tolong kembalikan suratnya." Potong Asri tidak nyaman.
"Tidak!" Jawab Mega menolak dengan tegas.
Asri bersikeras,"Kembalikan."
Dia melangkah maju ingin mengambil surat itu tapi segera dihalangi oleh Mega. Alhasil mereka bertiga saling dorong mendorong, menarik perhatian beberapa orang.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Suara dingin Ustad Vano datang entah darimana.
Ai sangat terkejut, tanpa sadar kakinya mengambil pijakan di tanah yang licin sehingga tubuhnya oleng ke belakang.
Mega melihat situasi Ai tidak benar. Dengan berpegangan pada lengan Asri, dia mencoba menarik Ai agar tidak terjatuh. Tapi mereka lupa jika sedang berdiri di tanah yang licin sehingga hasil akhirnya-
Cburgh
Mereka bertiga jatuh tanpa sempat diselamatkan ke dalam sawah-kangkung-becek-penuh-dengan-lumpur-yang-pekat.
Semua orang,"...." Pertunjukan yang menarik!
__ADS_1
Bersambung..