Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 16.15)


__ADS_3

Setelah melihat orang yang telah mengambil calon menantunya adalah Arka- laki-laki tampan dengan sikap angkuhnya yang mencolok, lantas membuat saudagar Romlah segera mengubah wajah sangarnya menjadi seseorang yang mudah didekati.


Ia langsung memperbaiki sikapnya di depan mata orang-orang desa dan segera mendekati Arka ingin meminta maaf tapi langkahnya segera terhenti ketika ujung pistol salah satu pria berjas di arahkan kepadanya.


"Tu-Tuan Arka, ini...ada kesalahpahaman di sini." Saudagar Romlah sangat ketakutan melihat pistol itu dan membawa kakinya secara perlahan mundur ke belakang.


"Mak.." Rodi tidak punya keberanian lagi menatap mata Arka ketika melihat saudagar Romlah yang ditakuti orang-orang desa saja langsung menciut di depan Arka.


"Kesalahpahaman?" Arka rasanya ingin tertawa saja mendengarnya.


Seolah-olah apa yang saudagar Romlah katakan tadi tidak ada bedanya dengan lelucon yang menjengkelkan diluar sana.


"Apa kamu pikir mataku buta? Tidak bisa melihat bila calon istriku dikejar-kejar oleh orang-orang ini? Apa kamu pikir aku tuli? Tidak bisa mendengar teriakan orang-orang memanggil nama calon istriku? Di samping itu, putramu bahkan berani berteriak-teriak di depan ku dengan meng-klaim calon istriku adalah calon istrinya. Coba katakan dimana sisi yang menjelaskan bila semua ini adalah sebuah kesalahpahaman?" Tanya Arka dingin dengan senyuman yang lebih pantas disebut sebagai seringai.


Aura mendominasinya membuat saudagar Romlah ketakutan dan anehnya lagi, tidak satupun dari orang-orang desa yang melawan seperti sebelumnya. Mereka semua menutup mulut serapat mungkin dan lebih senang berperan sebagai benda tidak hidup.

__ADS_1


Mereka takut memancing kemarahan laki-laki asing ini dan berakhir kehilangan nyawa di tempat karena pria-pria berjas hitam itu tidak takut-takut mengarahkan pistolnya kepada orang lain.


Mereka terlihat sangat serius dan suasana menjadi lebih tegang lagi.


"Tuan Arka hahaha..." Saudagar Romlah tertawa garing, berusaha mencairkan suasana menegangkan yang tercipta karena perasaan dingin dari Arka.


Di tambah lagi ujung pistol salah satu pria berjas itu mengarah lurus ke jantungnya dan tidak pernah berpindah, turun ataupun bergetar sedikit saja  seolah-olah ia adalah robot dan bukan seorang manusia.


"Ini sungguh kesalahpahaman. Aku tidak tahu jika dia adalah calon istri Anda. Jika aku tahu, aku tidak akan mungkin menikahkannya dengan putraku." Saudagar Romlah berusaha menguraikan kesalahpahaman- yang sejujurnya bukanlah kesalahpahaman.


"Tapi bagaimana jika aku menganggap ini adalah sebuah kesalahan dan bukan sebuah kesalahpahaman? Memaksa calon istriku menikahi putra udik mu itu, apakah kepalamu mengalami masalah?" Tanya Arka sarkas.


"Tuan..." Saudagar Romlah meneguk ludahnya kasar menahan takut dan gugup.


Di dalam hatinya dia terus saja merutuki Asri karena tidak pernah mengatakan sebelumnya jika Arka adalah calon suaminya. Jika Asri mengatakannya sejak awal maka semua ini tidak akan pernah terjadi dan Arka juga tidak akan marah kepadanya.

__ADS_1


Hah, bila dia marah... maka habislah semua harapannya.


"Dan juga, memangnya kenapa bila dia tidak mengatakan bahwa aku adalah calon suaminya? Apa setelah melepaskan calon istriku, kamu akan mencari gadis lain untuk dipaksa menikah dengan putramu? Selain kepala, apa hati nurani mu mengalami masalah?" Arka terus saja menyerang saudagar Romlah dengan kata-kata tajamnya.


Mempermalukannya di depan orang-orang desa yang sebelumnya pernah menghormatinya- ini murni karena ia memiliki banyak uang dan bukan karena ia dermawan.


"Tidak, Tuan! Aku tidak pernah memaksanya menikah dengan putraku tapi orang tuanya sendiri yang memaksa menikahkan Asri dengan putraku. Jika mereka tidak memaksa maka aku tidak akan pernah melakukannya." Dan dengan lihainya pula ia menumpahkan kesalahan kepada kedua orang tua Asri.


Bapak yang mengetahui dengan jelas kebenaran yang sesungguhnya lantas angkat bicara. Ia memang tidak mengenal Arka dan juga ia sangat terkejut mendengar pengakuan tiba-tiba Arka mengenai Asri sebagai calon istrinya. Meskipun mengejutkan, Bapak tahu jika itu tidak benar karena putrinya tidak akan pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang tidak halal untuknya. Ia tahu tapi ia tidak pernah menyela pengakuan Arka di depan orang-orang desa. Bukannya takut ditembak pengawal Arka tapi lebih tepatnya ia bisa merasakan jika Arka bukanlah orang yang jahat. Adapun pengakuan tadi adalah sebagai bentuk pertolongan Arka untuk putrinya agar bisa terbebas dari jerat pernikahan paksa.


Beruntung saudagar Romlah mengenal Arka dan bahkan takut kepadanya. Dengan begini peluang putrinya bisa melarikan diri dari pernikahan ini akan terbuka lebar.


"Tidak Tuan!" Bantah Bapak dengan suara tuanya.


Bapak menatap Arka- laki-laki asing yang kini sedang menggendong putrinya dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Kami tidak pernah memaksa Asri menikah dengan putra Bu Romlah. Tapi Bu Romlah yang memaksa kami untuk menikah salah satu putri kami dengan putranya. Kami sungguh tidak punya pilihan karena jika kami menolak Bu Romlah akan melaporkan kami ke polisi karena tidak bisa melunasi hutang."


__ADS_2