Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 6.1)


__ADS_3

...Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia....


...Ali bin Abi Thalib...


...🍁🍁🍁...


"Kenapa? Apa kamu tidak terima mendapatkan hukuman?" Ustad Vano tiba-tiba mengangkat kepalanya.


Deg


Tatapan kami bertemu. Panik, aku langsung menundukkan kepalaku tidak berani menatapnya. Saat ini aku bisa merasakan wajahku menjadi panas dan aku yakin wajahku juga pasti memerah.


"Hukuman itu kamu dapatkan karena telah berbohong kepadaku. Ini adalah peringatan kecil tapi lain kali kamu mengulanginya, aku sama sekali tidak segan untuk memanggil kedua orang tuamu ke sini."


Ya Allah, dia ingin memanggil kedua orang tuaku! Ayah dan Bunda tidak pernah mengatakan jika hukuman pondok pesantren akan seketat ini. Mereka hanya bilang pondok tidak pernah main-main jika ada santri yang membuat kesalahan fatal.


Tapi, apakah berbohong juga termasuk kesalahan fatal?


"Apa kamu mendengar ku?" Dia bertanya tidak sabar.


"Aku mendengar, Ustad." Nadanya menekan lagi.


Ustad Vano tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia melepaskan pergelangan tanganku dan menjaga jarak beberapa langkah dariku. Hah..


Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. Tangan ini, aku dengan hati-hati memperhatikannya. Melihat sisi telapak tanganku yang baru saja Ustad Vano sentuh melalui kain jilbabku.


"Jangan memetik timun seperti itu lagi. Tapi lakukanlah seperti ini," Dia memetik timun dengan lambat agar aku bisa memperhatikannya.


Sejujurnya, itu mudah dan tidak sesulit yang aku pikirkan.


"Jika kamu mengikuti ku maka tanganmu tidak akan tertusuk duri lagi."

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku mengerti. Lalu, aku mencoba mengikuti langkahnya ketika memetik timun tadi. Ini benar-benar tidak sulit dan tanganku rasanya tidak sakit lagi.


"Tahun ini..apa usiamu sudah masuk 17 tahun?" Dia bertanya tentang usiaku.


Tahun ini aku sudah masuk 17 tahun. Ini baru beberapa bulan yang lalu.


"Alhamdulillah, aku sudah 17 tahun, Ustad."


Kami diam lagi. Aku malu dan canggung mengatakan sesuatu sedangkan Ustad Vano, aku tidak tahu bagaimana ekspresinya saat ini. Aku jadi bertanya-tanya kenapa Ustad Vano menanyakan usiaku?


"Itu-"


"Assalamualaikum, Ustad?" Ada santri laki-laki yang datang bersama kelompok Ustad Vano tadi mendatangi kami.


Aku segera menundukkan kepala lebih dalam, melanjutkan lagi kegiatan ku memetik timun karena sebentar lagi keranjang sayur ku akan penuh.


"Ustad, Pak Kyai ingin berbicara."


"Baik, dimana Pak Ustad?" Tanya Ustad Vano seraya berdiri dari duduknya.


Mereka lalu berbicara singkat dan segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata kepadaku. Perlahan aku mengangkat kepalaku, diam-diam menatap punggung lurus itu bergerak menjauh tanpa sempat melihatku di sini.


Hem, dia akhirnya pergi tapi aku sama sekali tidak rela.


"Fokus, Ai! Fokus!" Aku harus menyelesaikan semua ini agar segera selesai!


"Assalamualaikum, Ai?" Aku tidak menyadari sejak kapan Kak Tiara dan Kak Frida sudah ada di dekat ku.


Melihatnya di sini agak mengejutkan tapi aku segera menjawabnya.


"Waalaikumussalam, Kak Tiara dan Kak Frida." Aku ingin berdiri tapi Kak Tiara malah duduk di sampingku.

__ADS_1


"Jangan terlalu lembut kepadanya dan katakan saja secara langsung. Ini juga demi kebaikan kita semua dan menyangkut nama baik santriwati." Suara dingin Kak Frida membuatku lagi-lagi tidak nyaman.


Berbicara tentang apa?


Ya Allah, perasaan ku tidak nyaman.


"Diam Frida, aku akan membicarakannya dengan caraku sendiri." Kak Tiara lalu beralih melihatku.


Matanya tidak lagi sehangat dulu ketika menatapku. Saat ini seolah ada jarak di antara kami. Apakah aku telah membuat kesalahan yang tidak bisa dia terima?


"Jauhi Ustad Vano." Katanya serius.


Kenapa?


Kenapa aku harus menjauhi Ustad Vano?


"Kenapa-"


"Karena dia sudah dijodohkan dengan Almaira, putri Pak Kyai dari 1 tahun yang lalu. Kabarnya Pak Kyai akan menyegerakan pernikahan mereka tahun ini setelah bulan ramadhan nanti."


Ah,


Apa yang baru saja aku dengar.


Almaira siapa?


Perjodohan apa?


Pernikahan..


Mereka akan menikah?

__ADS_1


"Aku tahu ini mungkin sakit untukmu tapi kamu harus mulai menerimanya cepat atau lambat. Ustad Vano disukai oleh banyak gadis di pondok pesantren ini dan mereka hadir dalam kecantikan serta kelebihan yang tidak bisa diragukan lagi. Akan tetapi diantara semua pilihan itu Ustad Vano justru lebih memilih Almaira, putri satu-satunya Pak Kyai dan membuat banyak orang patah hati. Ai ini adalah kenyataan yang tidak bisa kamu tolak. Kami memberitahumu kabar ini agar kamu mulai menjaga jarak dari Ustad Vano dan jangan mengganggunya lagi. Dia sudah memiliki seseorang dihatinya dan itu tidak pantas untukmu mengejarnya. Daripada menciptakan fitnah dan menciptakan fitnah, lebih baik kamu harus segera memperbaiki niatmu datang ke pondok pesantren ini. Perbaiki niatmu dan tetapkan hanya kepada ilmu."


Sakit,


__ADS_2