Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 17.10)


__ADS_3

"Azam mengerti, Pa." Setelah melepaskan pelukan Mama, Azam lalu memeluk Papa kuat sebelum beralih memeluk adiknya yang kini terbalut gamis pesta nan sederhana namun tetap terlihat anggun.


Adiknya ini adalah satu-satunya harta yang Papa dan Mama miliki selain dirinya.


"Adek, ridho gak, Mas nikah sama Kak Mega?" Tanya Ustad Azam diselingi nada candaan.


Pasalnya, Sasa sangat menyukai Mega sehingga ia rela melakukan rencana gila agar ia dan Mega bisa bersama.


Adiknya sangat berperan besar dalam hari pernikahan ini. Bila adiknya tidak bertekad melakukan semua ini maka ia dan Mega mungkin masih belum berani melangkah ke tahap ini-- ah, mungkin lebih tepatnya Ustad Azam yang masih belum memiliki keberanian menghalalkan Mega saat itu.


"Mas Azam ngomong apa sih, Sasa ridho tahu Mas Azam nikah sama Kak Mega. Malahan ridho banget tahu. Sasa tuh udah gak sabar lihat keponakan dari kalian yang imut-imut dan menggemaskan!" Jawab Sasa cepat dengan nada manjanya yang menggemaskan.


Ia memeluk Ustad Azam kuat, menyembunyikan kedua matanya yang mulai basah ikut berbahagia dengan kebahagiaan Kakaknya.


"Mas Azam gak boleh sakitin Kak Mega lagi, yah! Sasa gak rela kalau Kak Mega nanti Mas Azam buat nangis." Bisik Sasa mengancam.


Ustad Azam menyentuh puncak kepala Adiknya sayang sambil berjanji.


"Percayalah Dek, Mas gak akan pernah bisa membuat dia menangis karena tangisannya adalah luka untuk Mas."


Sasa mengangguk puas. Ia lalu melepaskan pelukannya dari Ustad Azam dengan senyuman manis nan lebar di wajahnya.

__ADS_1


"Selamat menempuh hidup baru, Mas." Ucapnya tulus memberikan selamat.


Ustad Azam menganggukkan kepalanya bersyukur,"Terimakasih."


Setelah menyesuaikan suasana hatinya, Ustad Azam membawa pandangannya menatap ke depan. Menatap lurus calon Papa mertuanya yang masih setia berdiri di depan rumah bersama dengan anggota keluarga yang lain.


"Ya Allah, tolong ridhoi langkah ku, ya Rabb." Setelah melangitkan permohonannya, ia lalu dengan berani mengangkat kaki kanannya untuk mengawali langkah baru kehidupannya.


Di bawah tatapan semua, laki-laki tinggi nan tampan- atau panggil saja Ustad Azam, telah sepenuhnya menarik perhatian mereka.


Terutama untuk tamu undangan gadis-gadis lajang di sini. Kedua pipi mereka merona malu menatap betapa tampannya Ustad Azam. Rasa kagum dan cemburu terbesit di hati mereka, bertanya-tanya mengapa bukan mereka yang menjadi calon pengantin perempuannya?


Mengapa bukan mereka yang bertemu dengan Ustad Azam sebelumnya?


"Assalamualaikum, Pa." Ustad Azam kini telah berdiri di depan Papa Mega, calon mertuanya.


Ia kemudian menunduk sopan, meraih tangan Papa Mega dan menciumnya penuh kebaktian.


"Waalaikumussalam, Nak." Papa Mega menepuk pundak Ustad Azam kuat sebelum mengangguk ringan kepada keluarga Ustad Azam di belakang.


"Apa kamu sudah siap?" Tanya Papa Mega tampak sangat berwibawa.

__ADS_1


Ustad Azam dengan teguh dan meyakinkan menganggukkan kepalanya serius.


"Bismillahirrahmanirrahim, aku sudah siap, Pa."


Papa Mega mengangguk ringan. Meskipun Ustad Azam telah mengatakan siap tapi ia tidak langsung memberikannya jalan masuk.


"Nak, sebelum kamu masuk ke dalam untuk menghalalkan satu-satunya putriku, apakah aku bisa menanyakan suatu pertanyaan kepadamu?" Kata Papa Mega tanpa senyum di wajahnya tuanya.


Ini tentang masa depan putrinya setelah lepas dari mereka dan beralih tinggal bersama pemimpin yang baru. Pemimpin yang ia harapkan mampu membimbing putrinya ke jalan yang benar agar tidak mengikuti jejaknya dulu yang sempat tersesat.


"Papa bisa bertanya." Jawab Ustad Azam dengan suara maupun ekspresi yang tidak kalah seriusnya.


Papa Mega sejenak tidak mengatakan apa-apa, lalu beberapa detik kemudian ia bertanya,"Nak, putriku penuh akan kekurangan dari segi sikap maupun sifat, sebagai seorang laki-laki yang akan menjadi imamnya kelak, apakah kamu mau menerima kekurangannya ini?"


Putrinya suka bertindak egois dan mudah marah, sebagai orang tua ia sangat mengenalnya. Jadi, daripada Ustad Azam menyesalinya suatu hari nanti, ada baiknya Papa Mega meminta jaminan untuk putrinya di masa depan nanti agar putrinya tidak berakhir terluka seperti perempuan-perempuan tidak beruntung di luar sana.


"Pa, berdirinya aku di sini adalah bukti bahwa aku menerima segala maupun kekurangan putri Papa. Aku mau menerimanya dan aku pun berjanji akan membimbingnya menjadi orang yang lebih baik lagi, menapaki jalan kebenaran yang lurus secara bersama-sama dengan harapan Allah meridhoi langkah kami bersama." Jawab Ustad Azam yang langsung dihadiahi suara-suara siulan dari pihak keluarga maupun tamu undangan.


Seketika suasana serius segera menguap entah kemana digantikan dengan suasana suka cita dari semua orang.


Begitupula Papa Mega yang sebelumnya berwajah serius kini telah memasang ekspresi berseri-seri di wajahnya. Walupun kedua matanya memerah, tapi senyum kebahagiaan telah terbentuk indah di wajah tuanya. Dia sangat bersyukur karena orang yang akan menjadi imam putrinya adalah seorang laki-laki baik nan alim yang Inshaa Allah mampu membimbing putrinya menuju jalan yang Allah ridhoi.

__ADS_1


"Nak, silakan masuk dan segera halalkan putriku untuk dirimu!"


__ADS_2