
Nana tersenyum nakal,"Apa yang kasar? Emang kenyataannya gitu toh. Emang kalian mau hidup sama laki-laki bertopeng perempuan? Aku sih naudzubillah, takutnya dia gak cuma doyan sama Ustad Vano aja tapi juga sama kita-kita yang gak pernah bersentuhan sama yang namanya laki-laki."
Teman-temannya yang lain tertawa. Mereka menganggap ekspresi maupun cara bicara Nana yang dibuat-buat sangat lucu.
"Benar Kak, orang kayak dia itu cocoknya diusir aja dari pondok biar gak buat masalah lagi." Sari- orang yang sedari tadi tidak bisa menahan senyum diwajahnya ketika mendengar pembicaraan mereka akhirnya bersuara.
Dia sangat senang jika orang-orang mulai membenci Ai, apalagi jika idenya untuk segera mengusir Ai sampai berhasil, ah...betapa menakjubkan rasanya.
"Ide kamu bagus juga. Nanti kita akan melaporkan masalah ini kepada Umi agar segera ditangani. Dengan begini kita tidak akan terganggu lagi dan pondok pesantren akan damai lagi seperti dulu." Nana meladeninya dengan senang hati, bahagia rasanya bertemu dengan orang yang berpikiran sama dengan dirinya.
"Apa kamu tidak salah berbicara?" Suara judes Frida menginterupsi kesenangan mereka.
"Kamu gak ikut sama anak-anak petugas kedisiplinan? Kali aja di asrama ada tontonan menarik-"
"Aku lagi gak bercanda." Potong Frida tampak kesal.
Dia lalu melirik Sari, adik kelas yang pernah membuat gempar pondok pesantren karena keberaniannya mencoba masuk ke dalam ruangan kerja Ustad Vano.
"Tahukah kalian siapa dia?" Tanya Frida kepada Nana dan teman-temannya.
Nana menjawab dengan senyum,"Dia adalah salah satu junior kita."
Orang-orang hanya tahu nama Sari tapi tidak dengan mengenali wajahnya. Jadi, Nana tidak tahu bila lawan bicaranya tadi adalah Sari, santri perempuan yang hampir saja dikeluarkan dari pondok pesantren.
Sari merasa tidak nyaman ditatap setajam itu oleh Frida.
Frida tersenyum tipis,"Benar, dia adalah junior yang sebelumnya mencoba menjebak Ustad Vano di dalam kantornya. Dia adalah orang yang harusnya dikeluarkan dari pondok pesantren ini karena perbuatannya yang gila. Dibandingkan dengan Aishi Humaira yang hanya sebatas rumor, gadis ini lebih cocok di depak dari pondok pesantren kita karena dia tidak menutup kemungkinan akan mengulangi kesalahan yang sama!"
Sontak mereka semua terdiam. Banyak pasang mata mulai memperhatikan Sari dengan tatapan yang rumit. Bahkan Nana yang sebelumnya bercanda dengannya kini mulai menatap Sari dengan tatapan permusuhan.
__ADS_1
"Jadi itu kamu?" Kata Nana sarat akan ketidaksukaan.
Wajah Sari langsung pucat pasi. Dia meremat kedua tangannya gugup bercampur takut. Di dalam hatinya dia bertanya-tanya mengapa Frida melakukan ini kepadanya padahal dulu ia dan Frida cukup akrab.
"Ini benar-benar dia, pelaku yang hampir menjatuhkan harga diri Ustad Vano. Berbeda dengan Aishi Humaira, dia ini sangat nekat masuk ke dalam kantor Ustad Vano dan itu semua sudah direkam oleh cctv sekolah santri laki-laki. Dia lah yang pantas keluar dari sini dan bukan Aishi Humaira. Rumor yang menyebar tentang gadis itu belum diketahui kebenarannya jadi kalian tidak bisa asal menghakiminya. Jika rumor itu tidak benar dan gadis itu tidak terima dengan apa yang kalian katakan hari ini mengenai dirinya, percaya atau tidak pondok pesantren akan memberikan kalian sebuah hukuman." Ucap Frida masih dengan nada juteknya yang khas.
Teman-temannya jadi terdiam termasuk Nana sendiri. Apa yang Frida katakan benar, mereka tidak seharusnya asal berbicara tanpa mengetahui kebenarannya. Lagipula ini adalah sebuah rumor yang belum diketahui kebenarannya jadi daripada membicarakan yang tidak-tidak, lebih baik mereka merapatkan mulut sampai kebenaran itu ada.
Frida melirik sinis Sari sebelum pergi menyusul teman-temannya ke asrama putri.
Bila dibilang ia telah menghilangkan rasa tidak sukanya kepada Ai? Jawabannya sudah pasti tidak. Dia masih Frida yang tidak menyukai Ai karena satu-satunya santri perempuan yang mendapatkan perhatian Ustad Vano adalah Ai seorang.
Bahkan Almaira yang dirumorkan bertunangan dengan Ustad Vano pun tidak pernah mendapat perhatian yang Ai dapatkan.
Frida masih cemburu dan ia masih tidak menerima kenyataan jika Ai lebih beruntung darinya. Hanya saja, dia masih mempunyai hati nurani. Dia tidak suka melihat seseorang memainkan tangan dibelakang untuk menjatuhkan orang lain. Ia tahu bahwa dirinya juga salah, suka memarahi Ai dan suka pula berburuk sangka kepada Ai.
Akan tetapi sejahat-jahat dirinya, dia tidak akan pernah sampai menciptakan fitnah untuk menjatuhkan Ai. Rasanya itu sangat tidak adil dan terkesan curang.
Entahlah, Frida juga tidak mau mengakui dirinya adalah orang yang jujur dan baik. Dia tahu bahwa orang yang disebut baik dan suci tidak pantas untuk ia sandang.
Sementara itu dilain tempat. Setelah mendengar kabar bahwa orang yang jatuh pingsan adalah Ai, pujaan hatinya. Ustad Vano segera membawa langkahnya secepat mungkin menuju asrama putri. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah sampai di gedung asrama putri. Dia melangkah cepat masuk ke dalam lorong khusus kamar junior.
Dari jauh dia bisa melihat ada plang berwarna merah dan hitam bertuliskan nama putri Rasulullah Saw tercinta dengan huruf Arab gundul.
فاطمة الزهراء
Ada suara keributan di dalam. Nampaknya banyak orang yang masih tinggal di dalam kamar termasuk dua sahabat Ai.
"Assalamualaikum?" Ustad Vano tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Untungnya semua orang dalam keadaan tertutup dan menggunakan jilbab sehingga tidak menimbulkan keributan.
Semua orang terdiam melihat kedatangan Ustad Vano langsung. Mereka pikir orang yang akan datang membantu adalah staf asrama putri atau Ustazah tapi justru sebaliknya, yang datang langsung adalah Ustad Vano sendiri.
Nampaknya rumor itu sama sekali tidak benar mengenai perilaku Ai kepada Ustad Vano. Karena lihatlah saat ini, tanpa dikejar pun Ustad Vano mendatangkan dirinya sendiri ke sini untuk menemui Ai.
"Ustad.." Orang pertama yang bereaksi adalah Asri.
"Ustad, Ai pingsan dan masih belum bangun." Kata Asri mengadu.
"Apa yang terjadi kepadanya dan kenapa kalian tidak membawanya ke ruang medis tapi malah membiarkannya di sini tanpa perawatan langsung dari dokter?" Ada nada menyalahkan di dalam suara Ustad Vano.
Dia langsung masuk mendekati Ai yang sedang terpejam di atas tempat tidur. Wajahnya pucat dan suara nafasnya bergerak teratur adalah satu-satunya kabar baik bahwa kekasihnya baik-baik saja.
"Itu..."
Mereka semua kompak menjaga jarak dari Ustad Vano. Berada sedekat ini dengan idola pondok pesantren memang sangat berbahaya.
"Kami tidak bisa membawanya ke ruang medis takutnya kami akan menyakiti badan Ai. Dan...dan Ustad tenang saja, kami telah berusaha merawat Ai dengan memijat kaki, tangan, serta kepalanya agar ia bisa lebih nyaman. Namun...namun dia belum bangun juga sampai sekarang." Semua keangkuhan Mega segera menguap ketika berhadapan langsung dengan Ustad Vano.
Bagaimana tidak, saat ini Ustad Vano terlihat sangat kesal, marah, dan khawatir. Dia benar-benar tidak bisa didekati ataupun diganggu.
Mega benar-benar tidak berani berbicara banyak di depan Ustad Vano. Dia dengan sadar menjaga sikapnya di depan Ustad Vano.
"Ai, bangunlah." Ustad Vano mencoba membangunkan Ai tapi masih tidak ada respon darinya.
"Sayang bangunlah, lihat, aku sudah datang menemui mu." Bisik Ustad Vano yang bisa didengar oleh beberapa pasang telinga.
"Sayang!" Mereka yang mendengar sangat terkejut.
__ADS_1
"Sstt..." Asri segera memperingatkan mereka agar menutup mulut.