Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Season II: Mahligai Cinta (Bab 12.13)


__ADS_3

"Kami telah membuat keputusan." Ujar Ustad Vano setelah berunding dengan Ustad Azam dan Sasa.


Mereka mempertimbangkan hukuman untuk Ai, Mega, dan Asri. Hukuman yang mereka berikan tergolong tidak sulit namun juga pada saat yang bersamaan banyak menguras tenaga dan waktu. Rencananya mereka akan menjalani hukuman ini sampai beberapa hari kemudian agar dapat menimbulkan efek jera.


Sasa mengambil inisiatif berjalan mendekati mereka bertiga. Ustad Vano sebelumnya mengatakan bila dia lah yang akan mengatakan hukuman apa yang Ai, Mega, dan Asri terima. Jadi, dia menjalankan tugasnya sesuai amanah yang Ustad Vano dan Ustad Azam berikan.


"Hukuman yang akan kalian terima adalah membantu staf dapur menjalankan tugasnya selama tiga hari. Mulai dari proses memasak, menghidangkan makanan, sampai mencuci peralatan dapur adalah bagian dari tugas kalian. Dengan begitu, pondok pesantren akan memberikan kalian keringanan. Misalnya setelah selesai sholat tahajud kalian akan langsung ke dapur untuk membantu membuat sarapan, bila masuk waktu shalat subuh kalian akan kembali ke masjid untuk sholat berjamaah tapi segera kembali lagi ke stan dapur umum untuk menghidangkan makanan di atas meja. Kemudian kalian diizinkan telat masuk kelas selama 1 jam karena kalian akan mencuci piring yang santri gunakan sarapan. Pengaturan ini berlaku untuk makan siang juga makan malam, dan hukuman ini harus kalian jalankan dari besok hingga 3 hari ke depan. Apa kalian punya keluhan?"


Semua orang yang ada di sana mendengar dengan serius setiap kata yang Sasa ucapkan. Mereka pikir hukuman ini tergolong berat karena banyak waktu istirahat yang tersita. Otomatis mereka bertiga akan mengalami kelelahan yang berkepanjangan selama beberapa hari ke depan.


Malangnya romansa mereka, banyak orang yang berpikir seperti ini. Mulai dari mengagumi laki-laki yang sama, jatuh ke dalam sawah berlumpur bersama-sama hingga dihukum bersama-sama dengan surat yang gagal sampai di tangan sang pujaan hati.


Mereka bertiga diam yang menunjukkan bahwa tidak ada yang keberatan ataupun mengeluh meskipun di dalam hati mereka saat ini ada rasa keengganan menjalani hukuman.


"Baiklah, diam kalian adalah sebuah persetujuan. Kalian sekarang bisa kembali ke asrama untuk membersihkan diri." Ustad Azam lalu melihat adiknya,"Sasa, bawa mereka kembali dan pastikan mereka tidak membuat ulah lagi."


Sasa mengangguk ringan,"Baik, Ustad."


Dia mengangguk sopan kepada Ustad Vano sebelum melirik Kevin yang terlihat dalam suasana hati yang buruk. Matanya kemudian beralih melihat sarung coklat yang entah sejak kapan Kevin pegang. Padahal beberapa saat yang lalu sarung ini masih melingkari pundaknya tapi sekarang sudah dilepas saja.


"Jaket ini benar-benar tidak bisa menutupi tubuhmu jadi gunakan sarung ini."

__ADS_1


Sasa tidak bisa menutupi sinar keterkejutan di dalam matanya. Kevin memang orang yang baik dan suka menolong tapi dia tidak pernah memaksa orang dengan wajah datar seperti ini agar mau menerima bantuannya.


Tapi lihat saat ini. Profil Kevin jauh dari citra sopan dan ramahnya. Tanpa menunggu Asri mengatakan apapun dia sudah membawa sarungnya ke leher Asri.


"Ada apa ini?" Sasa linglung.


Dia adalah seorang dan naluri seorang perempuan pasti selalu benar- tidak, hari ini dia tiba-tiba meragukannya.


Mengapa?


Tentu saja jawabannya karena sorot mata Kevin ketika sedang menatap Asri terlihat lembut, lebih lembut daripada wajah tanpa ekspresinya yang jarang terjadi.


Ada apa ini?


Sementara itu, Asri yang tertangkap tidak siap menerima sarung dadakan dari Kevin tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia terkejut, mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya hanya ada kata terimakasih yang terucap.


"Terimakasih, Kak." Dia sangat gugup berdiri sedekat ini dengan orang yang ia sukai.


"Hem," Kevin anehnya merasa jauh lebih nyaman setelah melakukan apa yang hatinya inginkan.


"Ayo pergi dan bersihkan diri kalian di asrama." Ucap Sasa menarik perhatian Asri dan Kevin.

__ADS_1


Kevin lantas mundur ke belakang, berdiri di samping Adit yang terlihat agak linglung.


Adit sejujurnya tidak menyangka Kevin akan tetap memberikan sarung itu kepada Asri karena sebelumnya sudah ditolak.


Sasa melirik Kevin sekali lagi tapi hasilnya tidak lebih mengecewakan daripada sebelumnya. Ekspresi masam Kevin tidak sejelas seperti sebelumnya, seolah-olah beban yang memberatkan pundaknya telah dilepas.


Di samping itu Sasa benar-benar tidak mengerti mengapa Kevin tidak kunjung-kunjung melihatnya.


Dengan galau, Sasa membawa ketiga adik kelasnya kembali ke asrama. Dia ingin menoleh ke belakang namun hatinya lebih takut lagi merasakan kekecewaan yang sama. Alhasil ia hanya memendam semuanya dalam diam dan di bawah senyumnya yang lembut.


Dia tidak bisa menunjuk apa-apa di sini karena tidak ada yang tahu mengenai hubungannya dengan Kevin.


Berjalan di samping mereka, Sasa sesekali membawa tatapannya kepada gadis berjilbab hitam yang sudah tertutupi sarung milik Kevin. Sepintas, sebuah perasaan cemburu mulai tumbuh dihatinya.


"Aku harap kalian tidak mengulangi lagi kesalahan ini karena hal ini bisa mempengaruhi nilai kalian selama belajar di pondok." Ucap Sasa berbicara lembut, masih dengan nada khasnya yang ramah dan mudah di dekati.


Mega malu dan tidak berani melihat Sasa. Dia juga masih enggan memberitahu Sasa bahwa ia telah mengenalinya. Setidaknya untuk saat ini Mega tidak akan mengatakan apa-apa sampai semuanya jelas entah itu dari pihak keluarganya atau dari keluarga Ustad Azam sendiri.


"Inshaa Allah kesalahan ini tidak akan terulang kembali. Namun, sebelumnya kami ingin meminta maaf karena sudah menyusahkan Kak Sasa." Ai meminta maaf dengan sopan.


Sasa tersenyum,"Tidak apa-apa, aku tahu kalian juga tidak bermaksud membuat kesalahan. Lagipula kita hidup di dalam pondok pesantren, tempat yang sangat ketat akan banyak aturan. Bahkan untuk sekedar menyampaikan rahasia hati saja kita tidak bisa karena terikat aturan. Hah... bukankah kita semua sudah dewasa jadi bagaimana mungkin kita tidak menyimpan seseorang di dalam hati?"

__ADS_1


Sasa jelas berbicara kepada Ai namun entah mengapa Asri merasa kata-kata ini diarahkan kepadanya?


"Bukankah begitu...Asri?" Lanjut Sasa masih tersenyum manis.


__ADS_2