Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Ibu bijaksana


__ADS_3

Seorang wanita tua berperawakan cungkring melintasi rumah bercat krem untuk membeli sesuatu di warung seberang rumah Bu Aminah. Lalu, ia melihat Bu Aminah dan seorang wanita yang tidak terlalu jelas wajahnya karena terhalang oleh tiang tengah berdiri menatap kepergian sebuah mobil milik seorang pria berseragam dinas yang baru saja mengantarkan mereka pulang.


Setelah itu, wanita itu menghampiri bu Aminah dengan rasa penasaran pada siapa wanita yang tengah berdiri bersamanya itu.


" Bu Aminah lagi liatin mobilnya siapa itu serius amat ?" tanya wanita itu basa - basi.


Bu aminah dan Norin menoleh ke samping kiri dimana sumber suara itu berasal. Nampak wanita paruh baya tengah berjalan ke arah mereka.


" oh Bu Sum, dari mana Bu?" Bu Aminah tidak menjawab pertanyaan wanita yang selalu ingin tau urusan orang lain melainkan ia balik bertanya.


Wanita tua yang memakai jilbab sedikit miring itu berjalan dan semakin dekat pada mereka. Setelah dekat serta dapat melihat dengan jelas wajah wanita yang berdiri di samping Bu aminah, kemudian ia melebarkan matanya.


" lho Norin tah, tak kira siapa?" ucap wanita yang bernama Bu Sum.


Norin tersenyum pada wanita itu.


" apa kabar Bu?" Norin menyapa wanita tersebut dan sudah tentu ia sangat mengenalnya.


Wanita itu adalah Bu Sum. ibu nya Susi, teman masa SMP sekaligus tetangga satu kampung dengannya.


Kemudian Norin menyalaminya dengan tak'jim.


" kabarku baik banget Rin, kamu kapan datangnya?" tanya Bu Sumi sambil pandangannya menelisik dari atas sampai ke bawah kaki Norin.


Norin tersenyum kecil. " barusan aja Bu."


" kok kamu keliatan kurusan gini sih Rin, apa hidupmu di sana susah yah? beda jauh sama si Susi badannya montok. hidupnya senang dia," celoteh Bu Sumi. Jujur saja sebenarnya wanita itu ingin memuji bahwa Norin semakin cantik saja selama tinggal di kota namun gengsinya tinggi.


" ya gimana si Susi badannya ngga montok Bu, tiap hari kerjanya cuma rebahan aja di rumah. Beda sama Norin yang tiap hari harus kerja buat bayar cicilan rumah yang dia beli di kota sana, belum lagi biayain adiknya yang masih kuliah," Bu Aminah menimpali celotehan wanita itu.


" oh gitu tah, terus ini tumben pulang kampung kirain udah lupa sama kampung halaman kamu Rin !"


" Norin orang sibuk Bu Sum, waktu liburnya cuma sedikit makanya dia jarang pulang," Bu Aminah menimpali lagi pertanyaan wanita itu.


" oh, pantesan sibuk kerja terus sampe lupa sama umur dan jodoh kamu Rin. si Susi aja sekarang udah punya anak dua lho, terus kapan kamu mau nyusul si Susi Rin? jangan kebanyakan milih Rin, nanti keburu tua. kalau udah tua ngga nikah nikah gimana coba? emang kamu mau jadi perawan tua Rin?" celoteh Bu Sum panjang lebar.


Norin tersenyum mendengar kalimat yang di lontarkan oleh wanita tua itu. Sementara Bu Aminah merasa geram. Bagai mana tidak, anaknya baru saja datang belum juga masuk ke dalam rumah sudah mendapatkan omongan yang tidak mengenakkan di telinga dari tetangganya itu.

__ADS_1


" Norin, kamu pasti lelah ayok masuk dan istirahat dulu. maaf ya Bu Sum, bukannya Bu Sum mau ke warung ya silahkan lanjutkan lagi aja ke warungnya Bu, kami mau masuk dulu, permisi ya Bu."


Kemudian Bu Aminah dan Norin memasuki rumahnya meninggalkan wanita yang sok bicara bijak itu.


" dih, di omongin sama orang yang lebih tua kok ngeyel," ucap Bu Sum sambil mencebik kan bibirnya lalu bergegas pergi dari rumah Bu Aminah.


Norin memasuki rumahnya sembari menarik koper setelah pintu di buka oleh ibunya. Tidak ada yang berubah dari rumah sederhana orang tuanya itu, furniture yang sama, warna cat tembok yang tidak berubah warna serta tetap rapih dan bersih. karena Bu Aminah sendiri merupakan orang tua yang rajin.


" Rin !" panggil Bu Aminah pada anaknya yang masih berdiri tengah memperhatikan isi rumahnya.


Norin menoleh pada ibunya. " iya Bu !"


" jangan di fikirin omongannya Bu Sum tadi ya ? kamu istirahat aja di kamar biar ibu masak dulu," ucap Bu Aminah. lalu, ia hendak pergi ke dapur namun Norin memanggilnya.


" ada apa Rin ?"


" apa ibu malu punya anak seperti Norin ?" tanya Norin tiba tiba.


Bu Aminah menatap anaknya dengan sorot mata teduh.


" benarkah Bu? tapi apa ibu ngga malu punya anak yang statusnya belum menikah meskipun usiaku udah masuk kepala tiga?"


Ibu Aminah tersenyum hangat.


" ibu memang pernah sempat khawatir sama kamu Rin, ibu hanya takut kamu jadi bahan olok olokan orang, ibu ngga mau itu terjadi.


Tapi ibu sadar bahwa rizki, jodoh dan maut nya seseorang itu udah di tentukan sama Allah Rin, dan ibu yakin suatu hari nanti anak ibu yang cantik ini pasti menemukan jodoh terbaiknya."


Norin menghambur ke pelukan ibunya. Ia tidak menyangka ibunya akan bersikap bijak seperti itu. Padahal ia sempat berfikir kepulangannya akan mendapat tuntunan untuk segera menikah tapi kenyataannya malah sebaliknya.


" makasih ya Bu, udah mau ngertiin Norin."


" ya udah kamu istirahat dulu di kamar sambil menunggu ibu masak. besok akan datang kakak dan adikmu ke rumah ini.


Norin mengangguk, kemudian mengikuti perintah ibunya untuk masuk ke dalam kamarnya.


Kamar mungil itu terlihat rapih dan bersih. Karena setiap hari ibunya selalu membersihkannya meskipun tidak di tempati olehnya. Norin menatap sendu pada ranjang tidurnya yang berukuran kecil, sebuah ranjang tidur yang mengingatkan ia pada masa remajanya yang mana ia dan Kakak ke duanya selalu rebutan posisi tidur.

__ADS_1


" kak Sifa, aku kangen kamu kak!" Norin bermonolog.


Norin memiliki dua kakak perempuan yang hanya memiliki jarak usia masing masing dua tahun. Kakak pertamanya sudah menikah dan tinggal terpisah dari ibunya serta sudah memiliki satu orang anak laki laki dan satu orang perempuan. Kakak keduanya juga sudah menikah tapi belum memiliki keturunan dan sekarang ia ikut dengan suaminya yang berstatus sebagai PNS dan di tugaskan di luar daerah. Norin juga memiliki adik laki laki yang jarak usianya sangat jauh dengannya, sekarang tengah kuliah dan tinggal di kosan.


Norin merebahkan tubuh lelahnya di ranjang kecil miliknya. Lalu, ia memejamkan matanya dan dalam sekejap saja sudah tertidur pulas.


Sementara di tempat lain. Seorang pria tampan tengah berdiri menatap kosong pada kaca besar yang terpampang di ruang kerjanya.


Sampai kapan mau berdiri di situ Hoon?" tanya Lee tiba tiba.


Shin melirik dengan ekor matanya pada pria yang tengah berdiri di sampingnya.


" mau apa uncle ke sini?" tanya Shin dengan malas dan pandangan yang tetap mengarah ke depan.


" ck, tentu saja untuk bertemu denganmu. hari ini sepertinya aku tidak melihat mu keluar dari ruangan dan juga tidak melihatmu makan!"


" sejak kapan uncle memperhatikanku?"


" sejak kau menjadi pria bodoh, apa kau akan terus melamun di sini tanpa makan dan minum? meratapi kepergian calon kekasihmu yang pergi hanya untuk sebulan bukan untuk selamanya! sudah ku bilang nikahi saja dia agar dia tidak bisa pergi darimu."


Shin menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" sudah aku bilang aku tidak memiliki keinginan untuk menikah. Justru menikah hanya akan menjauhkan sebuah hubungan seperti Dad and mom!"


" ck, tidak semua orang menikah itu seperti orang tuamu Hoon!"


" uncle, sudahlah lebih baik uncle keluar dari ruangan ku. aku ingin sendiri."


" dasar pria bodoh dan keras kepala. terserah dirimu, kau mau mengikuti saran ku atau tetap pada pendirian keras mu itu dasar bodoh."


Kemudian Lee beranjak pergi meninggalkan keponakannya yang masih kekeh pada pendiriannya.


Shin mengusap kasar wajahnya lalu berkacak pinggang.


" aku tidak boleh jadi pria lemah. lagi pula wanita itu hanya pergi untuk sebulan bukan untuk selamanya. Ck, lihat saja nanti setelah kau kembali aku tidak akan membuatmu bisa pergi lagi dariku," Shin bermonolog.


Shin keluar dari ruang kerjanya lalu berjalan dengan wajah angkuh nan dingin. Semua staf menundukkan kepalanya setelah mereka tahu siapa manager gudang itu sebenarnya dan ancaman nya atas kejadian kemarin.

__ADS_1


__ADS_2