
...وَلَا تَهِنُوْا وَ لَا تَحْزَنُوْا وَاَ نْتُمُ الْاَ عْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ...
...Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman....
...(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 139)...
...🍁🍁🍁...
Melihat situasi yang tidak baik untuk Ai, Asri memutuskan untuk membela Ai karena biar bagaimanapun ini adalah kesalahannya. Jika dia tidak meminta Ai mengintip stan makanan laki-laki maka Ai tidak akan dimarahi oleh Ustad Vano.
"Ustad, sebenarnya ini adalah kesa-"
"Aishi Humaira." Potong Ustad Vano dingin.
Ini lebih mengerikan dari sebelumnya!
"Yang aku tanya adalah Aishi Humaira dan yang harus menjawab pertanyaan ku adalah Aishi Humaira. Apa kamu yang bernama Aishi Humaira?" Tanya Ustad Vano tajam.
Asri malu bercampur panik. Dia tidak menyangka Ustad Vano akan sangat marah hanya karena dia ingin membantu Ai menjawab. Dia pikir Ustad Vano akan memaklumi alasan yang akan dia katakan tadi. Namun sebelum dia selesai mengatakannya, Ustad Vano sudah lebih dulu memotongnya.
"Maaf Ustad, aku bukan Aishi Humaira." Kata Asri takut-takut.
"Lalu, biasakan dirimu di masa depan untuk tidak asal berbicara ketika tidak diminta." Peringat Ustad Vano kepada Asri.
Asri dalam keadaan tertunduk menganggukkan kepalanya mengerti. Dia merasa tidak percaya diri di depan Ustad Vano sekarang dan dia lebih malu lagi kepada Ai karena tidak bisa membantu. Padahal itu adalah kesalahannya meminta Ai mengintip stan makanan laki-laki yang tepat berada di depan mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Ai masih terguncang dengan panggilan Ustad Vano tadi. Aishi Humaira, nama ini terucap sangat dingin dari mulut Ustad Vano tapi hati Ai menjadi hangat karenanya. Dia terkejut bercampur senang karena Ustad Vano menghafal namanya dengan baik.
Ini..dia tidak pernah berharap Ustad Vano mengingat namanya!
Ai sangat senang.
Saat ini kedua tangannya saling meremat untuk berbagi rasa gugupnya dan jantung yang ada di dada datarnya berdebar dengan kecepatan tinggi. Darah yang dipompa oleh jantungnya bergerak cepat di seluruh tubuhnya, membuat Ai merasakan euforia aneh yang tidak biasa.
"Jadi, sampai kapan kamu akan menutup mulut wahai Aishi Humaira?" Suara dingin Ustad Vano menginterupsi semua lamunan Ai.
Ya Allah, ya Allah! Dia memanggil namaku ya Allah. Batinnya sangat senang.
"Maafkan aku, Ustad! Aku bersalah. Aku.. tidak sengaja mengintip santri laki-laki dari lubang tabir. Tolong maafkan aku, Ustad." Ai akhirnya memberanikan diri menjawab.
Saat ini hatinya memang sangat senang tapi dia tahu betul jika hukuman yang menantinya setelah ini pasti tidak main-main.
"Aku akan memutuskan hukuman apa yang akan kamu terima besok untuk kasus ini. Aku harap.." Suaranya terdengar berat dan tidak nyaman.
"Ini adalah terakhir kalinya kamu membuat kesalahan ini." Peringat Ustad Vano.
Ai tanpa sadar menganggukkan kepalanya cepat. Dia bisa merasakan betapa marah Ustad Vano sekarang meskipun suara Ustad Vano sejak awal bertemu sudah dingin. Entahlah, Ai tidak berani terlalu berharap lebih karena dia tahu bahwa dirinya sungguh..
Tidak pantas untuk Ustad Vano.
Lagipula, Ustad Vano marah karena dia telah membuat kesalahan besar dihari pertama dan bukan marah karena yang lain, em, ini..dia tidak berani berpikir terlalu jauh.
__ADS_1
"Baik, Ustad. Tolong maafkan aku." Ucap Ai malu.
Tapi Ustad Vano seolah tidak mendengar apa yang dia katakan tadi dan memperlakukannya seperti angin lalu.
Tapi Ai tidak kecewa, ah..atau lebih tepatnya dia sudah terbiasa diabaikan jadi rasanya tidak terlalu sakit.
Yah, tidak sakit.
"Sekarang kalian berdua merawat tanaman bunga yang ada di halaman masjid ini. Pisahkan bunga yang rusak dan jangan sampai merusak bunga yang lain, potong rumput liar yang tumbuh disekitarnya dan jangan pernah berhenti sampai aku kembali lagi ke sini."
Itu artinya Ustad Vano tidak akan di sini mengawasi mereka. Jujur, Ai kecewa.
Tidak apa-apa, setidaknya aku telah bertemu dengannya berkali-kali hari ini. Toh, setelah merawat bunga dia akan datang kembali lagi. Batin Ai menyemangati diri sendiri.
"Apa kalian mengerti?"
Ai dan Asri kompak menjawab,"Kami mengerti, Ustad."
"Baiklah, silakan bekerja." Kata Ustad Vano sebelum pamit pergi.
Setelah Ustad Vano berbalik, diam-diam Ai mengangkat kepalanya untuk memperhatikan punggung lurus nan tegap itu yang bergerak semakin menjauh. Pemilik punggung itu, dia rindu serindu-rindunya.
Bahkan hatinya ini tidak pernah lelah mengharapkan pemilik punggung itu berbalik melihatnya, berbicara kepadanya dengan suara yang lembut tanpa nada dingin di dalamnya. Ai ingin, bahkan sangat ingin.
Tapi sekali lagi ini hanyalah angan-angannya saja karena dia mengerti mungkin bagi Ustad Vano kenangan yang terjadi 12 tahun yang lalu tidak pernah terjadi dan tidak pula berkesan untuknya.
__ADS_1
Ai sungguh mengerti ini.