Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Doni & Dewi


__ADS_3

Di sebuah rumah yang terletak di sebuah komplek kelas menengah ke atas, Doni sedang sibuk mencuci moge ke sayangannya di halaman rumahnya. Hari ini adalah hari libur kerja dan Doni bisa leluasa mencuci mogenya di rumah.


"Doni...!" teriak wanita paruh baya di atas balkon rumahnya.


Doni mendongak kan wajahnya ke atas melihat pada wanita paruh baya yang sedang berdiri di atas balkon.


"Ada apa ma?"


"Sudah selesai belum nyuci motornya?"


"Sebentar lagi. Emangnya mau apa ma?"


"Antar mama ke rumah teman."


"Ngga bisa ma, hari ini Doni mau ke toko."


"Halah, toko mu itu banyak karyawannya sudah biarkan aja. Cepetan kamu mandi kalau udah selesai." Sang ibu pergi setelah berbicara dengan Doni.


"Mau apa sih, tumben tumbenan ke rumah temannya minta antar aku. Biasanya juga ngeloyor sendiri." Doni bergumam dengan sedikit kesal .


Doni segera menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu, ia bergegas pergi mandi.


"Tumben mama minta antar aku ke rumah teman mama, biasanya juga mama pergi sendiri." Doni menyindir sang ibu yang tidak biasanya mengajak nya ke rumah temannya.


"Udah, jangan bawel. Nanti juga kamu tau sendiri."


"Ya sudah. terus perginya mau naik motor apa mobil?"


"Ya naik mobil lah, masa iya naik motor gede mu itu."


"Ya kali aja ma."


"Yaudah yuk, berangkat nanti ke buru siang.


Doni mengemudikan mobilnya menyusuri jalan menuju rumah teman ibunya. Memasuki sebuah perkampungan yang terletak di tengah kota. Setelah itu, ia memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah yang sangat sederhana. Tampak seorang wanita seumuran ibunya sedang berdiri di depan rumah untuk menyambut ke hadiran mereka. Doni heran. Kenapa ibunya yang seorang sosialita bisa berteman dengan seorang wanita seusianya yang penampilannya sangat sederhana jauh di bawah ibunya.


"Ayok Don." ajakan sang ibu membuyarkan keheranan nya. Kemudian, Doni mengekor di belakang.


"Risma, kamu datang dengan siapa ini? ganteng sekali." tanya wanita itu.


"Ini Doni Lis, Anak ku satu satunya."


"Oh, pantes ganteng sekali mirip sama almarhum mas Aji, ayahnya."


Doni hanya tersenyum saja tanpa menimpali.


"iya dong siapa dulu mamanya," ucap Bu Risma sambil tertawa lebar.

__ADS_1


"Kalau gitu ayok masuk ke gubuk ku Ris."


"Kamu ini Lis, selalu merendah aja kalau ngomong."


Kemudian, mereka memasuki rumah yang sangat sederhana dan duduk di sebuah sofa yang telah usang.


"Kalau anakmu ada berapa Lis?"


"Anak ku ada empat Ris semuanya perempuan. Anak pertama sudah menikah dan dibawa oleh suaminya keluar kota. Anak kedua belum menikah dan sedang kerja di pabrik. Anak ke tiga kelas dua SMP dan anak terakhir masih kelas lima SD."


"wah, anak kamu mah banyak ya apa lagi perempuan. Aku itu pengen banget punya anak perempuan tapi Allah cuma ngasih satu anak laki laki. Ya mudah mudahan anak ku satu satunya ini cepat dapat jodohnya biar aku ada teman kalau di rumah."


Doni tidak menanggapi obrolan kedua wanita tua itu. Ia sibuk memainkan ponselnya.


Tak lama kemudian, seorang gadis muda dan manis datang dengan membawa sebuah nampan berisi minuman sembari jalan menunduk sehingga ia tidak melihat siapa tamu ibunya yang datang.


"Nah, yang ini anak kedua ku Ris. Setelah suamiku meninggal dan aku sering sakit sakitan, dia lah yang menjadi tulang punggung keluarga kami bekerja menjadi buruh di pabrik."


Doni masih asik saja memainkan ponselnya dan belum menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Begitu pula dengan gadis manis itu yang terus saja menundukkan wajahnya.


"Manis sekali. Siapa namamu sayang?" tanya Bu Risma.


"Dewi Tante." Ucap Dewi lalu mendongakkan wajahnya.


Doni ikut mendongak kan wajahnya mendengar nama Dewi dan suara yang sangat di kenalnya. Seketika pandangan mereka bertemu.


"Dewi...!"Doni terperangah.


"Lho, lho...apa kalian udah saling kenal?" tanya Bu Risma.


"Oh, itu kami...kami rekan kerja di pabrik ma." jawab Doni.


"wah, kebetulan banget ya, ini yang namanya jodoh. Gimana Lis kalau anak kita jodohkan aja?"ujar Bu Risma.


"Apa ma, mama mau jodohin aku sama bocah gede ambek kayak dia?" ngga mau ma. Aku udah punya pilihan sendiri." Doni menolak mentah mentah keinginan ibunya itu.


Dewi menunduk kan wajah nya sambil me re mas jari jarinya. Malu, kecewa dan sedih ia rasakan saat ini setelah pria yang selama empat tahun di kagumi nya telah menolaknya mentah mentah.


"Dewi permisi dulu Tante."Ijin Dewi tiba tiba lalu ia bergegas pergi meninggalkan mereka.


Dewi keluar rumah lewat pintu belakang berjalan cepat menuju kolam ikan milik orang di belakang rumahnya. Tiba di kolam ikan, Dewi berjongkok lalu menangis menumpahkan rasa sesak di dadanya.


Dewi menyadari bahwa Doni tidak akan pernah menyukainya karena Dewi bukan lah sosok perempuan sesempurna Norin. Wajahnya tak secantik wajah Norin, tubuhnya tak sebagus bentuk tubuh Norin, kulitnya tak seputih dan semulus kulit Norin. Kulit Dewi cenderung kusam. Wajah Dewi kurang rawat kadang sesekali datang jerawat. Dewi tak memiliki modal untuk mempercantik dirinya. uang gaji yang tak seberapa di gunakan untuk kebutuhan keluarganya bukan untuk dirinya sendiri. Meskipun nasibnya sama dengan Norin yaitu menjadi tulang punggung keluarga tapi hidupnya tak seberuntung Norin yang sempurna. Dewi merasa insecure jika di bandingkan dengan Norin.


Dewi mengagumi Doni sudah sejak empat tahun yang lalu. Dimatanya, Doni merupakan sosok pria sempurna. Ia tampan, Sholeh dan mapan. Dewi hanya bisa mencintai nya dalam diam terlebih ia tau bahwa cinta Doni hanya untuk Norin seorang. meskipun begitu, Dewi tidak pernah membenci sosok Norin karena pria yang ia cintai mencintainya.


Keesokan harinya, Dewi bekerja seperti biasa. Ia pun bersikap biasa pada Doni jika bertemu seolah olah tidak pernah terjadi apa apa dengannya.

__ADS_1


"kenapa laptop mu wi?" tanya Intan. melihat rekan kerjanya sedang mengoprek laptopnya.


"Ngga tau nih tiba tiba nge hang."


"Ya udah telpon tim IT aja." Intan memberi saran.


Dewi berpikir sejenak."Ngga ah, biarin aja."


"lah gimana bisa kerja kalau laptopnya mati gitu. Lagi pula biasanya kamu paling semangat manggil IT kalau laptopnya ada masalah."


Dewi terdiam. Memang, biasanya Dewi selalu semangat untuk segera menghubungi pihak IT jika ada masalah dengan laptop laptop para staf di ruangan tersebut. Tapi, tidak untuk kali ini, rasanya sudah tidak ada semangat lagi untuk melakukan hal itu.


Dewi menghela nafas lalu beranjak pergi ke toilet. Cukup lama ia di toilet setelah kembali ke ruangannya sudah ada sosok Doni di meja kerjanya. Entah siapa yang memanggilnya. Doni melirik ke arah Dewi yang baru datang sambil menunduk. kemudian memalingkan wajahnya kembali. Dewi duduk di kursi yang berjarak dua meter dari meja kerjanya menunggu Doni membenarkan laptopnya.


"kayaknya harus ganti laptop." Ucap Doni tiba tiba. Dewi yang sedang duduk menunduk mendongak dan melirik ke arahnya.


"Oh." kemudian Dewi menunduk kembali.


"hanya oh doang?"


Dewi melirik ke arah Doni lagi. Apa Dewi harus bilang wow?"


Doni tersenyum tipis."Jangan di masuk kan ke hati omongan mama saya kemarin ya? dia orangnya suka becanda." Doni berbicara pada Dewi namun pandangannya tak lepas dari laptop di hadapannya. Dewi tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan me re mas buku-buku jarinya.


"Laptopnya mau aku bawa ke ruangan ku dulu." Doni berdiri lalu beranjak pergi sambil membawa laptop tanpa menoleh ke arah Dewi.


Dewi menatap nanar pada punggung pria yang hendak keluar dari ruangannya.


Jam sudah menunjukan waktunya untuk pulang kerja. Dewi membereskan meja kerjanya merapikan file - file yang berserakan.


"Dew, mau keluar bareng ngga?"tanya intan.


"Duluan aja Tan, aku belakangan aja."


"Ya udah kalau gitu aku duluan ya." Intan beranjak pergi meninggalkan Dewi sendirian karena staf yang lainnya sudah pulang lebih awal.


Setelah selesai, Dewi bergegas ke luar dari ruangan berjalan menuju parkiran motor.


"Dewi !" panggil seorang pria dari arah belakang sambil berjalan mendekati Dewi . Dewi menoleh lalu tersenyum.


"Mas Reza!"


"Mau pulang wi?"


"Ya mas."


"Bareng ke parkirannya wi."

__ADS_1


Kemudian, mereka berjalan beriringan menuju parkiran sambil mengobrol di selingi candaan. Bertepatan dengan itu, mereka berpapasan dengan Doni yang hendak pergi ke mushola untuk melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu sebelum pulang. Rutinitas yang hampir setiap hari Doni lakukan. Doni berhenti di tempat. Namun, Dewi serta Reza terus saja berjalan tanpa berhenti. Jangankan menyapa menoleh pun tidak.


Doni menatap punggung kedua orang yang sedang mengobrol sambil becanda seolah olah menganggap dirinya tidak ada. Ada perasaaan tidak suka melihat kedekatan Dewi dengan pria yang di ketahui sebagai supervisor produksi.


__ADS_2