
Dia memukul-mukul bantal untuk melampiaskan kekesalan hatinya dari tokoh Beta yang ada di dalam buku tersebut. Meskipun Beta itu hanya beberapa halaman singkat dijelaskan penulis namun dampak kekacauan yang disebabkan sangat besar untuk semua orang.
"Eh, tapi.. nama Beta itu sama dengan namaku. Yah, dia dipanggil Rein! Aa..kenapa nama kami berdua sama, aku tidak bisa menerimanya!" Rein berteriak histeris di dalam kamar.
Melompat-lompat di atas kasur empuknya sepuas hati untuk menyuarakan ketidaksenangannya pada sang penulis. Dia tidak terima jika nama orang yang membuat bencana besar dalam novel itu sama dengan dirinya. Dia merasa jika Rein yang penulis maksud adalah dirinya dan perasaan itu sangat menjengkelkan.
"Ah, sudahlah! Lagipula ini hanya cerita fiksi di dalam novel jadi tidak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakan." Rein kemudian menjatuhkan dirinya ke atas ranjang.
Mengambil novel itu dan mengamatinya dengan pandangan menerawang.
"Aku terlahir sebagai hermaprodhit dan sangat sulit untuk menemukan pasangan hidup. Tapi di dalam buku ini hermaprodhit masih mempunyai harapan untuk hidup bersama dengan seorang laki-laki. Aku juga ingin.. seperti mereka tinggal di dunia yang masih menyediakan harapan untuk orang yang terlahir berbeda. Astaga..aku berbicara aneh lagi. Aku sepertinya butuh istirahat karena begadang semalaman." Rein mengusap wajahnya kasar.
Selalu saja seperti ini. Batin Rein miris.
"Aku lebih baik mandi dulu sebelum tidur agar kepalaku kembali normal dan tidak error' lagi." Rein lalu turun dari ranjangnya.
Mengambil baju ganti dari dalam lemari dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia melepaskan semua kain yang melekat di tubuh dan melemparkannya ke dalam rak pakaian kotor.
Beberapa detik kemudian suara shower memenuhi kamar mandi diiringi dengan suara sumbang Rein. Dia bernyanyi sepenuh jiwa di dalam kamar mandi dan terkadang menghentak-hentakkan kakinya untuk menambah kepuasan. Beberapa menit kemudian dia berganti lagu dengan nyanyian ceria. Saat menyanyikan lagu ini Rein tidak malu mengeluarkan suara kerasnya sambil melompat-lompat di dalam kamar mandi. Guyuran air dingin dari shower menjadi pelengkap aksi konser dadakan yang dia gelar di dalam kamar mandi.
Suara hentakan kakinya bersatu padu dengan suara gemericik air, itu terdengar agak-
"Argh.." Rein berteriak kaget karena salah satu kakinya terpleset dan keseimbangan tubuhnya menjadi goyah.
Rein langsung jatuh ke bawah tanpa bisa dicegah. Kepala belakangnya langsung membentur ubin kamar mandi yang keras dan kasar.
"Apa ini.." Pandangan Rein dipenuhi warna merah dan sebuah rasa sakit mulai berdenyut dari kepala belakang.
Rein ingin menyentuh kepalanya yang sakit tapi kedua tangannya tidak mau bekerja sama. Mereka terus saja gemetaran setiap kali Rein mencoba mengangkatnya.
"Sakit.." Kepalanya semakin sakit dan pandangannya mulai goyah.
Dia tidak bisa melihat dengan jelas bahkan suaranya mulai melemah. Nafas Rein tersengal-sengal karena dadanya terasa berat. Seolah-olah ada batu besar yang menindihnya tepat di atas jantung yang sedang berdetak.
__ADS_1
Apa aku akan mati?. Batin Rein bertanya.
Tubuhnya sangat sakit dan tidak bisa digerakkan, nafasnya juga mulai menipis dan detak jantungnya melambat. Tidak ada kesimpulan yang lebih cocok selain ini, satu-satunya jawaban untuk situasinya sekarang adalah dia akan segera mati.
Baguslah.. setidaknya aku tidak akan pernah menderita lagi. Batinnya merasa lega.
Meskipun menghasilkan banyak uang namun dia belum bisa bahagia karena kehadirannya di dunia ini sangat asing. Para manusia normal menatap sebelah mata kelahiran manusia yang spesial. Hah.. mengapa Tuhan begitu tidak adil?
Jika Tuhan menciptakan mereka dalam kondisi spesial maka seharusnya Tuhan juga bertanggung jawab atas kehidupan mereka diantara para manusia normal. Namun mengapa Tuhan hanya diam saja melihat hidup mereka disepelekan para manusia normal?
Mengapa Tuhan diam saja melihat penderitaan mereka di dunia ini, Rein tidak bisa mengerti alasannya.
"Argh..sa..kit.." Badannya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa.
Seolah-olah ada ribuan benda tajam yang menusuk kulit Rein dan mengirisnya dalam waktu yang bersamaan. Rasa sakit ini terus saja memenuhi tubuhnya dan membuat Rein menjadi mati rasa.
Nafas Rein kian kacau seiring berbagai macam rasa sakit menghujani tubuhnya. Rein ingin menangis keras namun dia tidak bisa karena suaranya saja sudah hilang.
Hanya sakit yang dia rasakan di sekujur tubuh dan lambat laun penglihatannya mulai mengabur. Mengabur dan mengabur digantikan oleh kegelapan yang tidak berujung.
Jadi seperti ini rasanya mati. Batin Rein menderita.
Jika dia tahu rasanya seperti ini Rein tidak akan pernah meminta kepada Tuhan untuk segera dimatikan. Dia tidak bisa menerima gelombang rasa sakit yang terus saja berdatangan tanpa henti.
Membuat jiwanya tersiksa.
Tapi sekarang dia sudah mati sehingga keluhan itu tidak ada gunanya lagi. Tahap selanjutnya dia akan melewati akhirat untuk memutuskan apakah dia berhak masuk surga atau tidak.
Rein pikir Tuhan tidak akan memasukkannya ke dalam neraka karena semasa hidup Rein selalu berjuang menghadapi kesulitan yang Tuhan ciptakan. Lagipula Rein juga yakin dia adalah orang yang baik semasa hidupnya karena sebagian besar gajinya selalu diberikan kepada panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Tentu saja, seharusnya Tuhan mengirimnya ke surga dan bukan ke neraka.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Keningnya berkerut tidak nyaman dan ada getaran halus dari bulu mata panjangnya. Beberapa detik kemudian bulu mata yang sempat bergetar kini bergerak ke atas menampilkan bola mata hitam kelam yang indah.
Kedua mata itu mengerjap bingung setelah menyesuaikan sinar yang masuk ke dalam retina. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan ekspresi kebingungan.
"Ugh.. kepalaku pusing." Dia meringis kecil ketika merasakan kepalanya berdenyut pusing.
"Dimana ini?" Tanyanya seraya mengedarkan pandangan ke sembarang arah.
Dia yakin ini bukan surga apalagi neraka karena jika dia sudah di surga seharusnya tidak ada rasa sakit lagi dan jika dia di neraka seharusnya ada bara api hitam pekat yang terus menyala di sekelilingnya.
Tapi tidak ada sama sekali dan malah yang dia temukan di kamar ini adalah berbagai macam furniture modern yang kekinian.
Melihat ini dia menjadi semakin bingung karena dia masih ingat dengan jelas bahwa dia sudah mati.
Benar, dia sudah mati di dalam kamar mandi karena terlalu asik bernyanyi dan melompat-lompat sehingga dia tanpa sengaja jatuh terpeleset menimpa ubin kamar mandi. Dia juga belum bisa melupakan rasa sakit yang terus saja berdatangan saat dia mulai menghembuskan nafas terakhirnya.
Dia masih ingat dengan sangat jelas itu semua tapi kenapa dia ada di sini dan bukannya di akhirat?
"Apakah ini rumah sakit?" Sekali lagi dia melihat sekitarnya.
"Rumah sakit mana yang menyediakan rumah kelas atas seperti ini? Bahkan ada juga fotoku. Aneh, aku tidak pernah berfoto menggunakan pakaian modis seperti itu..aku juga tidak suka melakukan selfi." Dia memaksakan diri bangun dari tidurnya.
Mengambil salah satu bingkai foto yang mengabadikan wajahnya saat tersenyum lebar sambil memegang bunga mawar merah.
Di samping bingkai foto ini ada juga bingkai foto yang lain dan lebih aneh dari bingkai foto yang dia pegang ini.
Salah satunya adalah bingkai foto yang paling besar diantara semua foto. Di foto itu dia sedang berdiri dengan seorang laki-laki tampan. Ditangannya ada bunga mawar merah muda yang dia pegang dengan wajah tersipu yang manis.
"Omong kosong! Kapan aku pernah berfoto dengan orang lain? Tidak.. tidak, ada yang salah dengan tempat ini. Ini bukan cuma perasaan ku saja tapi faktanya memang ada yang salah." Dia segera membuang bingkai besar itu ke lantai dengan ekspresi ketakutan.
Prang
Pecahan kaca langsung berserakan dimana-mana.
__ADS_1
"Rein apa yang kamu lakukan?"
Rein?