Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 24.11


__ADS_3

"Dia ingin memisahkan Ai dari kita." Bisik Safira seraya menatap hamparan bintang di langit yang gelap.


Ali memeluk Safira dari belakang untuk berbagi kehangatan. Tangannya yang panjang dan kuat merengkuh Safira agar menempel sepenuhnya ke dalam dekapannya.


"Aku minta maaf, sayang." Bisik Ali merasa bersalah.


"Ini bukan salah Mas Ali. Ini adalah obsesi Dinda yang masih belum bisa melepaskan Mas Ali." Safira menggelengkan kepalanya.


"Aku akan mencari cara untuk membuat Dinda memahami perasaan kita berdua. Aku juga akan memberikannya ganjaran yang tepat karena telah berani-beraninya menyakiti anak kita."


Ali sudah menghubungi kuasa hukum keluarganya untuk menangani masalah Ai. Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena yang menjadi korban adalah seorang anak kecil yang belum mengenal dunia.


Dia tidak bersalah tapi sudah dimusuhi oleh dunia.


"Mas Ali, aku takut bila Ai saja tidak cukup untuknya. Aku takut anak-anak kita yang lain juga akan menjadi sasarannya-"


"Hush.." Ali mengeratkan pelukannya pada Safira. Berusaha menenangkan kegelisahan istrinya yang belum padam semenjak pulang dari sekolah Ai.


"Demi Allah, aku akan pastikan hari itu tidak akan pernah terjadi. Kita punya Allah sayang, kita serahkan semuanya kepada Dia. Di samping itu juga aku sudah menghubungi kuasa hukum keluarga kita untuk mulai membuat laporan tentang kasus ini. Besok setelah Dinda kembali dia akan langsung berhadapan dengan aparat hukum untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Insha Allah setelah ini dia tidak akan mengganggu keluarga kita." Bisik Ali menenangkan istrinya.


Safira diam, matanya menerawang jauh menatap hamparan langit luas yang dipenuhi bintang-bintang. Dia ingat 10 tahun yang lalu pernah ada di posisi Dinda.


Dia pernah mencintai laki-laki yang sudah memiliki wanita lain dihatinya. Rasanya amat sangat menyakitkan dan menyiksa, Safira bisa memahami perasaan ini.


Rasa sakit itu bisa menguap bila hati rela melepaskan, namun bila tidak hati akan terus disiksa dalam jeruji kecemburuan dan patah hati.

__ADS_1


Kecuali..


Kecuali hati yang patah diobati oleh orang yang mematahkannya.


"Mas Ali," Safira menggigit bibirnya menahan sakit.


Mungkin saja Ali mau,


Bila dia mau Safira rela berbagi asal keluarganya tetap utuh.


"Hem?" Ali tidak menyadari perubahan emosi Safira.


"Bagaimana bila.. bagaimana bila Mas Ali menikahi Dinda. Jadikan..dia istri kedua dan Safira.. Safira rela dia hadir di tengah-tengah kita asalkan dia mau berubah-"


"Safira!" Suara marah Ali memotong ucapannya.


Untuk sementara tidak ada yang berbicara diantara mereka namun suasana yang tegang dan sarat akan kesedihan begitu kental di antara mereka.


"Apa dimata mu, aku adalah orang yang seperti itu?" Tanya Ali dengan suara rendahnya dan agak serak.


Safira tidak berani melihat Ali, dia menggelengkan kepalanya. Menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan wajah basahnya.


"Tidak, Mas. Suamiku bukanlah orang yang seperti itu."


Dalam suasana melankolis ini Safira tiba-tiba teringat dengan hari pertama Ai masuk sekolah. Saat itu Ali dan Dinda baru bertemu kembali setelah dua tahun hilang kontak. Saat ini Safira seolah bisa merasakan kembali rasa sakit yang dia rasakan ketika melihat interaksi akrab Ali dengan Dinda.

__ADS_1


Senyumannya yang berbeda dan tawanya yang tulus, Safira mengukirnya dengan sesak di dalam hati.


"Lalu kenapa kamu memintaku untuk menikahinya?" Nadanya terdengar tidak berdaya.


"Karena.. karena aku melihat Mas Ali sepertinya tertarik dengan Din-"


"Jangan katakan itu lagi, Safira." Potong Ali sedih.


Kedua matanya mulai memerah dan ada riak-riak tipis di dalamnya. Sungguh, tiada hari yang paling mengecewakan di dalam hidupnya kecuali hari ini.


Wanita yang dia cintai dengan tulus dan dalam memintanya untuk mendua. Membawa wanita lain masuk ke dalam bahtera yang sudah susah payah dia jaga dan lindungi, Ali sangat kecewa.


"Kamu.. membuatku kecewa." Katanya sebelum keluar dari kamar mereka.


Dia sangat marah tapi dia tidak kuasa untuk melampiaskan amarahnya kepada satu-satunya wanita yang dia cintai. Dia tidak bisa mengatakan semua kesakitan yang dia rasakan sekarang, kecuali..yah dia hanya mampu mengungkapkan betapa kecewanya dia saat ini.


"Mas Ali..aku.." Safira tidak kuasa menahan isak tangisnya.


Dia duduk di lantai, mengubur kepalanya merasakan sakit yang terus mendera hatinya.


"Aku juga sakit, Mas.." Bisiknya seraya membenamkan diri dalam tangisan.


Bersambung..


3 atau 4 bab lagi tamat, belum termasuk extra part yah. Sejujurnya saya mau update banyak tapi kuota saya amat sangat tidak mendukung, jadi karena takut gak bisa update terpaksa saya update ini dulu.

__ADS_1


Lanjut?


__ADS_2