
"Bahkan bertahun-tahun tinggal di pondok pesantren nyatanya tidak mampu membersihkan hati seseorang dari noda kotor. Apakah aku benar Kak Frida?" Suara dingin Mega menarik perhatian Tiara dan Frida.
"Apa kamu baru saja mengatakan hatiku kotor?" Tanya Frida tersinggung.
"Apa pendengaran Kak Frida bermasalah? Jelas-jelas temanku hanya bertanya santai. Tapi jika Kak Frida merasa tersinggung maka bisa jadi itu benar adanya jika hati Kakak kotor."
Asri menatap berani wajah marah Frida. Dia dan Mega menatap aneh senior mereka ini yang katanya berilmu tapi tidak punya sopan santun. Bertahun-tahun tinggal di pondok pesantren faktanya tidak menjamin hati seseorang sejernih air. Segumpal darah itu akan selalu keruh dan kotor jika tidak menghendaki sebuah perubahan. Bahkan walaupun disiram segudang ilmu jika tidak mau berubah tempat itu akan selalu seperti itu, kotor.
"Berani-beraninya kalian!" Teriak Frida emosi.
Tapi Mega dan Asri tidak takut dengan kemarahannya. Mereka malah merasa jika Frida ini agak lucu.
"Apa kalian tahu sedang berbicara dengan siapa, hah?! Aku ini senior kalian dan aku adalah petugas kedisiplinan asrama putri di sini. Jika kalian macam-macam kepadaku, aku akan melaporkan kalian kepada Umi!" Ancam Frida kekanak-kanakan.
Mega berpikir jika otak orang yang memilih Frida menjadi petugas kedisiplinan asrama putri pasti mengalami masalah. Bagaimana mungkin mereka memilih seseorang yang tidak mempunyai jiwa kemungkinan seperti Frida ini?
Mega tersenyum dingin,"Kakak memang petugas kedisiplinan asrama putri tapi bukan berarti Kakak bisa bertindak sesuka hati di sini selayaknya pemilik pondok pesantren!"
__ADS_1
"Apa Kakak gak malu, hah? Apa Kakak gak mau terus-terusan mengintimidasi seseorang yang lebih bawah daripada Kakak hanya karena Kakak adalah senior dan petugas kedisiplinan di sini?! Kakak pikir hanya Kakak saja yang bisa membawa masalah ini kepada Umi? Hei, jangan salah, Kak. Jika kami mau masalah ini juga bisa kami laporkan kepada Umi! Kami bisa melaporkan semua kelakuan jahat Kakak kepada Umi! Membicarakan Ai dimana-mana, menebarkan kebencian dimana-mana, dan menciptakan permusuhan untuk Ai dimana-mana! Semua kejahatan yang Kakak perbuat ini pasti akan mendapatkan hukuman yang tidak main-main!"
Frida mengatupkan mulutnya rapat menahan amarah. Semakin banyak dia mendengar apa yang Mega katakan maka semakin sesak pula dadanya. Dia sangat marah, sungguh sangat marah.
Selama dia menjabat sebagai petugas kedisiplinan asrama putri tidak pernah ada satu orang pun yang pernah melawannya seperti ini. Dia tidak pernah mendapat perlakukan seperti ini dari adik-adik juniornya.
"Beraninya kamu memfit-"
"Fitnah?" Potong Mega dengan tatapan mengejek.
"Jika Kakak mempunyai hati nurani dan rasa bersalah tolong jawab pertanyaan ku dengan jujur." Katanya kembali melihat Frida yang sudah memerah terang wajahnya.
"Apa semua yang ku katakan tadi itu fitnah? Apa semua perbuatan Kak Frida itu dibenarkan?"
Tiara terdiam, beberapa detik kemudian dia menghela nafas panjang menggelengkan kepalanya.
"Tidak, itu tidak dibenarkan. Dia salah." Jawabnya seraya mengalihkan pandangannya tidak mau menatap Frida.
__ADS_1
Mereka mungkin berteman dan mereka juga menjadi rekan kerja di pondok pesantren ini. Tapi kesalahan dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda. Tiara tidak bisa membenarkan semua perbuatan salah Frida dan Tiara juga tidak bisa menyalahkan perbuatan benar Frida.
Mereka harus membedakan mana air yang keruh dan mana air yang jernih.
"Kok kamu malah nyalahin aku sih, Tiara! Padahal kamu tahu sendiri aku gak pernah ngelakuin itu!" Tanya Frida kecewa.
Siapa yang tidak kecewa bila teman yang sudah dia percayai bertahun-tahun lamanya ternyata punya kesan yang buruk tentangnya. Dia pikir mereka sudah saling pengertian dan saling menerima satu sama lain.
"Aku tidak pernah melakukan perbuatan seburuk itu, jikapun aku sering membicarakannya itu karena dia selalu membuat gara-gara. Teman kalian itu seringkali membuat masalah agar bisa dekat dengan Ustad Vano-"
"Kak Frida menyukai Ustad Vano, benar?" Mega sekarang mengerti.
"Jadi selama ini Kakak cemburu karena Ustad Vano dekat dengan Ai. Ah.. sekarang aku mengerti kenapa Kakak suka mengganggu Ai dan menyebarkan rumor yang tidak benar tentangnya. Masalah ini aku akan memberitahu Ustad Vano. Aku akan memintanya berbicara langsung kepadanya agar tidak termakan cemburu buta. Lagian..Kak Frida harusnya tahu diri bahwa Ustad Vano sudah dijodohkan dengan Almaira putri Pak Kyai. Dia tidak mungkin melirik Kakak apalagi sampai mengucapkan terimakasih untuk semua perbuatan yang Kakak lakukan kepada Ai."
Kata-kata Mega bagaikan air dingin yang disiram tepat di atas puncak kepala Frida. Menariknya dari kenyataan pahit bahwa Ustad Vano nyatanya sudah memiliki gadis lain dihatinya. Dia tentu saja tahu siapa Almaira dan dia juga tidak bisa bersaing dengan gadis rupawan itu. Apalagi Almaira adalah satu-satunya putri Pak Kyai sehingga setelah menikah nanti Ustad Vano lah yang akan mewarisi pondok pesantren.
Hah, lagi-lagi dia harus ditampar dengan kenyataan pahit ini.
__ADS_1