
"Anisa.......Anisa.....!" teriak seorang pria di belakang Anisa ketika dirinya sedang berjalan. Anisa menoleh, tampak pria berjambang tipis berjalan cepat menghampirinya.
"A Doni....!"
"mau ke kantin Nis?" tanya Doni dengan nafas masih ngos ngosan.
"iya mau."
"bareng yuk?"
Anisa mengangguk. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju kantin.
"Nis, apa benar rumor yang beredar kalau Rendi menikah lagi?" tanya Doni tiba tiba, saat mereka sudah duduk di kantin.
Anisa mengerutkan dahinya. Ia bingung bagaimana pria di hadapannya bisa tau tentang Rendi padahal dirinya belum pernah cerita.
"da dari mana a Doni tau?"
"dari sosmed Nis."
"sosmed? maksudnya a?"tanya Anisa penasaran karena selama ini dirinya tidak pernah lagi bermain sosmed setelah menikah. Oleh karena itu Anisa tidak pernah tau apa yang sedang viral di sosmed.
Doni mengeluarkan ponselnya lalu memainkan nya, ia sedang mencari sesuatu untuk di tunjukan pada Anisa. Benar saja, tak lama Doni menunjukan sebuah video di ponselnya. Anisa mengambil alih ponsel pria tersebut.
Seketika mata Anisa membelalak melihat video viral yang beredar di sosmed. sebuah video dirinya dan Rendi serta istri sirinya ketika di mini market. Mungkin salah satu dari penonton merekam kejadian tersebut lalu di unggah di jejaring sosial media demi kepentingan dirinya dan Anisa sendiri tidak menyadari hal itu.
Anisa mengembalikan lagi ponsel tersebut pada Doni. Doni menatap lekat wanita yang sedang duduk di hadapannya.
"apa benar Anisa?" tanya Rendi lagi.
"iya, itu benar. dia menikah lagi," jawab Anisa lalu tersenyum kecut.
Doni terdiam sesaat, giginya bergemerutuk, tangannya mengepal di bawah meja. Ingin rasanya dia menonjok temannya yang sudah mengkhianati Anisa saat ini. Doni tidak menyangka kenapa sahabat lamanya itu tega berbuat demikian. Padahal setau dirinya dulu, Rendi benar benar mencintai Anisa dan bersusah payah mengejar cintanya Anisa. Doni menundukkan wajahnya.
"maaf Nis...!" ucap Doni lirih.
"kenapa a Doni minta maaf?"
"seharusnya aku ngga membiarkan dia deketin kamu dulu pada akhirnya dia nyakitin kamu kayak gini."
"hati manusia ngga ada yang tau kan a, begitu juga dengan hati Rendi. jangan kan a Doni, aku aja yang udah hidup tiga tahun sama dia baru tau sekarang gimana hati dan watak aslinya. Aku terlalu bucin sampe ngga nyadar kalau selama dua tahun ini aku di bodohi.
"maksud kamu Nis?" tanya Doni dengan wajah serius.
"iya, aku bodoh karena percaya aja sama setiap ucapan serta tingkah lakunya. dia udah berselingkuh sejak dua tahun yang lalu a, dan menikahi wanita itu dua bulan yang lalu karena wanitanya sudah hamil olehnya."
__ADS_1
"dua tahun selingkuh? berarti sejak anakmu masih bayi? brengsek banget si Rendi. lantas apa yang akan kamu lakukan Nis?"
"cerai. Mana mau aku di madu. Aku akan tuntut cerai karena dia sendiri ngga mau jatuhin talak ke aku."
"apa kamu serius Nis?"
"serius, tuan Shin akan menyewakan pengacara untuk ku."
"tuan Shin? ke kenapa dia mau membantu mu?"
"iya, ya mungkin dia kasian aja sama aku."
Doni manggut manggut meskipun sebenarnya ia penasaran kenapa big bos itu bisa tau masalah Anisa serta peduli padanya padahal Anisa hanya karyawan biasa.
Di tempat lain tepatnya di sebuah rumah kontrakan kecil. Rendi berjalan dengan lunglai memasuki rumah kecil itu.
" lho mas, masih siang kok udah pulang?" tanya Reni yang sedang duduk sambil memasang kutek di kuku jarinya.
Rendi tidak menjawab, ia ngeloyor melewati sang istri dan masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian teriakan terdengar di dalam kamar.
"Reni......Reni....!"
Reni yang sedang memakai kutek terkejut mendengar suaminya memanggil namanya dengan kencang. kemudian, ia buru buru masuk ke dalam kamar untuk menemui suaminya.
"ada apa sih mas teriak teriak? kayak di hutan aja." Reni sewot lalu memajukan bibirnya lima senti.
"kenapa sih baru datang marah marah?"
"gimana aku ngga marah, lihat itu kenapa bajuku masih teronggok di sana? kenapa ngga kamu rapihkan terus masukin lemari ? padahal kamu ngga ada kerjaan apa apa."
Rendi kesal sekali hari ini. Sudah mendapat skorsing satu bulan gara gara video perseteruannya dengan Anisa tersebar luas. di tambah lagi melihat bajunya yang masih di dalam tas serta koper membuatnya kesusahan untuk mengambil baju yang ingin di pakainya.
"mas, kamu mikir dong, bajumu sebanyak itu mau di tarok di lemari mana? lemari ku itu kecil dan udah penuh dengan bajuku. makannya beli lemari lagi yang besar buat nampung bajumu."
"Halah, lemari kecil itu juga aku yang beli. semua barang yang ada di rumah ini semuanya aku yang beli. kalau di fikir fikir hidupku jauh lebih enak tinggal sama Anisa. aku tinggal makan, tinggal tidur, pakaian ku selalu rapih. Sementara sama kamu, boros banget. makan harus beli tiap hari, minta duit mulu tiap hari, pakaian boro boro rapih di lipetin aja kagak."
"oh, jadi kamu udah berani bandingin aku sama calon mantan istri mu itu? udah di buang masih aja ngebelain. ingat dong kamu itu udah di usir."
"aku ngga akan pernah menceraikan dia, justru kamu yang akan aku cerai kalau kamu ngga bisa seperti Anisa."
braaakkk
Pintu kamar di tutup keras oleh Rendi. Ia kesal sekali pada istri manjanya yang rasanya tidak pernah menyenangkan hatinya.
"aku ngga mau kamu cerai, awas aja kalau kamu berani ceraikan aku, aku bunuh anak kamu ini," teriak Reni di dalam kamar.
__ADS_1
Rendi melajukan kendaraan roda duanya dengan kencang. Fikirannya buntu, ia bingung harus bagaimana. Ia mendapat skorsing di tempat kerjanya, Anisa menuntut cerai tambah lagi istri sirinya seorang pengangguran. Bagaimana ia mendapat kan uang untuk membayar kontrakan dua bulan ke depan kalau ia tidak bekerja. tinggal di rumah Anisa pun rasanya tidak mungkin.
Rendi memarkirkan motornya di halaman rumah bercat biru. Ia menatap nanar pada rumah tersebut. menyesal ? tentu saja ia sangat menyesal. Rendi berjalan pelan mendekati teras rumah itu.
tok tok tok
Bunyi ketukan pintu terdengar dari dapur. Bu Nia sedang menyuapi cucunya Al.
"Al, tunggu di sini dulu ya, nenek mau buka kan pintu sepertinya ada tamu."
Balita dua tahun lebih itu mengangguk.
Bu Nia berjalan ke arah pintu masuk rumahnya lalu menarik gagang pintu itu dengan pelan. Nampak Rendi dengan tampang yang kusut.
"mah....!" Rendi menyapa Bu Nia sambil hendak mencium tangannya namun Bu Nia segera mengalihkan tangannya tidak ingin di sentuh oleh pria itu.
"mau apa lagi kamu datang kemari ?"
"sa saya ingin bertemu dengan Al, saya kangen banget sama Al," jawab Rendi beralasan.
"tumben kamu bilang kangen ke Al? kemana aja kamu selama ini? kayak pernah peduli aja sama Al."
"saya ingin ketemu sama Al mah, walau bagai mana pun Al adalah darah daging saya. mamah boleh membenci saya tapi jangan pisahkan saya dengan Al."
"saya tidak pernah memisahkan kamu sama Al, justru kamu sendiri yang menjauhi Al. kamu mikir dong apa pernah kamu mengajak Al bermain seharian penuh? atau ngajak dia jalan jalan ?atau membelikan dia mainan ? pernah ngga ? ngga pernah kan? sekalinya ngajak main cuma lima menit terus kamu kembalikan lagi pada saya. kamu itu cuma membuatnya doang tapi ngurusnya ngga mau. Awalnya sih saya memaklumi mungkin kamu capek lelah bekerja mencari uang untuk anak serta cucu saya. Tapi, setelah saya tau kenyataannya. Cih, saya jadi benci sekali sama kamu."
"nenek.....!" tiba tiba Al muncul di samping Bu Nia yang sedang berdiri di ambang pintu."
"Al....papa kangen sama Al." Rendi berjongkok mensejajarkan tingginya dengan balita yang tengah menatapnya datar dan hendak meraih tangannya. Namun, Al menepis kasar tangan Rendi.
"ngga mau ngga mau."rengek Al sambil kedua tangannya memeluk sebelah kaki Bu Nia.
" papa kangen Al, papa pengen peluk Al." Rendi terus saja memaksa dan menarik tangan mungil itu agar terlepas dari kaki Bu Nia.
"ngga mau pegi pegi....!" kemudian Al berlari masuk ke dalam rumah.
"Al.....!" teriak Rendi.
"jangan paksa dia, kamu lihat sendiri kan bukan saya yang mempengaruhinya agar Al ngga mau sama kamu tapi sikap kamu sendirilah yang membuat dia ngga mau sama kamu."
Rendi memegang kedua kaki Bu Nia. Ia merendahkan dirinya dihadapan wanita itu." saya sangat menyesal mah. saya ingin memperbaiki semuanya. tolong saya mah saya ngga mau cerai dari Anisa, saya sayang Anisa mah, saya juga sayang Al. saya khilaf mah."
"bangun lah Ren, percuma kamu sujud di kaki saya. karena keputusan tetap di tangan Anisa. sebab, dia yang menjalankan serta merasakan manis pahit rumah tangganya bukan saya. saya selaku orang tua cuma bisa mendukung apa yang menurut anak saya nyaman dan lebih baik."
Bu Nia melepaskan kakinya dari cekalan tangan pria itu. Lalu, ia masuk dan menutup pintu rumahnya.
__ADS_1
Rendi menangis sesunggukan di depan pintu rumah bercat biru." maafin aku Nis, maafin aku...!"