Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 24.6


__ADS_3

"Bu, saya sudah membawanya." Dari luar ada dua orang laki-laki dengan seragam khusus staf sekolah sambil membawa sebuah laptop yang masih menyala.


semua fokus langsung jatuh pada dua staf sekolah itu. Wakil kepala sekolah yang mengerti situasi segera berdiri mempersilakan mereka berdua masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Meletakkan laptop yang masih menyala tersebut di atas meja.


"Tolong tampilkan rekaman cctv hari ini di kelas 3A pada pukul-"


"Lakukan dari pagi, dari Ai pertama kali masuk ke dalam kelasnya." Potong Safira tegas.


Suaranya membuat kedua orang tua Mega hampir lupa cara bernafas. Mereka untuk kesekian kalinya menarik nafas dalam-dalam, meremat kedua pundak Mega untuk menenangkan saraf mereka.


"Mama sakit-"


"Diam!" Marah wanita glamor itu sambil mengeratkan lagi tangannya di atas pundak Mega.

__ADS_1


Mega untuk yang kedua kalinya terpaksa menutup mulut. Kedua matanya bahkan memerah akan menangis menahan sakit, namun kedua orang tua Mega seolah tidak melihat apa-apa dan hanya memperdulikan nasib mereka sendiri ke depannya.


"Bu, maaf aku memotong ucapannya. Tapi aku ingin melihat semua yang terjadi pada Ai dari awal masuk sampai waktu ketika mereka bertiga bertengkar." Kata Safira dengan sopan.


Wakil kepala sekolah tidak terlalu memikirkannya. Lagipula, Safira juga tahu etika dan langsung meminta maaf kepadanya. Jadi, tanpa membuang waktu dia meminta kedua staf hotel itu menampilkan rekaman cctv dari kelas Ai.


"Ini..maaf," Tiba-tiba laki-laki berkulit coklat itu menatap wakil kepala sekolah dengan tatapan permintaan maaf.


Wakil kepala sekolah sangat peka,"Ada apa? Apa rekaman cctv kita bermasalah?" Tanyanya langsung.


"Cctv dari kelas 3A mengalami kerusakan, jadi..jadi kita tidak bisa mengakses rekaman apapun." Jawab laki-laki berkulit coklat itu membuat beberapa orang langsung berwajah muram kecuali kedua orang tua Mega tentunya.


Bahkan, rekan di sampingnya pun sama terkejutnya dengan yang lain. Karena dia yakin bila cctv di setiap kelas hidup dan tidak mengalami kerusakan. Di samping itu dia adalah pengawas sehingga dia sering memantau keadaan kelas setiap hari.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Semua cctv di sekolah ini baru diganti 2 bulan yang lalu. Mereka tidak mungkin rusak kecuali ada seseorang yang sengaja merusaknya!" Ucap wakil kepala sekolah itu tidak setuju.


Dia masih ingat dengan jelas bila semua cctv akan diperbarui setiap 2 tahun sekali. Dan tepat 2 bulan yang lalu kepala sekolah mengintruksikan sekolah melakukan pembaruan.


"Tapi..itu adalah adanya, Bu. Saya baru saja memeriksanya dan menemukan bila cctv itu sudah rusak." Safira melihat bila ada yang salah dengan sikap laki-laki ini.


Dia menyentuh tangan suaminya, memberikan sinyal lewat matanya bila laki-laki berkulit coklat ini tidak benar.


"Apa kamu benar-benar tidak bisa mengatasinya?" Ali mengangkat suara untuk bertanya.


Papa Mega meneguk ludahnya kasar, menelan kembali kebahagiaannya beberapa menit yang lalu agar tidak terlalu jelas.


"Maaf Pak, aku sudah berusaha semampuku dan tidak bisa melakukan apa-apa." Laki-laki berkulit coklat itu tanpa sadar menurunkan matanya untuk menghindari tatapan menyelidik dari Ali.

__ADS_1


Ali mengangguk ringan. Dia mengeluarkan ponselnya untuk mencari kontak seseorang.


"Kebetulan sekali, perusahaan ku sering mengalami masalah yang sama dan untuk itu aku sudah menyiapkan orang yang ahli di bidang ini. Berhubung sekolah ini tidak bisa melakukannya maka mengapa aku tidak meminta staf ku saja melakukannya? Dia pasti bisa mengatasi masalah ini dengan cepat." Katanya ringan tanpa emosi apapun di wajahnya.


__ADS_2