Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Bab 25.4


__ADS_3

"Apa Safira tahu siapa wanita beruntung itu?" Tanya Bunda dengan senyuman manis di wajahnya.


Safira menggelengkan kepalanya ragu. Sejujurnya dia sangat berharap wanita beruntung itu adalah dirinya.


Bunda tersenyum lebih lebar lagi,"Itu adalah kamu, Nak. Ali sudah mencintai kamu sejak 11 tahun yang lalu."


Jadi itu benar-benar dirinya?!

__ADS_1


Kedua tangan Safira bergetar, jantungnya yang sedari tadi berpacu cepat kian mengerikan saja kedengarannya. Tapi anehnya itu tidak sakit sama sekali, ini malah... terasa begitu melegakan?


11 tahun yang lalu, bukankah saat itu Mas Ali masih berusia 14 tahun?. Batin Safira dengan perasaan campur aduk.


Ada kebahagiaan namun ada juga kesedihan karena.. bagaimana mungkin dia baru mengetahuinya sekarang?


11 tahun.. itu artinya Ali sudah mencintai diam-diam selama 10 tahun. Diam-diam mencintai seseorang yang dekat namun jauh itu sangat menyiksa. Apalagi mereka mempunyai perbedaan usia yang jauh.

__ADS_1


Air mata yang tadinya mengering kembali keluar dari sudut matanya. Dia merindukan Ali, ingin memeluk dan menyuarakan betapa menyesalnya dia sekarang.


"Bunda belum menceritakan ceritanya jadi bagaimana mungkin kamu sudah mulai menangis?" Bunda juga ikut merasa sedih karena topik yang dia bicarakan sekarang adalah tentang seorang anak laki-laki yang diam-diam mencintai wanita dewasa.


Perjuangannya sulit dan itu dilalui selama bertahun-tahun.


"Cerita apa..Bunda?" Tanyanya seraya menahan isak tangisnya.

__ADS_1


Bunda tersenyum tipis, tangannya yang sudah tidak semuda dulu lagi mengusap air mata di pipi Safira.


"Ini tentang Ali 11 tahun yang lalu. Hari itu Ali diizinkan pulang ke rumah karena libur lebaran. Tidak seperti biasanya, Bunda melihat bila Ali tampak lebih dewasa dari anak-anak seusianya. Jujur Bunda dan Ayah senang dengan perubahan Ali namun juga kurang setuju karena Ali masih remaja, masih 14 tahun. Kami pikir dia di pondok pesantren pasti melalui hari yang sulit sehingga mau tidak mau menumbuhkan sikap dewasa yang datang tidak pada waktunya. Tetapi Ali bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi dan berperilaku baik di rumah sampai akhirnya pada malam takbiran Ali tiba-tiba ingin berbicara serius dengan kami. Ali, Bunda, dan Ayah berkumpul di ruang keluarga rumah ini. Malam itu Ali tampak jauh lebih tenang dan tidak gugup, dengan wajah serius dia memberitahu kami bila di pondok pesantren dia bertemu dengan seseorang yang menarik perhatiannya. Ali bilang sedang jatuh cinta dan ingin menikahinya. Jujur, kami tidak terlalu terkejut karena jatuh cinta di usia itu sangatlah wajar dan menganggap bila keseriusan ini hanya bertahan singkat. Tapi ketika dia memberitahu kami bahwa wanita yang disukai adalah kamu, kami jelas sangat terkejut. Karena saat itu dia masih remaja sedangkan kamu sudah beranjak dewasa. Tapi lagi-lagi kami menganggap bahwa Ali hanya main-main saja sampai 3 tahun kemudian dia pulang ke rumah sambil membawa tumpukan uang hasil dari tabungannya selama 3 tahun di pondok pesantren. Dia bilang uang ini akan dia gunakan untuk membelikan kamu sebuah kalung, tapi karena masih belum cukup untuk sementara dia meminta Bunda menyimpannya sampai semuanya cukup. Nak, tahukah kamu apa yang Bunda dan Ayah rasakan hari itu?" Tanyanya seraya mengusap wajah merah Safira yang kembali basah karena menangis.


__ADS_2