
"Selamat pagi semuanya ?"sapa Norin ketika masuk ke dalam ruangannya dan semua staf sudah masuk semua.
"selamat pagi....!" jawab mereka serempak.
Norin berjalan ke arah meja kerjanya tanpa menyadari bahwa ia menjadi pusat perhatian para stafnya.
"mba Norin hari ini cantik banget,"ucap intan.
"iya, penampilannya beda, cantik dan modis," Dewi menimpali.
"duh, kalian ini segitu detailnya memperhatikan penampilan saya. Apa karena selama ini saya berpenampilan kuprut ya?"
"ya engga juga sih mba, cuma hari ini beda aja gitu lebih modis," jawab Dewi.
Norin tersenyum." iya, soalnya hari ini tuan Lee meminta saya untuk menemani mister hendric."
"mister hendric siapa mba?" tanya intan.
"itu lho, buyer terbesar dari Eropa yang enam bulan lalu menjalin kerja sama dengan perusahaan ini. masa kalian lupa."
"Oia, bule ganteng itu ya mba? Dewi ingat sekarang."
"yups, ya udah gih mulai kerja."
"siap boss," ucap Dewi dan Intan bersamaan.
Norin mulai membuka laptopnya dan mulai fokus bekerja. Tak lama kemudian, Hendi menghampirinya.
"mba, apa kita harus melakukan persiapan seperti waktu dulu?" tanya Hendi.
Norin mendongak kan wajahnya lalu tersenyum." sebenarnya ngga ada perintah dari atas untuk berbenah sih. saya juga kurang tau beliau mau berkunjung dalam rangka apa? yang pasti tuan Lee hanya meminta saya untuk menemani beliau aja. Tapi, kalau kamu merasa ngga keberatan ya boleh aja kalau mau berbenah sebagai jaga jaga."
"ya udah mba kalau gitu mungkin saya nyuruh anak anak untuk rapih rapih aja kalinya."
Norin mengangguk. kemudian, Hendi ke luar ruangan menuju gudang bahan kain. Norin melirik ke arah Rina yang sedang memperhatikannya lalu memberikan sebuah senyuman hangat padanya. Rina yang kepergok tengah memperhatikannya segera menundukkan wajah malunya.
"ngga nyangka Rina, kamu musuhi saya selama ini hanya karena seorang Hendi. Andai aja kamu berterus terang dari dulu sama saya mungkin saya akan berusaha buat mendekatkan kamu dengannya."Norin bermonolog.
Tring tring tring
Jam menunjukan pukul sebelas siang. Telpon berdering di atas meja kerja Norin lalu ia mengangkatnya. Sebuah telpon dari sekertaris direktur Lee meminta Norin untuk datang ke ruang direktur Lee.
__ADS_1
Norin bangkit lalu berjalan menuju kantor di mana ruang direktur Lee berada. Tiba di dalam kantor, ia menjadi pusat perhatian beberapa staf. Selain penampilannya yang modis dan elegan, wanita itu juga baru muncul kembali setelah hukuman yang di terimanya sebulan yang lalu karena fitnahan Siska.
Norin berjalan dengan santai menyusuri dan melewati para staf yang menatapnya kagum. Namun, ada pula yang menatap iri serta benci. Sesekali ia tersenyum dan menyapa staf yang kebetulan berpapasan dengannya.
"ja la ng nya big bos muncul lagi. Gue fikir udah cabut dia dari pabrik ini,"celetuk Siska. Wanita itu masih saja menaruh dendam dan kebencian yang mendalam pada Norin. Entah sampai kapan Siska bisa berdamai dengan hati dan fikirannya.
"hus, jangan buat ulah lagi sis, kalau kamu masih ingin kerja di sini. Ingat, kamu udah pernah di keluarkan lho dari perusahaan ini. Kamu tau kan siapa itu Norin?" Maya mengingatkan wanita yang kerap kali membuat ulah pada Norin.
Siska mencebik kan bibirnya lalu menatap pada layar laptopnya kembali.
"Tuan Lee nya ada mba di dalam? tanya Norin pada sekertaris direktur Lee yang sedang duduk di meja kerjanya.
Sekertaris tersebut mendongak."Oh, ada mba Norin. Sudah di tunggu dari tadi sama direktur Lee di dalam," jawab sang sekertaris.
Norin tersenyum." kalau gitu saya masuk ya mba."
"silahkan mba Norin."
Norin berjalan mendekati pintu ruang kerja direktur Lee. Ia menghela nafas sesaat. Setelah itu, ia mengetuk daun pintu beberapa kali.
Terdengar sahutan di dalam menyuruhnya untuk masuk dan Norin menarik gagang pintu itu dengan pelan. Nampak direktur Lee sedang duduk di kursi kerjanya serta seorang pria yang selama ini sedang di hindari nya sedang berdiri sambil bersedekap dada menatap ke arahnya.
"cantik sekali dia hari ini." Shin bermonolog sambil matanya tak lepas dari wanita yang ia cintai.
"hai nona Norin, kemari," titah direktur Lee pada wanita yang sedang berdiri mematung di depan pintu.
Kemudian Norin mengangguk lalu mendekati meja kerja direktur Lee.
"silahkan duduk," titah Lee.
Norin mengangguk lalu duduk di kursi di hadapan direktur Lee tanpa menghiraukan pria yang sedang berdiri di sampingnya.
"kamu sudah tau kan jika hari ini akan ada mister hendric dari Spanyol dan sebentar lagi akan tiba di perusahaan ini?"
"iya tuan Lee, kemarin saya sudah membaca email dari tuan."
"saya memang sengaja memberi tahu kamu terlebih dahulu agar kamu bisa prepare dari awal."
"oh, jadi dia berpenampilan cantik seperti ini karena dia mau menemui pria Eropa itu?" Shin bermonolog.
"kira kira jam berapa beliau datang tuan Lee?"
__ADS_1
"kenapa harus dia yang menemani buyer tersebut uncle? disini masih banyak orang yang berkualitas daripada wanita ini." lirik Shin pada Norin, tiba tiba ia angkat bicara.
"Hoon, apa yang salah dari nona Norin? dia cantik dan pintar. kau tau kan bagaimana kemampuannya menarik buyer sekelas hendric dulu?"
"Ck, apa hanya karena dia cantik lalu uncle mau menyuguhkannya pada pria tersebut? di sini masih banyak wanita yang lebih cantik dari dia."
"asal kamu tau, ini atas permintaan mister hendric sendiri bukan atas kemauan saya."
"wow, luar biasa. ada udang di balik batu rupanya. Di sini aku bos nya bukan uncle. jadi apa pun itu semua harus melalui keputusanku bukan keputusan uncle."
"aku tau kamu lebih berkuasa di perusahaan ini Hoon, tapi kamu harus ingat mister hendric merupakan memiliki pengaruh besar di perusahaan ini."
"I don't care, sekalipun perusahaan ini bangkrut aku tidak peduli karena aku masih memiliki banyak perusahaan di luar sana."
"anda memang orang hebat dan besar yang memiliki harta banyak dimana mana dan tentu saja hidup anda tidak akan pernah sulit. Lantas bagaimana dengan nasib kami sebagai orang kecil yang menggantung kan hidupnya di perusahaan ini? mencari mata pencahariannya disini? jika perusahaan ini bangkrut apa anda tau apa yang akan terjadi pada nasib ribuan karyawan di sini? oh ya, saya baru ingat anda memang orang yang tidak memiliki hati dan perasaan serta e goo is," ujar Norin tiba tiba, sambil menatap tajam ke arah Shin.
Shin terperangah, Ia menelan saliva nya dengan susah payah mendengar kalimat menohok yang di lontarkan oleh wanita di sampingnya. Sementara direktur Lee tersenyum kecil melihat Norin melawan keponakannya yang sombong secara menohok.
Tak selang lama, seseorang mengetuk pintu ruang kerja direktur Lee kemudian orang tersebut muncul di balik pintu." maaf tuan Lee, mister hendric sebentar lagi menuju ke sini."
"oh ya terima kasih."
"Norin, let's go kita turun. kita biarkan saja orang sombong ini merenungi ucapan mu," ucap Lee pada Norin sembari menyindir pria yang tengah terdiam.
Direktur Lee dan Norin bergegas pergi meninggalkan Shin yang masih diam mematung.
"ck, gadis itu pandai sekali berbicara," dengan Shin kesal.
Direktur Lee dan Norin berdiri di teras depan kantor bersiap untuk menyambut ke datangan Hendric. Tak lama kemudian, sebuah mobil Alphard silver memasuki area pabrik dan berhenti di depan kantor tersebut.
Seorang pria tampan tinggi tegap dan bermata biru keluar dari mobil tersebut di ikuti oleh seorang bodyguard. Pria tersebut tersenyum ke arah Norin dan direktur Lee.
"hello, how are you?" sapa Hendric sambil mengulurkan tangannya pada Direktur Lee.
"hello, Im fine, how about you sir?" Lee membalas uluran tangan hendric.
"of course, im well." kemudian Hendric menoleh pada wanita cantik yang berdiri di samping Lee sambil tersenyum ke arahnya.
"hello, are you Miss Norin. am i right ?" tanya hendric sambil mengulurkan tangannya pada Norin.
Norin menerima uluran tangan pria Spanyol tersebut sambil tersenyum." that's right, sir."
__ADS_1
Shin memperhatikan interaksi ke tiga orang yang saling melemparkan gurauan dengan dada bergemuruh.