Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Shin di pesantren 2


__ADS_3

Pria yang dulu selalu berpenampilan fashionable, rapih serta bersih itu sekarang sedang berjibaku dengan tanah. Memakai celana kolor di bawah lutut serta kaos oblong hitam yang sudah mulai basah oleh keringat. Tangannya tak lepas dari sebuah gagang cangkul. Ia terus saja mencangkuli tanah keras sedikit demi sedikit agar tanah itu bisa di tanami tanaman palawija. Awalnya Shin kaku sekali karena pekerjaan ini merupakan pengalaman pertamanya namun lama lama ia menjadi terbiasa dan lancar.


"Semangat amat kerjanya kak?"goda Thoriq yang sedang mencangkul tak jauh dari tempat Shin mencangkul.


Shin berhenti, menegak kan tubuhnya lalu menoleh pada pria belia tersebut." apa terlihat seperti itu?" jawab Shin sambil menyeka keringat yang keluar dari dahinya.


"Yang lain saja pada santai kak."


"Biarkan saja, mumpung aku lagi semangat ha ha." kemudian ia melanjutkan lagi mencangkul nya.


Thoriq masih saja memperhatikan pria tinggi tegap yang tengah mencangkul dengan semangat. Thoriq tidak menyangka pria asing itu bisa cepat mengerti dan gesit melakukan pekerjaan kasar seperti yang sedang mereka lakukan. Padahal kalau di lihat dari tangannya yang halus sepertinya pria asing itu tidak pernah mengerjakan pekerjaan yang kasar.


Setelah selesai mencangkuli semua tanah yang memiliki luas sekitar seribu meter, mereka melanjutkan pada kegiatan berikutnya yaitu menanami tanah dengan berbagai macam tanaman palawija. Shin di ajari oleh tiga teman belianya bagaimana cara menanam benih benih palawija. Kemudian, Shin mulai mengikuti cara yang telah di ajarkan oleh mereka. Satu persatu benih biji itu ia tanam di atas tanah.


Setelah selesai bertanam mereka berbondong bondong berjalan melewati jalan setapak untuk mengambil air sumur yang letaknya cukup jauh serta naik turun. masing masing membawa satu ember termasuk Shin.


"Apa tidak ada aliran listrik di sini?" tanya Shin di tengah tengah berjalan kaki.


"Tidak ada kak, Soalnya kebun ini kan letak nya cukup jauh dari pondok." jawab Akbar


"Apa tanaman harus di siram tiap hari?"


"Pasti kak, kalau tidak ada hujan kita harus menyiramnya tiap hari supaya cepat tumbuh." jawab Abdul.


"Jadi tiap hari kita harus bolak balik mengambil air ke sumur itu?"


"Iya kak."


"Aigoo, aku bisa kurus kalau tiap hari naik turun bukit."


"ha ha ha."


Setelah tiba di sebuah sumur, mereka pun harus menimba nya untuk mendapatkan air sumur tersebut.


"aigoo, betapa susahnya jadi petani."


Ketiga teman belianya itu tertawa, mentertawakan keluhan pria asing yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang.


Karena yang mengerjakannya lebih dari seratus orang maka acara tanam menanam pun selesai di kerjakan. Shin dan ketiga temannya itu bernafas lega.


Shin memandangi hamparan tanah yang sudah mereka tanami dengan berbagai macam jenis sayuran lalu menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Begini rasanya jadi seorang petani, lebih sulit dari bekerja di atas meja."Shin bermonolog.


Akbar menyodorkan sebotol minuman pada Shin, Shin tersenyum lalu mengambilnya dari tangan Akbar.


"Thanks little bro."


"Jangan ngomong bahasa Inggris kak, aku ngga ngerti.


"Ha ha ha."


"Nanti kalau sudah panen, akan di kemana kan hasil nya?" tanya Shin sambil memberikan botol di tangannya pada Akbar.


"Di jual ke pasar kak."


"Di jual, terus hasilnya untuk apa?"


"Untuk menambah kebutuhan semua santri."


"Kebutuhan apa maksudnya?"

__ADS_1


"Seperti buku dan alat tulis serta kitab."


"Oh, begitu." sembari manggut manggut kecil.


"kak Shin, Akbar....ayok pulang." teriak Thoriq yang berdiri cukup jauh dari mereka.


Shin dan Akbar menoleh ke arahnya lalu berjalan mendekati Thoriq serta Abdul.


"Apa sudah tidak ada yang harus di kerjakan lagi disini?"


"Sudah tidak ada kak."


"Apa besok kita harus kembali kemari?"


"iya untuk menyiram lagi." jawab Abdul.


Shin menghela nafas berat rasanya ia tidak sanggup jika harus tiap hari bolak balik naik turun bukit untuk mengambil air." bagaimana kalau pulang dari sini kalian antar aku mencari pompa air?"


"kan tidak ada listrik kak," Jawab Akbar.


"Cari mesin yang menggunakan bahan bakar saja bukan listrik."


"pasti harganya mahal kak," Akbar menimpali.


"Tidak masalah aku yang akan membelinya."


"Baik lah kak setelah selesai mandi dan sholat kita ke pasar. Abdul menyarankan.


Setelah itu, ke empat orang pria tersebut berjalan beriringan menuju asrama.


"Apakah kalian tau jika di pondok wanita ada yang bernama Norin?" tanya Shin di tengah perjalanan mereka.


"Norin?" tanya Abdul.


"jangankan nama nama para santri puteri kak, bagaimana bentuk wajah wajahnya saja kami belum pernah melihat." jawab Akbar.


"kenapa begitu? bukankah kalian sudah lama mondok di pesantren ini?"


"betul kak, tapi memang seperti itu kenyataanya. kami belum pernah bertatap muka dengan santri Puteri."jawab Akbar.


"Abah takut santrinya cinlok kali." celetuk Thoriq.


"Apa itu cinlok?" tanya Shin dengan wajah serius.


"Cinta lokasi ha ha ha " Thoriq tertawa terbahak bahak.


Shin dan lainnya ikut tertawa.


"Abah tidak membolehkan kami main ke pondok santri Puteri kak, begitu pula sebaliknya. Abah melarang keras. Kalau misalkan ada santri yang nekat dan ketauan bisa kena hukuman." Abdul menambahkan.


"Hukuman apa yang akan Abah berikan?"


"Menghapal satu surat Alquran yang panjang dalam tempo tiga jam."


"Berat sekali hukumannya."


"Sebenarnya tidak berat sih kak apa lagi bagi orang yang sudah khatam Al-Qur'an."


"Kalau saya jangan kan menghapal, membacanya saja masih mengeja huruf demi huruf."


"Sebenarnya Alquran itu tidak hanya cukup untuk di hapal saja kak, tapi harus di kaji masing masing ayat yang terkandung di dalam setiap surat Alquran lalu maknanya harus di praktek kan dalam kehidupan kita sehari hari. Alquran itu merupakan pedoman utama umat Islam dan apa pun tentang hukum Islam ada dalam Alquran. Jadi yang lebih berat itu sebenarnya mengkaji nya kak, bukan menghapal. sebab, anak yang baru berumur tiga tahun saja bisa menghapal tapi masalahnya anak tersebut mengerti tidak sama isi atau makna yang dia hapal. Tidak sedikit orang yang sudah hapal satu juz tapi mereka berperilaku tidak benar. Itu artinya mereka hanya hafal saja dan tidak menerapkan makna kandungan alquran dalam kehidupan mereka. oleh karena itu mengkaji itu wajib kak jangan hanya sekedar menghapal saja.

__ADS_1


"Ya begitu lah kak, kalau Abdul sudah bersapda. Dia akan berbicara panjang seperti kereta he he."Ledek Thoriq.


Abdul langsung menjitak kecil kepala thoriq.


"It's okey, aku suka sekali dengan penjelasan Abdul. jadi sekarang aku lebih mengerti lagi tentang kitab suci Alquran.


"Mungkin Abah memiliki alasan sendiri atau Abah tidak mau terjadi hal hal buruk terjadi di pesantren ini." Akbar menimpali.


"Maksudmu hal hal buruk seperti apa?"


"Ya seperti menjalin hubungan tanpa ikatan pernikahan seperti pacaran. karena sebenarnya pacaran itu di larang dalam Islam."


"kenapa?"


"Aku bingung untuk menjelaskannya kak." jawab Akbar sambil menggaruk tengkuknya lalu tersenyum nyengir.


"kakak tanyakan saja nanti sama Abah apa hukum pacaran dalam Islam. Sebab, kami ini masih kecil kak, umur kami saja masih di bawah lima belas tahun. ya meskipun kami sudah baligh ha ha ha." Abdul menimpali lalu tertawa keras.


Shin ikut tertawa.


"Oya kak, kak Shin sendiri apa punya pacar?"tanya Abdul.


"memangnya kenapa?"


"Saya sarankan cepat lah nikahi pacarnya agar terhindar dari perbuatan zina."


"Apa itu zina?"


"perbuatan yang sangat di tentang oleh Allah kak. Zina sendiri ada tiga macam. Al laman, zina muhsan dan zina gairu muhsan."


"Apa maksud dari ke tiga itu?" Shin semakin penasaran.


"Kalau zina Al laman di lakukan oleh panca indera kak, seperti mata. kakak memperhatikan wanita yang bukan muhrim kakak itu sudah termasuk zina. terus, kakak menyentuh kulit wanita yang bukan muhrim kakak juga itu dinamakan zina. Kemudian kalau zina muhsam ini. misal, kak Shin sudah memiliki seorang istri lalu menjalin hubungan dengan wanita yang sudah memiliki suami. nah, itu di sebut Zina muhsam. Dan selanjutnya zina gairu muhsan. Zina ini di lakukan oleh dua pasang pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan sah di mata Allah. Contohnya, maaf ya kak, misalkan kak Shin memiliki pacar lalu kakak melakukan hubungan badan dengan pacar kakak. Nah, itu yang di sebut Zina gairu muhsan."


"Wah, Dul. pemikiran mu tua banget padahal umurmu baru empat belas tahun." Ledek Thoriq.


"Ilmu pengetahuan seperti ini harus dipelajari dari kecil Thor, sebagai pedoman aja biar ngga salah jalur."


" Lantas apa hukum semua Zina itu?"


"Dosa besar kak."


Deg


Shin terpaku. Dadanya terasa sesak seketika. Tentu saja Shin pernah melakukan dosa besar itu dan ia sangat menyesal atas apa yang pernah ia lakukan.


"kak, kak Shin...!" panggil Abdul.


Shin yang menghentikan langkahnya dan melamun di tengah jalan terperangah.


"oh ya, maaf."


"maaf lho kak, bukan maksud ku untuk bicara sok pintar. tapi....!"


"oh tidak, kau benar. ini merupakan ilmu untuk aku ketahui juga. thanks little bro."


Berjalan di selingi obrolan serta candaan membuat mereka tak merasakan capek atau letih setelah bekerja seharian di kebun.


"Kak Shin saja dulu yang mandi," titah akbar


Shin tersenyum,"terima kasih."

__ADS_1


Setelah mereka mandi dan menjalankan sholat ashar berjamaah di masjid pondok putera, ke empat pria beda umur itu berjalan kaki menuju pasar.


__ADS_2