
Kedua mata Ai berbinar terang, dia tampak lebih ceria dari sebelumnya. Bahkan kedua pipinya mulai memerah seperti nama lengkapnya, Aishi Humaira. Anak yang selalu mencintai dan dicintai dengan pipi yang mudah memerah terang.
"Apa Bunda tidak berbohong?" Tanyanya dengan sinar harapan di kedua matanya.
Safira tersenyum manis, mengecup pipi terang Ai dan memeluknya erat. Anak ini begitu rapuh dan mudah dibujuk, dia juga selalu membuat Safira khawatir karena hatinya yang rapuh.
Jadi, bagaimana mungkin dia tidak jatuh hati kepadanya?
Memilikinya adalah takdir yang Allah inginkan dan Safira juga menerimanya dengan tulus. Dari malam pertama kali dia bertemu dengannya, Safira sudah bertekad untuk membesarkannya dan tekad ini masih sama sampai dengan hari ini.
"Kenapa Bunda harus berbohong? Ai dan si kembar adalah buah hati Bunda, kekurangan salah satu diantara kalian akan membuat Bunda jatuh sakit." Katanya diselingi tawa, padahal ini benar adanya.
"Bahkan.. sekalipun Ai lahir cacat?" Tanya Ai masih berharap.
Mendengar ini tawa Safira segera menghilang. Dia menatap wajah Ai dengan tatapan menilai namun tidak setajam biasanya.
__ADS_1
"Siapa yang bilang anak Bunda lahir cacat? Tidak, Ai adalah mahluk Allah yang spesial. Ai tidak cacat tapi spesial. Keberadaan Ai sangat langka di dunia ini dan sangat istimewa." Kata Safira menegaskan.
Ai sangat senang, wajahnya kian merah dan senyum di wajahnya terbentuk begitu manis.
Ini adalah tampilan Ai yang sangat Safira sukai. Karena senyuman ini menunjukkan bila Ai bahagia dan merasa tenang.
"Nak, jujurlah kepada Bunda. Apa ada seseorang yang mengatakan bila Ai cacat atau semacamnya?" Ai tidak mungkin mengungkitnya bila seseorang tidak pernah melontarkan kata-kata kejam itu.
Ai masih tersenyum, rasa sakitnya di sekolah tadi pagi segera sirna digantikan dengan suasana hati yang manis. Cukup baginya mendengar pengakuan Safira, selain itu dia tidak akan perduli.
"Tidak ada, Bunda. Tidak ada yang pernah mengatakannya." Bohong Ai.
Senyuman Ai agak membeku, mungkin dia tidak pernah menduga Safira akan mengangkat pertanyaan ini.
"Di sekolah juga tidak ada. Teman-teman di kelas baik dan guru Ai juga baik." Dia berbohong lagi.
__ADS_1
Tapi sayang, Safira sudah melihat kejanggalannya dan diam-diam mencatatnya di dalam hati.
"Baguslah, Bunda senang mendengarnya. Namun, lain kali bila ada masalah di sekolah atau di manapun itu tolong jangan ragu mengatakannya kepada Bunda dan Ayah, oke?" Meskipun begitu Safira tetap menasehatinya.
Ai dengan semangat menganggukkan kepalanya. Dia patuh mendengarkan tapi tidak bisa menjalankannya karena..dia takut Safira sedih bila tahu tentang hal-hal yang terjadi di sekolah tadi pagi.
Setelah pembicaraan mereka berjalan lancar, Safira dan Ai melanjutkan obrolan ringan mereka sembari membersihkan dan menyiram taman. Bagi Ai, sore ini sangat manis karena pikirannya sudah tercerahkan bila Safira selalu menjadikannya nomor satu dihati. Bahkan, dia dan si kembar sama di mata Safira sekalipun dia bukanlah anak kandung Safira.
Rasanya jelas sangat hangat, dia berdoa di dalam hatinya agar Allah tidak akan pernah meninggalkannya. Apalagi sampai membuat orang-orang yang dia sayangi pergi, sungguh..Ai tidak ingin merasakan hidup dalam bayang-bayang kesepian lagi.
...🍚🍚🍚...
Besoknya di sekolah, Ai sedang istirahat di dalam kelas dan mengeluarkan kotak makan siang yang Safira siapkan untuknya. Semua makanan yang ada di dalam kotak bekal itu adalah makanan kesukaan Ai yang tidak pedas juga tidak manis.
Ada juga dessert box coklat susu buatan Ali semalam. Ini sangat enak dan menggunggah selera makan Ai.
__ADS_1
"Ai, apa aku boleh makan bersama mu?" Gadis keriting yang membela Ai kemarin mendatangi meja belajar Ai sembari membawa kotak bekalnya.
Dia tampak malu mendekati Ai.