Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Shin meminang Norin


__ADS_3

Shin menatap layar ponselnya tanpa kedip. sesekali ia mengusap layar itu dengan lembut lalu tersenyum.


"Aku tidak menyangka di akhir pencarian ku, aku menemukanmu di pondok ini bidadari ku... Sebuah tempat dimana kita sama sama menuntut ilmu. Apa...apa Allah memang sudah menunjukan jalannya seperti ini?"


"Ehem..yang punya bidadari.....!"


"Kau Dul, mengagetkanku saja."


"ha ha ha padahal aku dari tadi berdiri di belakangmu kak."


"kamu menguping omonganku?"


"tidak menguping kak, tapi tidak sengaja mendengar he he."


"Sama saja Dul. Lantas apa yang kau sudah dengar?"


"Apa perlu aku praktek kan kak?"


"Ah, tidak usah."


"Kalau aku mendengar cerita kak Shin bagaimana hubungan kalian, kesalahan itu memang terdapat di diri ka shin sendiri sih. tidak salah dong kak Inay mengajak ke arah hubungan yang sudah pasti akan di ridhoi oleh Allah tapi kak Shin menolaknya."


"Itu lah bodohnya aku Dul. dan sekarang dia menjauhiku."


"Satu satunya cara agar tidak lepas lagi ya harus di ikat dengan kuat kak. Apa tidak sebaiknya kak Shin langsung melamar ka Inay saja? seperti yang kak Inay inginkan dulu?"


"Melamar? aku....aku takut dia menolak ku Dul. Aku takut di masih membenciku atas apa yang pernah aku lakukan padanya."


"Apa salah nya mencoba kan kak? kita tidak akan tau bagaimana hasilnya jika tidak mencoba dulu."


Shin manggut manggut kecil mendengar saran teman kecilnya tapi pemikirannya lebih dewasa dari usianya.


"Apa...apa aku ikuti saran Abdul untuk segera melamarnya saja? sungguh, aku sudah tidak kuat menahan perasaan ini. tapi bagaimana jika dia menolak ku? Rasanya aku tidak sanggup menerima penolakannya."


Sepanjang malam Shin tidak bisa tidur. Ia gelisah memikirkan bagaimana cara mengikat belahan jiwanya agar tidak terlepas lagi dari dirinya.


Keesokan harinya Shin memberanikan diri untuk menemui Abah di kediamannya dan akan menceritakan permasalahan yang sedang ia alami.


"Bismillah......!"


Shin mengetuk pintu dan mengucap salam. Tak lama umi Husna membukanya.


"Wa'alaikum salam nak Shin."


"Maaf umi, saya sudah mengganggu pagi pagi. Apa Abah nya ada umi?"


"Tidak mengganggu nak Shin. Abah ada tapi sedang sholat Dhuha. Apa nak Shin mau menunggunya?"


"Iya umi, saya tunggu di teras saja."


"Ya sudah kalau begitu saya masuk dulu ya?"


"Iya umi silahkan."


Shin duduk di kursi yang di sediakan di teras rumah asri Abah Ahmad. Sudah lima belas menit berlalu namun Abah belum keluar juga dari rumahnya. Dengan sabar Shin menunggunya sambil memikirkan kata kata yang tepat untuk ia katakan nanti pada Abah.


ceklek


Sosok Abah akhirnya keluar setelah Shin menunggunya tak lebih dari tiga puluh menit. Abah menoleh ke arah Shin sambil menyunggingkan senyum begitu pula dengan Shin. Shin langsung berdiri dan menyalimi nya.

__ADS_1


"Kata umi nak Shin ada keperluan dengan saya apa itu benar?"


"Be benar bah," tiba tiba Shin menjadi gugup.


"Ya sudah, kita bicara di dalam saja. Mari nak Shin."


Shin mengangguk lalu mengekor di belakang Abah.


"Silahkan duduk nak." Abah mempersilahkan Shin untuk duduk di sebuah sofa dan Shin mengikuti perintahnya.


"Ada keperluan apa ya nak Shin?"


Shin menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan untuk menghilangkan rasa gugup yang mulai mendera dirinya.


"A...apa....saya boleh..... meminang sa...salah satu...santri Puteri Abah?" tanya Shin dengan terbata bata karena gugup.


Abah mengerutkan dahinya dan menelisik wajah Shin yang sedang menunduk. Ia heran kenapa pemuda asing di hadapannya memiliki keinginan untuk menikahi salah satu santrinya padahal ia sendiri baru satu setengah bulan berada di pesantren.


"Apa nak Shin serius dengan permintaan nak Shin ini?"


"sa saya sangat serius bah."


"Kalau saya boleh tau, siapa santri yang ingin nak Shin pinang?"


" I...Inay bah," jawab Shin sambil menunduk. Ia tidak berani menatap wajah Abah.


"Inay....?"Abah sedikit membesarkan matanya mendengar siapa yang ingin dipersunting pemuda ini.


Shin mengangguk.


"Nak Shin..ingin melamar keponakan saya?"


"Iya, Inay adalah anak dari adik saya."


Shin terbengong. Ia tidak menyangka Inay adalah keponakan gurunya sendiri.


"Saya...meskipun saya ini pamannya namun saya tidak berhak memutuskan sebuah keputusan sendiri. Jadi pinangan nak Shin ini akan saya sampaikan terlebih dahulu pada orang tua nya serta Inay nya sendiri. Jadi mereka lah yang lebih berhak mengambil keputusan di terima atau tidaknya pinangan nak Shin ini."


Shin mengangguk," sa saya mengerti bah."


"Tapi....ada satu hal yang nak Shin harus ketahui tentang Inay agar nak Shin tidak menyesal di kemudian hari dan nak Shin bisa berpikir ulang bagai mana baik dan buruknya untuk melanjutkan atau tidak lamaran nak Shin ini."


" a apa itu bah?"


"Inay.....sudah terenggut kesuciannya sebagai seorang gadis."


Seketika Shin tertegun.


"Hampir tiga bulan yang lalu Inay datang kemari. Dia mengadukan nasibnya pada kami atas apa yang sudah menimpa pada dirinya di kota. Seseorang telah merenggutnya dengan paksa. Saya sebagai pamannya tentu saja merasa sedih salah satu keponakan saya di perlakukan seperti itu."


Air mata Shin mulai tumpah. Ia merendahkan dirinya di bawah kaki Abah. Abah terheran mendapati Shin yang bersimpuh di kakinya sambil menangis tergugu.


"Nak Shin kenapa menangis seperti ini? ayok bangun." ucap Abah sambil mengguncang kedua bahunya.


"Saya tidak akan bangun sebelum Abah memaafkan saya."


"Apa maksud kamu nak? memaafkan bagaimana?"


"Dosa saya sangat besar bah, saya tidak tau apakah Allah akan mengampuni dosa dosa saya. Di hadapan Abah saya ingin mengakui bahwa saya lah pria brengsek yang sudah merenggut kehormatan Norin." Dengan bibir bergetar Shin mengakui atas perbuatanya pada Norin.

__ADS_1


Abah terdiam.


"Saya ini pria egois dan brengsek bah, saya mencintai Norin tapi saya egois hingga merusaknya. Mungkin Allah tidak akan mengampuni dosa besar saya ini. tapi saya mohon ampunan dari Abah serta dari keluarga Norin atas perbuatan saya. Saya ingin bertanggung jawab bah, saya ingin menikahinya."


Abah masih terdiam.


"Selama ini saya mencari dimana keberadaan Norin? berbagai upaya sudah saya lakukan tapi tidak membuahkan hasil. di tengah ke putusasaan saya mencarinya, saya bertemu dengan pak Ali di sebuah masjid saat saya sedang mencari ketenangan jiwa dan pikiran saya hingga beliau mengajak saya ke pesantren ini. Dan kemarin tanpa sengaja saya melihat Norin ketika kami di pasar untuk membeli pompa air. saya bersyukur wanita yang sangat saya cintai dan sekaligus saya sakiti hatinya dalam ke adaan baik baik saja."


"Bangun lah nak, bangun."


"Sa saya tidak mau bangun sebelum Abah memaafkan kesalahan saya."


"Saya ini hanya manusia biasa bukan allah jadi saya tidak ada hak untuk menghakimi mu. Manusia memang tak pernah bisa luput dari sebuah kesalahan atau dosa baik kecil maupun dosa besar. Nak Shin sudah mengakui kesalahan saja saya sudah senang mendengarnya. tinggal nak Shin memohon ampunan pada Allah."


Shin mendongak kan wajahnya."Apa Abah sudah memaafkan kesalahan saya?"


Abah mengangguk." tentu saja."


Dengan cepat Shin mengusap wajahnya yang sudah penuh air mata lalu tersenyum." terima kasih bah, terima kasih."


Abah tidak mungkin memarahi atau menghukum pria yang sudah merusak masa depan keponakannya. Abah tahu bahwa Shin lahir sebagai atheis dan tentu saja ia tumbuh tanpa di bekali norma agama oleh orang tuanya. Wajar saja jika Shin berbuat demikian karena ia tidak pernah tau apa itu dosa. Abah salut pada Shin, dengan jantan ia mengakui kesalahan besarnya pada dirinya.


Shin kembali duduk di atas sofa namun wajahnya ia tundukan karena shin masih merasa malu pada Abah.


"Jadi apa lamaran nak Shin itu sungguh sungguh?"


Shin mendongak." demi Allah saya bersungguh sungguh bah. saya ingin menjadikan Norin sebagai pasangan halal


saya serta menjadikan ibu dari keturunan saya." ucap Shin dengan tegas.


Abah tersenyum." Tapi keputusan tetap ada di tangan Inay ya nak Shin. jadi jika nanti apapun keputusannya nak Shin harus ikhlas."


Shin memejamkan matanya rasanya ia tidak sanggup jika Norin menolaknya. Tapi shin ingat kembali bahwa jodoh, maut serta Rizki sudah di tentukan oleh Allah. Shin hanya akan memohon doa pada Allah semoga Allah mendekatkan jodohnya dengan wanita yang selama ini ia cintai. Tapi jika Allah tidak menghendaki dirinya tidak berjodoh dengannya Shin harus mengikhlaskannya.


Shin mengangguk." Inshaallah bah."


Shin kembali ke pondok setelah mengutarakan niatnya pada Abah. Ada sedikit kelegaan di hatinya dan banyak ke khawatiran di dirinya. Shin merasa lega sudah mengutarakan niatnya sekaligus mengakui kesalahannya dan Shin khawatir Norin akan menolak nya mentah mentah.


"Bah.....!"


Abah menoleh ke arah istrinya yang sedang berjalan ke arahnya. Umi duduk di samping suaminya.


"Umi sudah mendengar semuanya tentang pria asing tadi bah."


"Namanya Shin umi."


"Iya umi tau bah. Dia pria yang sudah merusak Inay."


"Dia sudah bertobat dan mengakui kesalahannya Umi. Kita tidak boleh menghakiminya karena manusia tidak luput dari salah dan dosa. karena diri kita sendiri pun belum tentu dianggap manusia bersih di mata Allah."


Umi menghela nafas."Kasian sama Inay ya bah. Apa yang akan Abah lakukan selanjutnya?"


"Hubungi Aminah bahwa ada pria yang meminang Inay tapi jangan pernah cerita tentang ujian yang menimpa Inay. Cukup bilang ada yang meminang saja."


"Iya bah."


"Oya, setelah Dzuhur nanti tolong suruh Inay menghadap Abah ya umi."


"baik Abah."

__ADS_1


__ADS_2