
"Aku tahu...hei, ayolah cepat beli amplopnya. Aku takut kita tidak bisa menemukan Kak Kevin apalagi sempat mengirimkannya surat itu." Mega mendorong bahu Asri pergi.
Asri cemberut.
"Kecilkan suaramu! Aku tidak mau ada orang tahu!" Peringat Asri panik.
Hei, yang memberikan surat kepada Kevin bukan hanya dia seorang tapi banyak! Banyak, okay!
Dia tidak mau bila bertemu dengan saingan cintanya di sini, meskipun yah, mereka tidak akan bertengkar seperti yang ada di dalam drama tapi tetap saja itu tidak menyenangkan.
"Ops.." Mega segera menutup mulutnya.
"Pergilah, kami akan menunggu di sini." Ujar Ai di samping.
Asri tidak membuang waktu lagi. Dia segera pergi menghampiri senior itu. Mengucapkan beberapa kata lalu senior itu memberikannya amplop berwarna merah muda dan Asri balas memberikannya uang Rp. 2000. Ini adalah harga yang ditetapkan oleh senior itu karena dia harus membeli kertas dan membuat amplop yang cantik semalaman. Bahkan ada juga hiasan cantik yang ditempelkan di atas amplop sehingga warna dan bentuknya jauh lebih menarik.
"Syukron, Kak."
Setelah itu Asri pergi membawa amplop merah muda di tangan.
"Kenapa harus warna ini?" Tanya Mega tidak terlalu suka.
Asri menjawab dengan ramahnya.
"Karena warna ini menunjukkan niat hatiku."
Mega tidak memberikan komentar apapun lagi sementara Ai tidak pernah mempermasalahkan warna apapun yang Asri ambil.
Kemudian mereka mencari tempat yang paling aman untuk menulis surat. Lebih tepatnya hanya Asri yang mulai menulis karena Ai dan Mega hanya diam mengamati proses penulisan surat. Sepanjang menulis Asri beberapa kali akan menghentikan gerakan tangannya, kepalanya terangkat ke atas menatap langit-langit perpustakaan yang tidak menarik. Beberapa detik menatap langit-langit perpustakaan, dia kembali menunduk untuk menulis lagi. Proses ini terus-menerus berulang sampai akhirnya Asri selesai menulis.
"Kamu hanya menulis sedikit tapi kenapa waktu yang kamu habiskan hampir setengah jam?" Kata Mega lebih kepada heran.
__ADS_1
Dia sempat mengintip surat Asri tadi dan itu cukup singkat, tidak sepanjang yang Mega bayangkan.
"Yang aku tulis ini adalah urusan hati bukan curhatan emak-emak kalau lagi ngomongin tetangga." Asri melipat suratnya dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam amplop.
"Kalian..hah... berhentilah berdebat." Ujar Ai tidak berdaya.
"Aku juga gak mau, Ai, tapi mukanya Asri terlalu ngeselin."
Asri membela diri,"Bukannya muka aku yang ngeselin tapi hati kamu yang terlalu kotor."
Ai kian tidak berdaya,"Kalian-"
"Becanda, Ai! Walaupun muka Asri ngeselin bin menjengkelkan tapi dia adalah sahabat kita." Mega merangkul Asri sok akrab.
Asri juga bekerjasama dengan sangat baik. Dia membalas rangkulan Mega.
"Iya, Ai. Walaupun hatinya kotor tapi dia tetaplah sahabat kita di dunia ini dan di surga Allah."
"Pergi sekarang?" Tanya Ai setelah menenangkan diri.
Asri mengambil nafas panjang, ia tidak bisa menampik perasaan gugup yang mulai memenuhi hatinya. Bahkan jantungnya saat ini berdebar sangat kencang dan kedua tangannya mulai berkeringat dingin. Ia ragu tapi tetap ingin melangkah.
"Bismillah, pergi." Dia mengambil keputusan.
Kemudian mereka bertiga keluar dari perpustakaan. Berjalan ringan menuju sawah tempat terakhir kali mereka melihat Kevin tadi. Tapi begitu sampai di sana mereka tidak menemukan Kevin lagi.
Mereka kebingungan, melihat kesana kemari untuk mencari penampakan Kevin tapi masih tidak membuahkan hasil.
"Dia sudah pergi." Kata Ai sebenarnya agak kecewa.
Padahal dia ingin sekali melihat Asri bertemu dengan Kevin, memberikan surat itu lalu berlari sekuat tenaga menuju ke asrama.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku bisa memberikan surat ini jika ada kesempatan bertemu lagi." Asri masih bisa tersenyum meskipun dia sendiri lebih kecwa dari Ai.
"Benar, jangan putus semangat. Kamu masih punya banyak kesempatan untuk memberikan surat ini kepadanya. Bisa jadi nanti sore Allah memberikan kita kesempatan untuk bertemu?" Mega juga menyemangati.
Asri tidak patah semangat. Tentu saja, mereka punya banyak kesempatan untuk bertemu lagi karena itulah dia tidak terlalu khawatir.
"Yah. Jadi, apa kita akan langsung kembali ke asrama?" Tanya Asri sudah tidak gugup lagi.
Dia menjadi lebih santai dan tenang.
Mega langsung menolak ide ini.
"Jangan, ini adalah hari libur jadi kenapa kita tidak pergi bermain saja di sungai? Aku dengar banyak santri yang pergi menangkap ikan di sana dan aku juga mendengar bila saat ini ada panen kangkung!"
Ini adalah ide yang bagus. Ai dan Asri langsung setuju karena mereka jarang sekali bermain di sungai. Di samping itu mereka juga penasaran bagaimana cara orang memetik kangkung, yah, kecuali Asri, mereka berdua tidak tahu.
Jadi, kenapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk memperluas ilmu?
"Kangkung hidup di tempat yang berlumpur jadi kalian mungkin tidak akan tahan melihatnya nanti." Kata Asri menjelaskan.
Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju sungai.
"Aku tahu, tapi apakah orang perlu turun untuk memetiknya?" Ai memang tidak suka lumpur tapi bukan berarti dia membencinya.
"Tentu saja, jika tidak menurut kalian bagaimana cara memetik kangkung bila tidak turun langsung?"
Asri tahu Mega dan Ai tidak terlalu menyukai ide untuk menyentuh lumpur. Apalagi, saat ini cuaca sangat panas dan bisa merusak perawatan kulit yang sudah dengan susah payah mereka jaga.
"Yah apapun itu, kita di sana hanya melihat bukan pergi memetik apalagi berenang." Ucap Mega enteng.
Bersambung..
__ADS_1
Assalamualaikum, My Boss, My (Ex) Boyfriend dan Dear Vano sudah di publish yah. Silakan berkunjung, insha Allah ceritanya gak ada unsur-unsur 18+ kok🍃