Aku Bukan Perawan Tua

Aku Bukan Perawan Tua
Perpisahan dengan Nathan


__ADS_3

Pagi yang cerah, aku sudah berada di Bandung lagi. Hari ini aku akan kerumah Nathan, ada banyak yang ingin ku sampaikan kepada nya.


Tibalah aku dirumah Nathan.


Disambut Bi Asih.


"Ya Allah Neng, koq baru kesini lagi? Bibi jadi sedih waktu denger Neng batal lamaran sama Tuan, maaf yaa Bibi waktu itu gak datang dan gak bisa nguatin Neng."ucap Bibi didepan pintu rumah


"Gak apa-apa Bi, aku baru kesini karena Bapakku meninggal dunia Bi, ketika hari Lamaran itu batal, yaa cerita nya panjang Bi."ucapku


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, Bibi turut berdukacita yaa Neng, maaf Bibi nggak tahu bahkan Tuan juga sama, seminggu ini murung banget, kasian Neng, diancam nggak boleh nemuin Neng."ucap Bibi


"Iyaa Bi, namanya juga takdir, kita nggak pernah tahu dan nggak bisa mengelak. Bi, aku izin masuk yaa, aku mau beresin barang-barang aku."ucapku


"Silakan Neng, emang Neng mau kemana?."tanya Bibi


"Aku mau pulang ke Bogor dan nggak balik lagi."ucapku sedih


"Ya Allah Neng, koq Bibi sedih yaa."ucapnya


Aku hanya tersenyum pada Bibi.


Lalu aku masuk kedalam bersama Bi Asih.


Aku membereskan barang-barang ku. Dan menunggu Nathan pulang, aku sudah mengabari nya akan kesini.


Tiba-tiba suara mobil datang.


"Neng kayaknya itu Tuan udah pulang."ucap Bibi


"Oh iyaa Bi, aku akan menemui nya."ucapku membawa tas


Lalu aku menunggu diruang tamu.


"Nad."ucap Nathan menghampiri ku dan duduk

__ADS_1


Dia hendak memelukku namun ku tolak.


"Maaf Pak, kedatangan saya kesini untuk pamit dan berterimakasih pada Bapak, maaf selama ini sudah menyusahkan."ucapku


"Lho Nad, kamu koq berubah gini, kamu marah sama aku?."tanyanya


"Nggak, mana mungkin saya marah dengan Bapak, kan Bapak nggak salah, lagian saya banyak berhutang Budi pada Bapak. Lebih baik Bapak jauhi saya, karena Orang tua Bapak pasti nggak suka."ucapku


"Nad, aku sedih melihat kamu begini, maafin keluarga aku yaa, maaf juga aku waktu itu nggak bisa berbuat apa-apa."ucapnya


"Iyaa harus nya keluarga kamu puas karena Bapak saya sudah meninggal."ucapku menangis


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, kamu serius Nad, kapan?."tanyanya


"Saat kalian pulang Bapak tiba-tiba terkena serangan jantung dan nyawanya sudah tidak terselamatkan. Sekarang yang jadi pertanyaan saya pada Bapak Nathan adalah apa Bapak sungguh-sungguh mencintai saya? koq Bapak tega ninggalin saya di hari lamaran dan nggak berusaha untuk kabur."tanyaku sedih


"Nad, tolong jangan marah sama aku, aku cinta sama kamu, tapi saat itu aku nggak bisa kabur dari orang tua ku, karena mereka mengancam ku."ucapnya


"Baiklah Pak, dengan jawaban Bapak seperti ini membuat saya yakin bahwa Bapak belum benar-benar mencintai saya, mungkin Bapak mau menikahi saya karena kasihan kan? karena Bapak sama sekali nggak membuktikan rasa cinta Bapak kesaya."ucapku sedih


"Sudah aku duga Pak, Bapak nggak percaya dengan apa yang Bapakku katakan, pantas saja Bapak tidak membantu kami saat itu. Baiklah saya tidak memaksa Bapak untuk percaya, tapi suatu saat akan saya buktikan jika ucapan Bapak saya benar."ucapku


"Nad, tolong kasih waktu aku untuk menyelidiki ini semua, aku bukan nggak percaya, cuma aku butuh bukti untuk meyakinkan segala hal, jika memang Papahku terlibat dalam kejahatan itu, aku yang akan mengantarkan beliau ke penjara."ucapnya


"Sudahlah Pak, saya kesini tidak ingin berdebat, saya hanya ingin pamit dari rumah ini dan dari Kafe, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak dan maaf atas semua ucapan maupun perbuatan saya selama Bapak mengenal saya."ucapku lalu berdiri


"Nad, jangan pergi, lebih baik kamu dan keluarga mu tinggal disini bersamaku."ucapnya menahan ku


"Tidak terima kasih, sudah cukup saya merepotkan Bapak, kalau gitu saya permisi."ucapku hendak meninggalkan Nathan


Lalu Nathan memelukku dari belakang.


"Please, jangan pergi Nad, kamu kasih aku 1 kesempatan lagi, aku janji akan bikin kamu bahagia."ucapnya


Tiba-tiba Mamah Nathan datang bersama seorang perempuan cantik berambut pendek.

__ADS_1


"Nathan, apa-apaan kamu?."ucap Tante


Nathan lalu melepaskan pelukan itu.


Nathan pun berdiri disampingku.


"Aku hanya menahan Nadia Mah, agar dia nggak pergi."ucap Nathan


"Nggak usah, biarin perempuan rendahan itu pergi, jangan kamu tahan dia. Lebih baik kamu kenalan dengan gadis berkelas disamping mamah, namanya Raisa, dia anak temen mamah yang pejabat itu lho."ucap Tante memandang ku sinis


"Yasudah kalau gitu saya permisi pamit."ucapku


Lalu tangan ku ditahan oleh Nathan.


"Nad, jangan pergi dulu, aku nggak mau kamu pergi."ucapnya


"Sudahlah Pak, ada perempuan cantik disamping Ibumu, lebih baik kamu kenalan sama dia, dia lebih cocok denganmu dari pada dengan saya."ucapku lalu menepis tangannya


"Tuh dengerin , dia mau pergi, yaa biarin aja dia pergi, lagian Mamah gak akan setuju kamu sama perempuan miskin dan anak dari koruptor. Ih gak sudi banget."ucap Tante


"Maaf Tan, kalau Tante nggak suka sama saya nggak apa-apa, tapi jangan bawa-bawa orang tua saya, lagi pula Bapak saya bukan koruptor, yang ada suami Tante pembunuh, bahkan sekarang Bapak saya meninggal karena ulah kalian."ucapku kesal dan sedih


"Oh Bapakmu mati, baguslah ! tukang fitnah dan koruptor memang pantas mati ."ucap Tante tertawa


"Mah, sudah cukup, jangan bersikap seperti itu, Nathan gak suka."ucap Nathan


"Sudah, sudah lebih baik kita bicarakan masalah pernikahan kamu dengan Raisa, rencananya bulan ini, jadi yuk duduk, abaikan aja perempuan rendahan itu."ucap Tante


"Saya permisi, selamat untuk rencana kamu, semoga bahagia."ucapku pada Nathan lalu aku berlari keluar


"Nadia tunggu."ucap Nathan lalu dihalangi Ibunya


Lalu aku buru-buru naik kendaraan umum, aku berencana pergi ke Kafe dan kerumah Satrio, aku ingin pamit. Karena ini hari terakhir ku berada di Bandung.


Lalu aku sampai di Kafe, aku berpamitan pada semua pegawai di Kafe, terutama pada Siska. Aku berpelukan dengannya, aku mengucapkan banyak terimakasih dan aku pamit.

__ADS_1


Setelah dari Kafe aku kerumah Satrio, namun aku melihat Om Heru seperti terburu-buru pergi ke suatu tempat. Karena penasaran aku mengikuti nya dengan naik ojek dan pakai helm. Agar Om tidak tahu. Aku penasaran kenapa Om kelihatan buru-buru dan panik sekali, siapa tahu aku mendapatkan kabar baru tentang Satrio.


__ADS_2