
"Tapi aku sungguh tidak berbohong." Tiara menjelaskan dengan malu, wajahnya kini lebih pucat.
"Lalu apa aku yang berbohong?" Tanya Sasa lagi.
"Bukti, jika kamu ingin melihat bukti maka temui dokter di ruang medis. Dia akan menjawab dengan jujur semua kesaksian ku."
Sasa menggelengkan kepalanya tidak berdaya, dia mengambil kitab yang dia baca tadi ingin membawanya ke tempat lain untuk lanjut membaca. Namun, sebelum dia benar-benar pergi dia mengatakan sesuatu kepada mereka berdua-ah, lebih tepatnya kata-kata itu dia arahkan kepada Tiara yang masih kukuh menganggap dirinya tidak berbohong meskipun sudah jelas-jelas dia berbohong.
"Tiara, jangan membuat masalah. Ini demi kebaikan dirimu sendiri di masa depan." Setelah mengatakan itu dia pergi tanpa melihat ke belakang.
Setelah melihat keseriusan Sasa tadi Almaira mulai enggan melanjutkan topik pembicaraannya tentang Ai. Ini bukan berarti dia meragukan Tiara tapi ini karena dia mempercayai Sasa. Fakta bahwa dia bisa berdiri di posisi ini adalah bukti yang paling jelas bahwa sikap dan kata-kata Sasa bukanlah omong kosong semata.
"Aku akan ke perpustakaan dulu menyusul Frida. Apa kamu mau ikut?" Almaira sengaja menggunakan nama Frida sebagai pelarian karena dia tahu Tiara dan Frida sudah berhenti berteman karena masalah yang tidak diketahui.
Tiara tersenyum tipis, dia menggelengkan kepalanya malu bercampur canggung di depan Almaira.
"Tidak, pergilah. Aku ingin sendirian dulu." Katanya canggung.
Almaira mengangguk ringan, dia segera berdiri ingin kembali keluar tapi langkahnya segera terhenti ketika mendengar panggilan Tiara.
__ADS_1
"Almaira?"
"Ya, Tiara?" Suaranya sangat lembut dan kembali bernada ceria seperti biasanya.
Tiara mengusap lehernya malu.
"Aku dengar tadi kamu mengatakan jika Ustad Vano akan segera kembali. Apa itu benar dan kapan dia akan kembali?".
Almaira memicingkan matanya curigai,"Sebentar lagi. Kapan waktunya aku tidak tahu persisnya kapan."
Jawab Almaira tidak ingin memberitahu. Itu adalah rahasianya dan tidak ada seorangpun yang boleh mengetahuinya.
Almaira tersenyum.
"Semua orang juga merindukannya jadi bersabarlah, jika sudah waktunya mereka pasti pulang."
Setelah itu dia mengucapkan salam, berjalan keluar untuk menghindari Tiara dan mencari Sasa yang pergi entah kemana. Setelah dipikir-pikir lagi dia harusnya tidak terlalu mudah terpancing emosi hanya karena cerita satu sisi. Apalagi ketika melihat nada bicara Tiara yang agak mencurigakan Almaira pikir dia harus mulai menjaga jarak darinya.
"Mungkinkah Tiara menyukai Ustad Vano?" Dia tidak rela ketika memikirkan ada satu lagi gadis yang menginginkan pujaan hatinya.
__ADS_1
"Nah, itu Sasa-eh, dia berbicara dengan siapa?" Dia melihat Sasa berbicara dengan seorang gadis, mungkin junior mereka dari tahun kedua karena Almaira juga pernah melihat gadis itu berbicara dengan Ustad Azam.
Jika diperhatikan dari dekat sejujurnya gadis itu dan Sasa agak mirip. Hanya saja itu hanya sedikit dan tidak terlalu jelas jadi orang lain akan sulit mempertahankannya.
"Aku harus menemuinya." Dia berjalan perlahan mendekati Sasa yang masih berbicara dengan gadis itu.
Di sepanjang lorong menuju Sasa, dia berpapasan dengan banyak santri baru atau sepantarannya. Mereka saling menyapa, saling melemparkan senyuman ramah dan bahkan ada juga beberapa orang yang menyita waktu berharga Almaira. Mengajaknya berbicara sebentar sampai gadis yang berbicara dengan Sasa tadi pergi.
"Padahal aku ingin tahu siapa gadis itu." Bisiknya tidak puas.
Bersambung..
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semalam sebenarnya mau up tapi ketika baca beberapa komentar dari Reader akhirnya saya urungkan.
Sudah berkali-kali saya mengatakan bahwa tolong ikuti alur yang saya buat. Saya tidak ingin ada yang mengganggu dunia yang saya imajinasikan, tapi nyatanya banyak yang tidak menerima.
Hah.. saya putuskan untuk memindahkan Mahligai Cinta ke K*M. Katakan selamat tinggal untuk Mahligai Cinta di sini, saya akan up di K*M mulai besok pagi. Sampai jumpai 🤭
Mau protes?
__ADS_1
Silakan, toh kalian juga tidak menghargai apa yang saya tulis 🍁